Muhammadiyah dinilai perlu segera melakukan sensus warga sebagai pijakan penting memperkuat data organisasi sekaligus mempertegas kontribusinya di tengah masyarakat.
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Khoirul Abduh, M.Si, menegaskan, sensus bukan sekadar pendataan, melainkan basis strategis untuk arah gerakan dakwah dan pengembangan amal usaha Muhammadiyah di masa depan.
“Dengan sensus, kita bisa mengetahui berapa jumlah warga Muhammadiyah, usia mereka, serta potensi yang dimiliki. Ini akan sangat penting untuk menentukan langkah organisasi ke depan,” ujar Khoirul Abduh kepada PWMU.CO, Ahad (7/9/2025).
Menurut Abduh, tanpa data yang valid, gerakan sebesar Muhammadiyah akan sulit mengukur capaian sekaligus merancang strategi baru yang sesuai dengan kebutuhan umat.
Abduh mengingatkan bahwa Muhammadiyah memiliki perjalanan panjang sejak didirikan KH Ahmad Dahlan lebih dari satu abad silam. Dari pendidikan tradisional menuju modern, hingga transformasi gaya hidup umat, Muhammadiyah selalu hadir membawa pembaruan.
“Pemimpin Muhammadiyah dulu tidak eksklusif. Substansi gerakannya membumi. KH Ahmad Dahlan sendiri turun ke Banyuwangi, Malang, dan daerah lain. Karakter pemimpin saat itu membawa Muhammadiyah sampai ke akar rumput,” terangnya.
Dia juga menyebut pentingnya kaderisasi sebagai faktor kunci. Organisasi otonom seperti HW, Pemuda Muhammadiyah, NA, IPM, hingga Tapak Suci lahir dari fondasi kaderisasi yang kokoh.
Menurut Abduh, kontribusi Muhammadiyah dalam bidang sosial dan pendidikan begitu besar hingga bisa dikatakan mengambil sebagian peran negara.
“Ribuan sekolah, kampus, rumah sakit, hingga panti sosial dimiliki Muhammadiyah. Bahkan, tidak ada satupun negara yang punya klinik kapal apung seperti Muhammadiyah, yakni Said Tuhulele,” ungkapnya.
Karena itu, Abduh menyebut negara memiliki “utang besar” kepada Muhammadiyah atas sumbangsih nyata bagi bangsa.
Meski demikian, Abduh menekankan perlunya evaluasi pengelolaan amal usaha Muhammadiyah. Salah satu yang mendesak adalah perbaikan kualitas sekolah Muhammadiyah serta peningkatan kesejahteraan guru.
“Ini harus dievaluasi, tapi tanpa sakit hati. Kita harus berpikir bagaimana sekolah Muhammadiyah bisa semakin baik, dan guru-guru kita sejahtera,” tegasnya.
Abduh menambahkan, kesejahteraan guru tidak bisa dipandang sebagai persoalan individual, melainkan sebagai pilar utama keberlangsungan pendidikan Muhammadiyah.
Menurutnya, guru yang sejahtera akan mampu mendidik dengan penuh dedikasi dan menjadi teladan bagi murid-muridnya.
“Kalau kita ingin sekolah Muhammadiyah unggul, maka gurunya juga harus unggul. Dan untuk unggul, mereka butuh dukungan yang memadai, baik dari sisi kesejahteraan maupun sistem yang menopang profesionalisme mereka,” jelasnya.
Dia juga mengatakan, lembaga fundraising seperti Lazismu dapat berperan dalam mengalokasikan dana untuk membantu para guru.
“Guru juga termasuk dalam delapan asnaf yang berhak menerima zakat, sehingga sudah selayaknya mereka mendapatkan perhatian,” ujarnya.
Selain itu, dia mendorong adanya database amal usaha dan warga Muhammadiyah yang lebih rapi untuk memperkuat gerakan di bidang dakwah maupun ekonomi.
“Banyak kader Muhammadiyah yang tumbuh mandiri, berkarya, berkreasi, dan mengembangkan dakwah. Maka ke depan, kita harus bergerak bersama di bidang ekonomi dengan kajian yang mendalam,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments