Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Gresik menyelenggarakan rangkaian peringatan Milad Aisyiyah ke-109 sekaligus Pertemuan Periodik XI pada Ahad, (24/5/2026), di Gedung Dakwah Muhammadiyah (GDM) PDM Gresik. Kegiatan yang diikuti oleh 19 Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) se-Kabupaten Gresik ini mengusung tema penguatan kelembagaan dan konsolidasi program.
Sesi utama diisi dengan materi Penguatan Administrasi Organisasi yang disampaikan oleh Sekretaris Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Timur, Dr. Nur Mukarromah, SKM, M.Kes.
Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa kemajuan organisasi ditentukan oleh tertib administrasi dan sistem kerja yang sistematis. Hal tersebut merujuk pada Q.S. As-Shaff ayat 4 dan hadist yang menjelaskan bahwa Allah mencintai orang-orang yang berjuang dalam barisan yang teratur.
Pendekatan Kelembagaan
Dr. Nur Mukarromah memaparkan empat indikator kemajuan gerakan Aisyiyah, yaitu kepemimpinan transformatif kolektif, sistem organisasi, pengelolaan amal usaha, dan pelaksanaan program. Untuk mencapainya, diperlukan tiga pendekatan kelembagaan yang berjalan simultan.
Pertama, Technical Approach yang berfokus pada keaktifan pimpinan, ketersediaan sarana administrasi, dan pengelolaan dokumen.
Kedua, Fungsional Approach yang menekankan pemahaman tugas pokok dan fungsi pimpinan serta penguasaan dokumen organisasi seperti AD/ART, Qaidah, dan Pokok Pikiran Aisyiyah Abad Kedua.
Ketiga, Transformational Approach yang mendorong sinergi dengan persyarikatan, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan media dalam merespons isu strategis.
Diskusi juga menyoroti peran kaderisasi melalui Baitul Arqam. Menurut Dr. Nur Mukarromah, kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan proses pembentukan kader yang militan dan memahami peran strategis Aisyiyah dalam dakwah kemanusiaan. Salah satu peserta dari PCA melaporkan bahwa kader yang telah mengikuti Baitul Arqam menunjukkan peningkatan partisipasi aktif dalam kegiatan persyarikatan.
Pada sesi pengembangan jejaring dan strategi program, disampaikan bahwa program Aisyiyah harus menjawab persoalan nyata masyarakat, seperti stunting, literasi digital, dan ketahanan pangan. Keberlanjutan program bergantung pada ketersediaan anggaran dan tim pelaksana yang konsisten. Aisyiyah didorong untuk menjadi bridge builder yang mampu berkolaborasi dengan sektor swasta, pemerintah, dan organisasi internasional.
Dr. Nur Mukarromah juga mengingatkan pentingnya keseimbangan peran antara keluarga, pekerjaan, dan organisasi. Manajemen waktu dan komunikasi dengan keluarga menjadi kunci agar pengabdian di organisasi tidak mengabaikan tanggung jawab domestik.
Pertemuan ditutup dengan penekanan pada pentingnya pemahaman regulasi organisasi, mulai dari Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah Pasal 35 hingga Qaidah Amal Usaha. Dengan semangat “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian” 19 PCA se-Kabupaten Gresik diharapkan mampu menata administrasi, memperkuat jejaring kemitraan, dan menjalankan program yang relevan serta berkelanjutan bagi masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments