Kepala sekolah memiliki peran strategis dalam menentukan keberhasilan marketing dan peningkatan jumlah peserta didik di sekolah Muhammadiyah. Karena itu, kepala sekolah tidak cukup hanya memahami administrasi pendidikan, tetapi juga harus mampu membaca potensi pasar dan menerjemahkan visi sekolah menjadi strategi yang menarik bagi masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Ir. H. Sudarusman, Direktur Penjamin Mutu serta Branding Sekolah Keberbakatan Muhammadiyah Boarding Area Sport Art and Culture (MBA Spartans) Genteng, dalam rapat redaksi PWMU.CO di Media Center PWM Jawa Timur, Jumat (14/8/2026).
Sudarusman yang pernah menjabat sebagai Kepala SMA Muhammadiyah X (Smamx) Surabaya itu menilai kepala sekolah memegang peranan penting dalam marketing sekolah. Sementara itu, guru pada umumnya menjalankan program yang telah dirancang dan diarahkan oleh pemimpin sekolah.
“Kepala sekolah memegang peranan penting dalam marketing sekolah, sedangkan para guru mengikuti program yang diberikan oleh leader,” ujar Ketua PCM Simokerto tersebut.
Ia kemudian mengisahkan pengalamannya ketika memimpin Smamx Surabaya, khususnya dalam strategi penerimaan peserta didik. Menurutnya, sekolah harus terlebih dahulu menentukan potensi pasar yang jelas sebelum menawarkan program kepada masyarakat.
“Harus memasang potensi pasar yang jelas. Jangan sampai menawarkan produk yang sama dengan sekolah lain,” tegasnya.
Sudarusman mencontohkan strategi Smamx yang membangun branding sebagai “Sekolah Keberbakatan”. Konsep tersebut dirancang sebagai identitas sekolah yang terbuka bagi seluruh siswa dengan beragam potensi dan bakat.
Menurutnya, hubungan antara kualitas produk pendidikan dan marketing dapat dilihat dari perkembangan grafik penerimaan siswa. Jika grafik meningkat, berarti produk dan marketing sekolah berjalan dengan baik.
“Grafik naik: produk bagus, marketing bagus. Namun, jika grafik turun tetapi produknya bagus, berarti marketing-nya yang kurang,” jelasnya.
Sebaliknya, apabila jumlah peserta didik mengalami penurunan secara drastis, Sudarusman menilai persoalannya perlu dilihat lebih jauh pada kepemimpinan sekolah.
“Jika grafik turun drastis, maka problem ada di leader-nya,” katanya.
Karena itu, ia berpesan agar setiap kepala sekolah memahami visi pribadi sebagai pemimpin sekaligus visi sekolah yang dipimpinnya. Pemahaman tersebut menjadi modal penting agar kepala sekolah mampu menentukan arah, menggerakkan guru, membangun branding, sekaligus menjalankan strategi marketing secara maksimal.
Sudarusman menegaskan bahwa visi kepala sekolah sangat dibutuhkan untuk memajukan sekolah Muhammadiyah. ”Visi sekolah dan kepala sekolah harus bisa dikuasai secara mendalam, jangan sampai kepala sekolah yang menjabat tidak tahu apa visi dari sekolah yang ia pimpin, sehingga branding sekolah tersebut bisa menurun dan berpengaruh ke proses SPMB,” ungkapnya.
Diskusi tersebut menyoroti pentingnya sekolah Muhammadiyah melakukan evaluasi secara menyeluruh, bukan hanya terhadap kualitas produk pendidikan, namun sekaligus kepemimpinan, branding, dan strategi pemasaran sekolah.
Dengan demikian, penguatan sekolah Muhammadiyah tidak cukup dilakukan dengan memperbaiki program akademik. Sekolah juga perlu memiliki identitas yang kuat, memahami kebutuhan masyarakat, serta dipimpin oleh kepala sekolah yang mampu menerjemahkan keunggulan sekolah menjadi nilai yang mudah dipahami calon peserta didik dan orang tua. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments