Tidak kurang dari satu pekan lagi, umat Islam di seluruh penjuru negeri akan menyambut Hari Raya Iduladha 1447 H. Di masjid-masjid dan lapangan, panitia mulai disibukkan dengan berbagai persiapan. Mulai penentuan lokasi salat Id, pengaturan teknis pelaksanaan, hingga penunjukan imam dan khatib yang telah dijadwalkan jauh hari sebelumnya.
Bahkan, untuk menghadirkan khatib yang memiliki kapasitas keilmuan dan pengalaman yang baik, sebagian panitia harus melakukan komunikasi sejak berbulan-bulan sebelumnya. Hal itu menunjukkan bahwa Iduladha bukan sekadar agenda tahunan, tetapi momentum ibadah yang dipersiapkan dengan kesungguhan.
Di sisi lain, para mudahi atau orang yang berkurban juga melakukan berbagai ikhtiar agar dapat menunaikan ibadah kurban. Ada yang mengikuti arisan kurban, menabung secara rutin, hingga menyisihkan sebagian penghasilan demi bisa berpartisipasi dalam ibadah tersebut.
Fenomena ini menjadi potret menarik di tengah kondisi ekonomi yang sedang menghadapi berbagai tantangan. Di saat harga kebutuhan pokok meningkat dan daya beli masyarakat mengalami tekanan, semangat berkurban justru tetap terjaga.
Di banyak tempat, jumlah hewan kurban tidak mengalami penurunan yang signifikan. Bahkan, di beberapa daerah justru mengalami peningkatan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa ibadah kurban tidak sepenuhnya tunduk pada logika material. Kurban berdiri di atas fondasi iman, ketakwaan, dan kesadaran spiritual seorang hamba kepada Allah Swt.
Kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi simbol ketaatan total sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Ibadah ini menjadi bentuk kesiapan seorang muslim untuk mengorbankan apa yang dicintai demi meraih rida Allah.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 37:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa inti kurban bukan terletak pada nilai materi, melainkan pada ketakwaan dan keikhlasan dalam beribadah.
Dalam perspektif Islam berkemajuan, kurban juga memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Kurban menjadi sarana distribusi kesejahteraan dan penguat solidaritas umat.
Melalui pembagian daging kurban, masyarakat yang selama ini jarang menikmati kecukupan dapat ikut merasakan kebahagiaan Iduladha.
Karena itu, kurban bukan sekadar ibadah individual, tetapi juga gerakan sosial yang memperkuat ukhuwah dan kepedulian terhadap sesama, terutama kaum dhuafa.
Nilai tersebut sejalan dengan semangat Muhammadiyah yang menempatkan amal nyata sebagai bagian penting dari dakwah Islam.
Di tengah tekanan ekonomi global, semangat berkurban yang tetap tumbuh menjadi bukti bahwa kekuatan spiritual umat Islam masih terjaga. Dalam keterbatasan, umat tetap memiliki semangat berbagi dan membantu sesama.
Iduladha akhirnya bukan hanya tentang penyembelihan hewan, tetapi juga momentum menyembelih sifat-sifat negatif dalam diri manusia seperti egoisme, keserakahan, dan ketidakpedulian sosial.
Ketika ekonomi diuji, kurban justru menguatkan spirit umat. Ketika keadaan tidak mudah, iman menemukan jalannya untuk tetap memberi dan peduli.
Dan di situlah letak kekuatan umat Islam: pada keteguhan iman dan kesediaan untuk berkorban.





0 Tanggapan
Empty Comments