Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Aturan Anak 5,5 Tahun Bisa Masuk SD Tuai Sorotan, Pakar UMM Desak Kemendikdasmen Upgrade Skill Guru

Iklan Landscape Smamda
Aturan Anak 5,5 Tahun Bisa Masuk SD Tuai Sorotan, Pakar UMM Desak Kemendikdasmen Upgrade Skill Guru
Pakar UMM, Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd. (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) baru saja menggulirkan kebijakan pelonggaran batas usia masuk Sekolah Dasar (SD) menjadi 5,5 tahun. Langkah ini memicu sorotan tajam dari pakar pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Arina Restian, S.Pd., M.Pd.

Ia menilai, aturan tersebut menyimpan bom waktu jika tidak segera dibarengi dengan perombakan manajemen sekolah dasar dan peningkatan kompetensi pedagogi guru secara masif guna mencegah stres pada anak.

Arina menegaskan bahwa pembekalan ilmu pedagogi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bagi guru kelas satu SD kini menjadi agenda mendesak bagi Kemendikdasmen. Selama ini, kurikulum pendidikan guru dinilai lebih banyak mempersiapkan tenaga pendidik untuk rentang usia 7 hingga 12 tahun. Jika dipaksakan tanpa adaptasi, pendidik akan gagap saat menghadapi tantrum dan sulit mengelola regulasi emosi anak.

“Tanpa upgrade skill melalui pelatihan khusus, guru berpotensi memaksakan standar anak usia tujuh tahun kepada murid 5,5 tahun. Akibatnya sangat fatal, anak bisa stres, mogok sekolah, dan guru rentan salah melabeli mereka sebagai siswa lambat belajar padahal itu fase normal di usianya,” tegasnya 25 Mei pada tim Humas UMM.

Untuk mencegah kekacauan di lapangan, manajemen sekolah dasar dituntut melakukan tiga adaptasi krusial. Sekolah wajib mendesain Kelas 1 Transisi dengan tata ruang bersudut bermain, melaksanakan standardisasi asesmen awal saat masa orientasi hanya untuk memetakan kebutuhan individual anak, serta menjembatani komunikasi intensif antara pendidik dan orang tua terkait batasan ekspektasi akademik.

“Manajemen tidak bisa lagi sekadar menerima siswa baru lalu berjalan seperti biasa. Di tiga bulan pertama, durasi belajar wajib dipangkas menjadi 20-30 menit yang diselingi istirahat, agar anak tidak kaget dengan rutinitas baru,” paparnya.

SMPM 5 Pucang SBY

Singkat, Bergerak, Bermain

Selain kesiapan manajemen, Arina turut membagikan trik praktis bagi para pendidik agar siswa tidak tertekan di minggu-minggu pertama pembelajaran. Mengingat rentang fokus anak usia 5,5 tahun maksimal hanya 15 menit, pendekatan pengajaran di kelas harus berpegang teguh pada prinsip ‘Singkat, Bergerak, dan Bermain’.

“Guru bisa menerapkan siklus 15-5-15, yaitu 15 menit kegiatan inti, 5 menit bergerak atau bernyanyi, lalu 15 menit kegiatan lagi. Hindari pemberian lembar kerja di awal, beri mereka pilihan-pilihan kecil untuk mengurangi rasa dikontrol, dan rayakan sekecil apa pun keberaniannya agar sekolah terasa seperti perpanjangan PAUD,” urai dosen PGSD tersebut.

Sebagai pesan penutup, Arina mengingatkan pemerintah agar pelonggaran usia ini tidak diberlakukan secara pukul rata. Kebijakan ini idealnya tetap bersifat opsional dan didasarkan memberi pengetatan asesmen kesiapan psikologis anak.

Pemerintah dituntut segera melakukan lokakarya pedagogi guru kelas satu dan secepatnya merilis modul praktis transisi PAUD-SD. Jika melalui evaluasi tahunan kelak ditemukan lonjakan angka stres anak atau putus sekolah di awal jenjang dasar, Kemendikdasmen harus mengambil langkah tegas untuk merevisi aturan ini demi melindungi hak tumbuh kembang anak-anak Indonesia. (*)

Revisi Oleh:
  • Amanat Solikah - 25/05/2026 13:36
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡