Membangun kedekatan dengan anak tidak cukup hanya dengan memberikan nasihat dan menetapkan aturan. Orang tua perlu terlebih dahulu menghadirkan rasa aman, membuka ruang komunikasi, dan mendengarkan tanpa menghakimi.
Pesan inilah yang diangkat dalam Seminar Parenting SMA Muhammadiyah 2 Surabaya (Smamda) bertajuk “Rangkul Sebelum Mengatur: Seni Mendengar Tanpa Menghakimi” yang digelar pada Sabtu (17/10/2026).
Bertempat di Mas Mansyur Hall, lantai 6 Smamda Tower, kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian pengambilan rapor sisipan semester ganjil dan diikuti oleh seluruh wali murid kelas X dan XI.
Dalam sambutannya, Mukhlasin, S.T., M.Pd., menegaskan pentingnya kolaborasi antara orang tua, sekolah, dan masyarakat dalam mendampingi tumbuh kembang peserta didik. Menurutnya, pendidikan tidak dapat berjalan optimal jika hanya mengandalkan satu pihak.
“Kami menganggap bahwa kami tidak mampu melakukan kerja sendiri. Antara orang tua, sekolah, dan masyarakat harus saling bekerja sama,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa sinergi ketiga lingkungan pendidikan tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang Islami, modern, dan berprestasi. Di tengah perkembangan era digital, peserta didik perlu dibekali kemampuan untuk menghadapi berbagai tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
Seminar kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Laila Nurul Rahmawati, S.KM., seorang konsultan layanan dan kesehatan mental. Mengangkat tema “Rangkul Sebelum Mengatur: Seni Mendengar Tanpa Menghakimi”, Laila mengajak para orang tua memahami pentingnya menciptakan rasa aman secara psikologis dalam hubungan dengan anak.
Menurut Laila, rasa aman secara psikologis membuat seseorang merasa nyaman untuk bertanya, meminta bantuan, menyampaikan pendapat, bahkan mengakui kesalahan tanpa takut dihakimi atau dipermalukan.
“Kenapa seorang anak tidak mau bicara dengan ayahnya, ibunya? Bisa jadi mereka merasa tidak aman untuk bertanya,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa setiap anak memiliki kebutuhan untuk didengarkan dan perasaannya dipahami. Ketika anak merasa pendapatnya diabaikan atau emosinya dianggap berlebihan, mereka dapat memilih untuk menutup diri dan enggan menceritakan persoalan yang sedang dihadapi.
Kedekatan Emosional
Untuk membangun komunikasi yang lebih sehat, Laila memperkenalkan pola komunikasi P-I-P, yaitu Pembukaan, Isi, dan Penutup. Pola ini diibaratkan seperti burger: komunikasi diawali dengan pujian atau apresiasi, dilanjutkan dengan penyampaian pesan utama, kemudian ditutup dengan penguatan positif.
Melalui pola tersebut, orang tua diharapkan dapat menyampaikan nasihat dan arahan tanpa membuat anak merasa direndahkan. Pesan yang disampaikan dengan cara yang tepat akan lebih mudah diterima sekaligus membantu menjaga kedekatan emosional antara orang tua dan anak.
Prinsip utama yang ditekankan dalam seminar ini adalah “Rangkul Sebelum Mengatur”. Sebelum menetapkan aturan atau memberikan arahan, orang tua perlu membangun hubungan emosional yang kuat agar anak merasa dipahami dan dihargai.
Laila menjelaskan empat langkah yang dapat diterapkan orang tua dalam membangun komunikasi yang sehat. Pertama, hadir sepenuhnya saat anak berbicara, antara lain dengan meletakkan ponsel dan memberikan perhatian penuh.
Kedua, memvalidasi emosi anak tanpa harus selalu menyetujui perilakunya. Ketiga, berusaha memahami kebutuhan anak melalui kegiatan mendengarkan tanpa menghakimi. Keempat, menyepakati aturan bersama dengan batasan yang jelas, alasan yang masuk akal, serta konsekuensi yang konsisten.
Ia juga mengingatkan orang tua untuk menghindari label negatif seperti “malas”, “lebay”, atau “kurang bersyukur” ketika menanggapi cerita anak. Sebaliknya, orang tua dapat menggunakan pertanyaan terbuka, seperti “Bagian mana yang paling berat buat kamu?”, agar anak lebih leluasa mengungkapkan perasaan dan pengalamannya.
Selain penyampaian materi, para peserta mengikuti simulasi komunikasi secara berpasangan dengan memerankan posisi orang tua dan anak. Melalui praktik tersebut, peserta diajak merasakan secara langsung bagaimana komunikasi yang hangat, sikap mendengarkan tanpa menghakimi, dan respons yang empatik dapat menciptakan rasa aman dalam hubungan keluarga.
Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman orang tua tentang pentingnya komunikasi yang sehat dalam mendampingi anak, sekaligus meningkatkan sinergi antara keluarga dan sekolah. Dengan hubungan yang dilandasi rasa aman, empati, dan saling menghargai, orang tua diharapkan mampu mendampingi anak menghadapi tantangan era digital serta tumbuh menjadi generasi yang Islami, modern, berprestasi, dan berkarakter. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments