Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sudarusman Paparkan Empat Asumsi yang Bisa Menghancurkan Pendidikan

Iklan Landscape Smamda
Sudarusman Paparkan Empat Asumsi yang Bisa Menghancurkan Pendidikan
Pemred PWMU.CO, Agus Wahyudi dan Ketua PCM Simokerto, Ir. H. Sudarusman dalam rapat redaksi Jumat, 14 Agustus 2026. Foto: Wildan/PWMU.CO
pwmu.co -

Pendidikan tidak boleh dipahami sebatas proses transfer ilmu dari guru kepada siswa. Perubahan teknologi, pola belajar, serta kebutuhan peserta didik menuntut orang tua dan guru mengubah cara pandang terhadap pendidikan.

Hal tersebut disampaikan Direktur Penjamin Mutu serta Branding Sekolah Keberbakatan Muhammadiyah Boarding Area Sport Art and Culture (MBA Spartans) Genteng, Ir. H. Sudarusman, dalam wawancara pada rapat redaksi PWMU.CO di Media Center PWM Jawa Timur, Jumat (14/8/2026). Ia mengungkap empat asumsi yang menurutnya dapat menghancurkan pendidikan jika terus dipertahankan.

Pertama, asumsi bahwa pendidikan hanya transfer knowledge. Menurut Sudarusman, masih ada orang tua yang menyekolahkan anak dengan tujuan agar pintar, sementara guru dianggap hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran.

“Adanya asumsi bahwa pendidikan hanya transfer ilmu saja. Orang tua menganggap anak sekolah biar pintar, guru hanya mengajarkan pelajaran saja. Padahal, dalam pendidikan juga harus diajarkan kearifan, akhlak, dan perilaku,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik. Pembentukan karakter, kebijaksanaan dalam bersikap, serta perilaku peserta didik merupakan bagian penting dari proses pendidikan.

Kedua, asumsi bahwa guru merupakan satu-satunya sumber ajar. Sudarusman menilai pandangan tersebut sudah tidak relevan dengan perkembangan teknologi saat ini.

“Sekarang sudah ada Artificial Intelligence, internet, pembelajaran digital. Orang tua harus paham bahwa itu semua bisa menjadi media pendidikan,” katanya.

Menurutnya, keberadaan teknologi tidak seharusnya diposisikan sebagai ancaman bagi guru. Sebaliknya, teknologi harus dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran dengan tetap memperhatikan pendampingan dan kebijaksanaan dalam penggunaannya.

“Peran guru dan orang tua adalah mengarahkan anak agar bisa memanfaatkan itu sebaik mungkin,” tambah .

SMPM 5 Pucang SBY

Ketiga, asumsi bahwa pendidikan harus berbentuk fisik. Pendidikan masih kerap dibayangkan harus berlangsung di ruang kelas dengan papan tulis dan berbagai fasilitas fisik. Padahal, perkembangan teknologi memungkinkan proses pembelajaran berlangsung lebih fleksibel.

“Pendidikan bisa dilakukan kapan pun, di mana pun, dengan media apa pun,” tutur Sudarusman.

Keempat, asumsi bahwa pendidikan bersifat parsial. Menurutnya, setiap pembelajaran seharusnya tidak berdiri sendiri. Berbagai pengetahuan dan keterampilan memiliki keterkaitan sehingga perlu dibangun melalui pendekatan yang holistik.

“Tiap pembelajaran itu terhubung satu sama lain melalui model yang holistik,” jelasnya.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan perlu terus beradaptasi dengan perubahan zaman. Guru dan orang tua tidak hanya bertugas memastikan anak memperoleh pengetahuan, tetapi juga mendampingi mereka agar mampu menggunakan berbagai sumber belajar secara tepat.

Dengan meninggalkan empat asumsi tersebut, Sudarusman berharap pendidikan dapat bergerak menuju model yang lebih utuh: mengembangkan pengetahuan sekaligus kearifan, akhlak, perilaku, dan kemampuan peserta didik menghadapi perubahan teknologi. (*)

Revisi Oleh:
  • Wildan Nanda Rahmatullah - 14/08/2026 17:11
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu