Aisyiyah berusia 109 tahun. Organisasi ini lahir sebelum kemerdekaan Indonesia, tepatnya pada 19 Mei 1917. Peringatan milad tidak dirayakan di tingkat pusat, tetapi ranting-ranting tetap menyelenggarakan kegiatan milad.
Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Duren Seribu, Depok, pun mengadakan peringatan milad yang bertempat di Gedung Dakwah Muhammadiyah ranting setempat (24/5/2026).
Acara tersebut dihadiri keluarga besar Aisyiyah dan Muhammadiyah. Hadir pula Ketua PRM Duren Seribu, Suharto, serta Ketua PCM Bojongsari, Dr. Zamah Sari, M.Ag.
Acara berlangsung khidmat dan sederhana. Kegiatan diawali dengan pembacaan al-Quran oleh anggota Aisyiyah, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Mars Muhammadiyah, dan Mars Aisyiyah secara bersama-sama dengan penuh semangat.
Pidato milad disampaikan Ketua PRA Duren Seribu, Siti Fatimah. Dalam pesannya, ia menyampaikan bahwa perempuan kini tidak lagi hanya berkutat pada urusan dapur, kasur, sumur, dan jemur, tetapi juga berperan dalam organisasi, profesi, serta edukasi di tengah masyarakat.
Aisyiyah dinilai menjadi pelopor kemajuan kaum perempuan agar bangkit, berpendidikan, dan berkemajuan.
Sementara itu, Ketua PRM Duren Seribu, Suharto, menyampaikan ucapan selamat milad kepada Aisyiyah. Ia menilai Aisyiyah ranting telah sukses merintis TK ABA yang kini memiliki jumlah murid terus bertambah.
Dalam kesempatan tersebut, PRM juga memberikan hadiah milad kepada Aisyiyah yang diserahkan kepada Ketua PRA.
Peringatan milad juga diisi pengajian oleh Dr. Zamah Sari. Ia menjelaskan bahwa pada masa sebelum Islam hadir, perempuan sering diperlakukan tidak manusiawi, bahkan bayi perempuan dikubur hidup-hidup.
Rasulullah SAW kemudian mengubah keadaan tersebut melalui ajaran Islam sehingga kaum perempuan dimuliakan.
Ia juga mencontohkan Khadijah, istri Rasulullah SAW, sebagai seorang pengusaha besar dan sukses. Selain itu, Aisyah dikenal memiliki peran penting dalam sejarah Islam.
Menurutnya, kaum perempuan dalam Islam memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam beramal saleh, meskipun terdapat perbedaan fisik dan kodrat.
Muhammadiyah sebagai pengikut ajaran Rasulullah SAW juga dinilai turut mengangkat martabat kaum perempuan. Pada masa kolonial, perempuan Muhammadiyah sudah tampil berpidato di depan publik.
Siti Walidah, istri KH Ahmad Dahlan, memimpin Aisyiyah dan kemudian ditetapkan sebagai pahlawan nasional bersama suaminya.
Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung tersebut juga memuji Aisyiyah Duren Seribu yang telah memiliki amal usaha berupa TK ABA dan TPA, meski usianya baru empat tahun.
Ia berharap amal usaha tersebut terus berkembang, seperti berdirinya TK Semesta bertaraf internasional di Yogyakarta.
Acara juga dimeriahkan dengan pembagian door prize. Beberapa anggota Aisyiyah mendapatkan hadiah istimewa. Milad kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin Muhsin MK, penulis buku biografi KH M.
Usman, perintis Muhammadiyah Depok, yang turut hadir dalam acara tersebut. Di akhir kegiatan, para undangan menikmati bakso khas Aisyiyah Duren Seribu yang penuh berkah.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments