Muhammadiyah mendorong perluasan kerja sama pendidikan dan penelitian dengan Maroko melalui kemitraan perguruan tinggi, pertukaran peneliti, hingga riset bersama. Langkah ini diharapkan membuka akses lebih luas bagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) untuk membangun jejaring akademik internasional.
Peluang tersebut dibahas dalam pertemuan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Maroko dengan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (13/10/2026). Pertemuan ini juga membahas penguatan kaderisasi dan perkembangan organisasi Muhammadiyah di Maroko.
Ketua PCIM Maroko, Faisal Maulana, menjelaskan bahwa organisasi saat ini berfokus pada dua agenda utama, yakni pengaderan internal dan pengembangan kerja sama eksternal. Keduanya diarahkan untuk meningkatkan kapasitas kader sekaligus memperluas hubungan Muhammadiyah dengan institusi pendidikan di Maroko dan Indonesia.
“PCIM Maroko berupaya memperkuat kaderisasi sekaligus membangun kerja sama dengan berbagai institusi pendidikan. Kami berharap potensi yang ada di Maroko dapat dikembangkan menjadi kolaborasi nyata yang memberikan manfaat bagi Muhammadiyah dan dunia pendidikan,” ujar Faisal.
Salah satu peluang yang dibahas ialah pengembangan implementasi nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara Muhammadiyah dan dua institusi pendidikan di Maroko, yaitu Institut Darul Hadis el-Hassania dan Ma’had Mohammed VI Lil Qira’at wa ad-Dirasat al-Qur’aniyyah.
Selama ini, kerja sama tersebut antara lain diwujudkan melalui pengiriman delegasi Muhammadiyah untuk melanjutkan studi di Maroko. Ke depan, kolaborasi diharapkan tidak berhenti pada pengiriman mahasiswa, tetapi berkembang menjadi kemitraan akademik yang melibatkan lebih banyak PTMA.
Bentuk kerja sama yang dapat dikembangkan meliputi seminar internasional, pertukaran peneliti, pertukaran literatur ilmiah, serta penelitian bersama antara perguruan tinggi di Indonesia dan Maroko. Peluang juga terbuka melalui kemitraan dengan perguruan tinggi negeri di negara Afrika Utara tersebut.
Maroko dinilai memiliki potensi akademik yang menarik bagi pengembangan pendidikan tinggi Muhammadiyah. Tradisi keilmuan Islam yang kuat dan interaksinya dengan pemikiran Barat dapat menjadi ruang pertukaran pengetahuan sekaligus memperkaya perspektif akademik kedua negara.
Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Syafiq A. Mughni, menyambut baik gagasan tersebut. Menurutnya, peluang kerja sama internasional perlu ditindaklanjuti secara konkret dengan melibatkan perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sesuai potensi serta kebutuhan masing-masing institusi.
“Peluang kerja sama ini perlu ditindaklanjuti secara konkret dengan melibatkan PTMA. Dengan begitu, potensi yang dimiliki masing-masing institusi dapat dikembangkan menjadi program pendidikan dan penelitian yang berkelanjutan,” tutur Syafiq.
PP Muhammadiyah akan menghubungkan peluang kerja sama yang dihimpun PCIM Maroko dengan PTMA agar dapat ditindaklanjuti menjadi program yang relevan. Koordinasi ini diharapkan membuka jalan bagi kolaborasi yang lebih terarah, baik dalam pengembangan pendidikan maupun penelitian.
Melalui langkah tersebut, PCIM Maroko diharapkan tidak hanya menjadi wadah kaderisasi Muhammadiyah di luar negeri, tetapi juga berperan sebagai penghubung strategis antara perguruan tinggi di Indonesia dan Maroko. Kemitraan yang berkelanjutan diharapkan memperluas kontribusi Muhammadiyah dalam pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat global. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments