Pernahkah kita melihat seseorang yang sepanjang hidupnya sibuk mengumpulkan harta, tetapi selalu merasa kekurangan? Rumahnya sudah besar. Kendaraannya lebih dari satu. Tabungannya cukup untuk menghidupi beberapa generasi.
Namun, hatinya belum juga merasa tenang. Ia masih ingin menambah, menumpuk, dan menguasai lebih banyak lagi.
Sebaliknya, ada orang yang hidupnya bersahaja. Rumahnya tidak megah. Penghasilannya tidak berlimpah. Namun, ia ringan tangan ketika tetangganya kesulitan. Ia tidak banyak menghitung saat membantu orang lain.
Baginya, rezeki bukan semata-mata untuk dinikmati sendiri, melainkan juga jalan untuk menghadirkan manfaat bagi sesama.
Dua gambaran itu mengajak kita merenung: apa sebenarnya arti memiliki?
Kita sering menyebut rumah itu milik kita. Tanah itu milik kita. Uang di rekening itu milik kita. Bahkan, jabatan, kedudukan, dan keberhasilan yang kita raih kadang membuat kita merasa berhak atas segala sesuatu.
Kita menggenggamnya erat-erat, seolah-olah semuanya akan tinggal bersama kita selamanya. Padahal, benarkah semua itu benar-benar milik kita?
Allah Taala mengingatkan dalam Al-Qur’an:
وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ أَلَا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
“Ingatlah, sesungguhnya milik Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Yunus: 55)
Ayat ini menegaskan satu kenyataan yang kerap terlupakan: seluruh yang ada di langit dan bumi adalah milik Allah. Kita hanyalah manusia yang diberi kesempatan untuk mengelola sebagian kecil dari milik-Nya.
Harta yang kita kumpulkan bukan sepenuhnya berada dalam kuasa kita. Hari ini kita bisa menikmati kesehatan, tetapi esok belum tentu tubuh kita sanggup berdiri.
Hari ini kita bisa duduk di kursi jabatan, tetapi suatu saat orang lain akan menggantikannya.
Hari ini kita merasa memiliki rumah, tetapi kelak rumah itu akan ditempati orang lain, sementara kita sendiri berbaring di dalam tanah.
Begitulah kehidupan. Kita datang tanpa membawa apa-apa. Kita pergi pun tanpa membawa apa-apa.
Yang membedakan bukan seberapa banyak yang pernah kita genggam, melainkan bagaimana kita memperlakukan apa yang dititipkan kepada kita.
Ketika Titipan Berubah Jadi Keserakahan
Masalahnya, manusia sering lupa batas antara memiliki dan dikuasai oleh apa yang dimiliki.
Keinginan untuk hidup berkecukupan adalah sesuatu yang wajar.
Bekerja keras, membangun usaha, membeli rumah, menyekolahkan anak, dan menyiapkan masa depan merupakan bagian dari ikhtiar. Islam tidak melarang umatnya menjadi kaya.
Yang menjadi persoalan ialah ketika keinginan memiliki membuat kita kehilangan kejujuran, merampas hak orang lain, dan menutup mata terhadap penderitaan sesama.
Ada orang yang tega mengambil hak pekerjanya demi keuntungan lebih besar. Ada yang memanipulasi amanah karena merasa tidak akan ketahuan.
Ada pula yang menghalalkan segala cara untuk mempertahankan kedudukan, seolah-olah jabatan itu adalah milik pribadi yang tidak boleh berpindah tangan.
Mereka lupa, sesuatu yang diperoleh dengan cara yang salah tidak berubah menjadi benar hanya karena berhasil dikuasai.
Lebih dari itu, setiap harta memiliki pertanggungjawaban. Bukan hanya dari mana ia diperoleh, melainkan juga untuk apa ia digunakan.
Uang yang sama bisa menjadi jalan kebaikan ketika dipakai untuk menghidupi keluarga, menyantuni anak yatim, membantu tetangga yang kesulitan, atau membiayai pendidikan.
Namun, uang itu juga bisa menjadi sumber keburukan ketika digunakan untuk menindas, menipu, dan memuaskan keserakahan.
Karena itu, pertanyaan penting dalam hidup bukan sekadar, “Berapa banyak yang sudah saya miliki?” Ada pertanyaan lain yang jauh lebih mendasar: “Sudahkah saya menggunakan titipan Allah sesuai dengan kehendak-Nya?”
Penyesalan yang Datang Terlambat
Bayangkan seseorang yang sepanjang hidupnya menunda sedekah. Ia selalu merasa belum cukup kaya. Ketika penghasilannya meningkat, keinginannya ikut membesar. Ketika hartanya bertambah, standar kenyamanannya pun berubah.
Ia berjanji akan membantu orang lain setelah usahanya berkembang. Ia berniat menyantuni anak yatim ketika tabungannya mencapai jumlah tertentu. Ia ingin lebih banyak beribadah setelah urusan pekerjaannya selesai.
Namun, pekerjaan seolah tidak pernah selesai. Target demi target terus bermunculan. Waktu berjalan tanpa menunggu kesiapannya.
Sampai suatu hari, kesempatan itu benar-benar berakhir. Bukan karena ia tidak pernah memiliki harta, melainkan karena ia tidak lagi memiliki waktu untuk menggunakannya.
Al-Qur’an menggambarkan penyesalan manusia yang berhadapan dengan kematian dalam firman Allah:
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata, ‘Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.’” (QS. Al-Munafiqun: 10)
Perhatikan ayat itu. Ketika kematian datang, manusia tidak meminta tambahan rumah, kendaraan, atau tabungan. Ia memohon tambahan waktu agar bisa bersedekah dan menjadi orang saleh.
Mengapa?
Sebab, pada saat itu, tabir yang selama ini menutupi pandangannya telah tersingkap. Ia menyadari bahwa ada banyak kesempatan yang dahulu dilewatkan.
Ada tangan yang seharusnya bisa ia ulurkan, tetapi tidak jadi. Ada hak orang lain yang semestinya ia tunaikan, tetapi terus ia tunda. Ada kebaikan yang bisa dilakukan ketika masih hidup, tetapi dibiarkan berlalu.
Sayangnya, permohonan itu datang ketika kesempatan beramal telah berakhir. Kita yang masih hidup sesungguhnya sedang diberi sesuatu yang sangat berharga: waktu.
Selama napas masih berembus, pintu untuk memperbaiki diri masih terbuka. Kita masih bisa meluruskan niat, mengembalikan hak orang lain, memperbanyak sedekah, dan menggunakan rezeki untuk sesuatu yang diridai Allah.
Jangan menunggu penyesalan untuk menyadari betapa berharganya kesempatan.
Menyadari bahwa segala sesuatu milik Allah bukan berarti kita harus berhenti bekerja, enggan menjadi kaya, atau membiarkan keluarga hidup dalam kekurangan. Justru kesadaran itu seharusnya membuat kita lebih bertanggung jawab.
Kita bekerja dengan sungguh-sungguh karena pekerjaan adalah amanah. Kita mencari rezeki yang halal karena cara memperolehnya akan dipertanggungjawabkan.
Kita merawat rumah, menjaga kesehatan, dan mendidik anak karena semua itu merupakan bagian dari tanggung jawab yang diberikan kepada kita. Namun, kita tidak boleh membiarkan titipan itu menguasai hati.
Ketika memperoleh kelapangan rezeki, kita bersyukur. Ketika dipercaya menduduki jabatan, kita tidak sewenang-wenang.
Ketika memiliki ilmu, kita membagikannya. Ketika diberi kekuatan, kita melindungi yang lemah. Ketika melihat orang lain kesulitan, kita tidak buru-buru berpikir bahwa itu bukan urusan kita.
Sebab, kepemilikan dalam pandangan iman bukan hanya tentang hak untuk menikmati, tetapi juga kewajiban untuk mempertanggungjawabkan.
Orang yang memahami hakikat ini tidak harus menunggu kaya untuk berbagi. Ia tidak perlu menunggu memiliki jabatan untuk berbuat baik.
Bahkan, senyum yang tulus, tenaga yang digunakan untuk menolong, dan waktu yang diberikan untuk mendengarkan keluh kesah orang lain dapat menjadi amal kebaikan.
Ia tahu, tidak semua kebaikan membutuhkan harta yang banyak. Yang dibutuhkan ialah hati yang tidak dikuasai oleh rasa memiliki.
Pada akhirnya, kita perlu belajar membedakan antara tangan dan hati. Tangan boleh menggenggam harta untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi hati jangan sampai terikat kepadanya.
Kita boleh memiliki banyak hal, tetapi jangan merasa menjadi pemilik mutlak atas segala sesuatu.
Sebab, ketika ajal tiba, semua yang kita banggakan akan tertinggal. Rumah akan tetap berdiri. Tanah akan tetap terbentang.
Harta akan berpindah kepada ahli waris. Jabatan akan diserahkan kepada pengganti.
Kita pulang sendirian, membawa amal yang telah kita kerjakan.
Maka, selagi Allah masih menitipkan rezeki, gunakanlah untuk kebaikan. Selagi masih diberi kesempatan, tunaikanlah hak orang lain. Selagi masih diberi waktu, jangan pelit untuk berbagi.
Jangan sampai kita begitu sibuk menjaga apa yang sebenarnya bukan milik kita, sampai lupa mempersiapkan bekal untuk kembali kepada Pemiliknya.
Kita tidak akan ditanya berapa banyak dunia yang berhasil kita genggam semata-mata, tetapi kita harus mempertanggungjawabkan bagaimana titipan itu kita peroleh dan gunakan.
Sebab, pada hakikatnya, kita bukan pemilik yang sesungguhnya. Kita hanyalah hamba yang sedang dipercaya.
Dan, setiap kepercayaan, kelak, akan dimintai pertanggungjawaban. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments