Upaya mencetak generasi muda yang mandiri secara ekonomi terus dilakukan oleh Asosiasi Pengusaha Pemuda Muhammadiyah (APPMU) Sidoarjo dan Asosiasi Pengusaha Nasyiatul Aisyiyah (APUNA) Sidoarjo. Melalui kegiatan Webinar Preneur bertema “Strategi Membaca Peluang Bisnis”, kedua organisasi tersebut menghadirkan CEO Zendo, Lutfi Azizah, sebagai narasumber utama pada Sabtu (13/6/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini diikuti lebih dari 30 peserta yang mayoritas merupakan anggota APPMU dan APUNA Sidoarjo. Webinar berlangsung mulai pukul 19.00 WIB hingga 21.45 WIB dan dipandu oleh Nanda Dwi Febrianto Putra atau yang akrab disapa Ebi sebagai host sekaligus master of ceremony (MC).
Ketua APPMU Sidoarjo, Bayu Firdaus, dalam sambutan pembukaannya menegaskan bahwa organisasi harus menjadi ruang pembelajaran yang mampu memberikan dampak nyata bagi masa depan kader, khususnya di bidang ekonomi dan kewirausahaan.
Menurutnya, belajar mengelola usaha di dalam organisasi bukan sekadar tentang mencari keuntungan, tetapi juga membentuk mental tangguh dalam membaca peluang, mengelola risiko, dan bangkit dari kegagalan.
“Ketika kita belajar mengelola UMKM di dalam organisasi, kita sebenarnya sedang memegang kunci masa depan kita sendiri. Dunia luar tidak hanya melihat teori yang kita kuasai, tetapi seberapa tangguh kita mengeksekusi sebuah peluang,” ujarnya.
Pernyataan tersebut selaras dengan tema webinar yang menyoroti pentingnya kemampuan membaca peluang bisnis di tengah perubahan ekonomi yang berlangsung cepat.
APPMU sendiri merupakan gerakan pengembangan ekonomi di bawah naungan Pimpinan Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Sidoarjo. Sementara itu, APUNA merupakan wadah pemberdayaan ekonomi kader Nasyiatul Aisyiyah yang hadir di berbagai tingkatan organisasi. Kolaborasi keduanya menjadi bentuk sinergi dalam memperkuat ekonomi umat melalui pengembangan kapasitas kader muda.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Milad ke-1 APPMU Sidoarjo, yang mengusung semangat penguatan kompetensi kewirausahaan dan ekonomi kreatif bagi generasi muda.
Membaca Peluang dari Masalah Nyata
Dalam paparannya, Lutfi Azizah menyampaikan bahwa kemampuan membaca peluang bisnis bukanlah bakat yang hanya dimiliki segelintir orang, melainkan keterampilan yang dapat dipelajari dan dilatih secara berkelanjutan.
“Kemampuan membaca peluang bisnis adalah insting yang membedakan antara penonton dan pemain di dunia ekonomi. Membaca peluang bukan soal keberuntungan, tetapi kemampuan analitis yang terus diasah,” jelasnya.
Lutfi menekankan dua unsur penting dalam membangun peluang usaha, yakni Problem-Based Opportunity atau memulai dari masalah yang nyata di masyarakat, serta Validasi Pasar untuk memastikan solusi yang ditawarkan benar-benar dibutuhkan.
Ia juga mengajak peserta untuk melihat berbagai peluang besar yang tengah dihadapi Indonesia, termasuk target penciptaan jutaan lapangan kerja dan bonus demografi yang menempatkan mayoritas penduduk berada pada usia produktif.
“Kita sering berbicara tentang bonus demografi dan peluang ekonomi yang besar. Pertanyaannya, apakah peluang itu sudah terlihat, atau justru kita sendiri yang harus bergerak menciptakannya?” katanya.
Era Digital Ubah Cara Konsumen Berbelanja
Lebih lanjut, Lutfi menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital telah mengubah perilaku pasar secara signifikan. Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), creator economy, dan community economy membuat konsumen kini lebih menghargai kemudahan dan kecepatan dibanding sekadar produk itu sendiri.
“Orang tidak lagi hanya membeli produk, tetapi membeli kemudahan. Mereka rela membayar lebih untuk sesuatu yang praktis dan cepat,” ungkapnya.
Karena itu, ia mendorong para peserta untuk menjadi “Arsitek Ekonomi Umat” melalui organisasi yang mereka ikuti. Menurutnya, peluang usaha dapat ditemukan dengan mengamati berbagai persoalan di sekitar, memetakan kebutuhan yang belum terpenuhi, lalu menghadirkan solusi yang bernilai ekonomi.
Lutfi juga memperkenalkan konsep sweet spot, yakni titik temu antara minat, kemampuan, kebutuhan pasar, dan nilai ekonomi yang bersedia dibayar masyarakat.
“Carilah titik temu antara apa yang kita sukai, apa yang kita kuasai, apa yang dibutuhkan pasar, dan apa yang bersedia dibayar oleh masyarakat,” pesannya.
Perkuat Pilar Ekonomi Umat
Pada sesi penutupan, Lutfi menegaskan bahwa Muhammadiyah memiliki peran besar dalam membangun kesejahteraan masyarakat melalui penguatan sektor ekonomi.
Menurutnya, selain pendidikan dan kesehatan yang selama ini menjadi kekuatan Muhammadiyah, sektor ekonomi harus menjadi pilar ketiga yang terus diperkuat demi meningkatkan kesejahteraan umat.
“Membangun solusi nyata untuk meringankan beban umat adalah bentuk dakwah tertinggi,” tutupnya.
Melalui kegiatan ini, APPMU dan APUNA Sidoarjo menunjukkan komitmennya dalam menyiapkan generasi muda yang tidak hanya aktif berorganisasi, tetapi juga mampu membaca peluang, menciptakan inovasi, serta membangun kemandirian ekonomi.
Harapannya, semakin banyak kader muda yang tumbuh menjadi pelaku usaha dan pencipta solusi bagi masyarakat sehingga cita-cita mewujudkan ekonomi umat yang kuat dan berkelanjutan dapat terwujud. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments