Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Menelusuri Jejak KH Ahmad Dahlan di Surabaya, Begandring Soerabaia Sambut Diskusi Sejarah Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Menelusuri Jejak KH Ahmad Dahlan di Surabaya, Begandring Soerabaia Sambut Diskusi Sejarah Muhammadiyah
Sambutan Ahmad Zaki Yamani, Co Founder Begandring Soerabaia dalam Diskusi Sejarah Jejak KH Ahmad Dahlan di Surabaya (Fauzul/PWMU.CO)
pwmu.co -

Nama Muhammadiyah dan KH Ahmad Dahlan selama ini identik dengan Kauman dan Yogyakarta sebagai tempat lahirnya. Namun, bagaimana jika sebagian pola perkembangan gerakan tersebut justru menemukan momentumnya di Surabaya?

Pertanyaan itulah yang menjadi titik berangkat Diskusi Sejarah bertajuk Jejak KH Ahmad Dahlan di Surabaya yang digelar di Lodji Besar, kawasan Peneleh, Surabaya, Selasa (16/6/2026). Melalui forum yang diselenggarakan PWMU.CO, Majelis Pustaka, Informatika, dan Digitalisasi (MPID) PWM Jawa Timur, serta Begandring Soerabaia itu, peserta diajak menelusuri keterkaitan Surabaya dengan perkembangan awal Muhammadiyah.

Kegiatan tersebut menghadirkan tiga narasumber, yakni Muh. Kholid As, Staf Ahli DPRD Surabaya; Kuncarsono Prasetyo, Co-Founder Begandring Soerabaia; serta Azrohal Hasan, sejarawan Muhammadiyah. Diskusi berlangsung di kawasan Peneleh yang selama ini dikenal sebagai salah satu ruang penting dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia.

Dalam sambutannya, perwakilan Begandring Soerabaia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang berfokus pada kajian sejarah dan literasi kebangsaan.

“Kami dari Begandring Soerabaia selaku komunitas sejarah sangat menyambut baik adanya diskusi maupun kegiatan-kegiatan yang terkait dengan sejarah,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Begandring Soerabaia selama ini aktif mengembangkan berbagai kajian sejarah, mulai dari pelestarian cagar budaya, sejarah perjuangan kemerdekaan, hingga produksi film dokumenter.

Menurutnya, komunitas tersebut juga memiliki pengalaman dalam memproduksi sejumlah film dokumenter yang mengangkat tokoh dan peristiwa penting dalam sejarah Indonesia.

“Kalau berbicara tentang dokumenter, talentanya sudah siap. Ada beberapa film yang diproduksi bersama Perseri yang bisa menjadi portofolio. Salah satunya pernah masuk Festival Film Indonesia tahun 2022. Ada juga film tentang dr. Soetomo yang pernah diputar di Rusia,” katanya.

Baginya, sejarah tidak hanya dapat disampaikan melalui buku dan diskusi, tetapi juga melalui media visual yang lebih dekat dengan masyarakat. Karena itu, berbagai upaya dokumentasi dan produksi film terus dilakukan sebagai bagian dari pelestarian sejarah lokal.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengucapkan terima kasih kepada para narasumber, peserta, dan seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan diskusi sejarah tersebut.

Ia menilai kawasan Peneleh memiliki posisi penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Kawasan itu bukan hanya menyimpan jejak tokoh-tokoh besar, tetapi juga menjadi saksi lahirnya berbagai gagasan yang turut membentuk Indonesia modern.

SMPM 5 Pucang SBY

“Selamat datang di wilayah kebangsaan, karena Indonesia dimulai dari sini,” tuturnya.

Menurutnya, kawasan Peneleh dan Plampitan merupakan satu kesatuan sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan pergerakan nasional.

“Ada Presiden Soekarno lahir di Peneleh Gang IV. Bahkan kawasan Peneleh dan Plampitan merupakan satu kawasan yang tidak bisa dipisahkan dari sejarah pergerakan bangsa,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Surabaya tidak hanya memiliki posisi penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, tetapi juga menjadi ruang yang menyimpan banyak cerita tentang perkembangan organisasi, pemikiran, dan gerakan sosial keagamaan pada awal abad ke-20.

Karena itu, diskusi mengenai jejak KH Ahmad Dahlan di Surabaya dinilai penting untuk memperkaya pemahaman masyarakat mengenai hubungan Muhammadiyah dengan Kota Pahlawan. Selama ini, narasi sejarah Muhammadiyah lebih banyak berpusat pada Yogyakarta sebagai tempat berdirinya organisasi tersebut. Padahal, Surabaya juga memiliki kontribusi yang tidak kecil dalam perkembangan dan penyebaran gagasan-gagasan pembaruan yang dibawa Muhammadiyah.

Atas nama Begandring Soerabaia, ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat kesadaran sejarah masyarakat.

“Saya mengucapkan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada Begandring Soerabaia untuk berdiskusi bersama rekan-rekan PWMU.CO. Semoga kegiatan ini berjalan lancar dan menjadi ilmu yang berkah untuk kita semua,” pungkasnya.

Usai sambutan pembuka, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang dipandu moderator Nikma. Para peserta kemudian mengikuti pemaparan dari Muh. Kholid As, Kuncarsono Prasetyo, dan Azrohal Hasan yang mengulas berbagai fakta sejarah terkait hubungan KH Ahmad Dahlan, Muhammadiyah, dan Surabaya.

Melalui forum tersebut, peserta diajak melihat kembali posisi Surabaya dalam sejarah perkembangan Muhammadiyah sekaligus memahami bagaimana kota ini menjadi bagian dari perjalanan panjang gerakan pembaruan Islam yang dirintis KH Ahmad Dahlan lebih dari satu abad yang lalu. (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 16/06/2026 20:18
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu