Ada ide yang patut disambut gembira dan perlu segera direspons: Haedar Nashir mendorong makam Kiai Dahlan dan Nyai Walidah menjadi paket wisata edukasi Muhammadiyah (PWMU.CO, 26/10/2026).
Gagasan tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) Lembaga Pengembangan Ekonomi, Kewirausahaan, dan Pariwisata (LPEK) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (24/10/2026).
Mengapa kita mesti segera menanggapinya?
Sejarah, Menggugah!
Sejarah bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Di dalamnya terdapat pelajaran dan inspirasi untuk membangun kehidupan masa kini dan masa mendatang.
Terkait hal itu, Islam mengajarkan agar kita rajin mempelajari kisah atau sejarah dan mengambil ibrah darinya. Perhatikan ayat berikut:
”Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal …….” (QS Yusuf [12]: 111).
Perintah Allah jelas, yaitu mempelajari sejarah. Lalu, bagaimana cara mempelajarinya? Kita bisa menggunakan sumber tertulis. Tentu, sumber utamanya adalah Al-Qur’an dan hadis. Selanjutnya, kita dapat belajar melalui buku, termasuk uraian ulama atau guru yang tepercaya.
Perhatikan, Al-Qur’an merupakan sumber utama. Allah memberikan banyak kisah di dalamnya sebagai pelajaran bagi manusia. Porsi kisah dalam Al-Qur’an sangat besar. Ada sumber yang menyebut sekitar sepertiga bagian, bahkan sumber lain menyebut dua pertiga.
Berapa pun persentasenya, satu hal yang pasti, Al-Qur’an memberikan perhatian besar kepada kisah-kisah umat terdahulu agar manusia mengambil pelajaran darinya.
Fakta tersebut patut kita jadikan salah satu sumber motivasi untuk rajin belajar sejarah.
Lalu, melalui apa lagi kita dapat mempelajari sejarah? Salah satu caranya adalah dengan banyak berjalan-jalan!
Bumi Allah sangat luas. Di setiap hamparannya, pasti terdapat berbagai pelajaran. Simak dua ayat berikut:
”Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya ……” (QS Al-Mulk [67]: 15).
”….. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan” (QS Al-Hasyr [59]: 2).
Sebagai ilustrasi, bukankah ibadah haji merupakan semacam wisata edukasi? Bukankah dalam ibadah haji terkandung unsur napak tilas perjalanan sejarah yang sangat kuat?
Ketika menunaikan ibadah haji, umat Islam tidak sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Mereka mendatangi tempat-tempat yang berkaitan dengan perjuangan Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, Nabi Ismail AS, dan Nabi Muhammad SAW.
Di sana, kita belajar tentang keteguhan iman, kesungguhan berusaha, dan tawakal kepada Allah.
Lihatlah ketika melempar jumrah! Di situ kita diingatkan pada keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menaati perintah Allah, seberat apa pun tantangannya. Melalui kegiatan melempar jumrah, kita mendapat pelajaran agar selalu siap melawan godaan setan ketika hendak melaksanakan petunjuk Allah.
Sekarang, kita beralih ke tempat lain. Ketika melakukan sai antara Safa dan Marwah, ibadah tersebut mengingatkan kita pada ikhtiar Siti Hajar dalam mencari air untuk Ismail, sang putra. Salah satu pelajarannya adalah jangan pernah putus asa dalam mengharapkan pertolongan Allah.
Selanjutnya, saat wukuf di Arafah, kita dapat merenungkan betapa berat jalan perjuangan Nabi Muhammad SAW. Kita juga bisa membayangkan suasana di Padang Arafah ketika Nabi SAW menegaskan kepada umat Islam bahwa ”Risalah Merintis, Dakwah Melanjutkan”.
Tampak bahwa dalam ibadah haji bukan hanya terdapat perjalanan fisik. Di dalamnya juga ada perjalanan spiritual untuk menyerap pelajaran dari sejarah perjuangan para nabi dan orang-orang saleh. Sungguh banyak pelajaran yang dapat dipetik.
Dari Kauman
Bumi Allah sangat luas dan Yogyakarta adalah bagian darinya. Di kota ini tersimpan jejak sejarah perjuangan Muhammadiyah yang sangat berharga. Mengunjunginya dapat menjadi media pendidikan yang baik sekaligus sarana dakwah.
Yogyakarta merupakan tempat Muhammadiyah dilahirkan pada 1912. Di kota ini, KH Ahmad Dahlan memulai ikhtiar pembaruan Islam yang kemudian berkembang menjadi gerakan dakwah, pendidikan, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat hingga hari ini.
Didirikan di Kauman, sebuah kampung kecil di Yogyakarta, kini Muhammadiyah terus berkembang. Tandanya, Muhammadiyah memiliki ribuan sekolah, mulai dari PAUD, TK, hingga pendidikan dasar dan menengah. Selain itu, terdapat ratusan perguruan tinggi, rumah sakit, klinik, panti asuhan, dan berbagai amal usaha lainnya.
Dari sebuah rumah sederhana di Kauman, Yogyakarta, kini Muhammadiyah telah mendunia. Tercatat, telah ada 31 Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di 32 negara yang tersebar di lima benua (IBTimes.id, 11/8/2026).
Sekadar Potret
Apa saja yang patut dikunjungi dalam Wisata Edukasi Muhammadiyah?

Pertama, rumah KH Ahmad Dahlan di Kauman, Yogyakarta.
Di tempat ini, kita dapat merenungkan perjalanan seorang tokoh yang tumbuh dari lingkungan sederhana, tetapi memiliki cita-cita besar bagi kemajuan umat.
Muhammadiyah berdiri pada 18 November 1912 di Kauman, Yogyakarta. Pendirian Muhammadiyah diawali dengan keberadaan sekolah rakyat bernama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah yang didirikan Ahmad Dahlan pada awal 1912.
Madrasah ini pertama kali menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar dengan memanfaatkan sebuah kamar tamu di rumah Ahmad Dahlan. Ruangan tersebut memiliki panjang 6 meter dan lebar 2,5 meter. Saat itu, terdapat sembilan santri yang menjadi murid.
Di rumah sederhana itu pula terjadi peristiwa besar lainnya. Pendirian ‘Aisyiyah diawali dengan pertemuan yang digelar di rumah Ahmad Dahlan.
Pada 1917, sebuah rapat dihadiri Ahmad Dahlan, KH Fachrodin, KH Mochtar, dan Ki Bagus Hadikusumo. Hadir pula enam gadis kader Ahmad Dahlan, yaitu Siti Bariyah, Siti Dawimah, Siti Dalalah, Siti Busjro, Siti Wadingah, dan Siti Badilah.
Pertemuan tersebut memutuskan berdirinya organisasi perempuan Muhammadiyah dan menyepakati nama ‘Aisyiyah yang diajukan KH Fachrodin (muhammadiyah.or.id, Sejarah Singkat Muhammadiyah).
Di rumah Ahmad Dahlan itulah gerakan ‘Aisyiyah mulai dirintis. Dari sejarah ini, kita belajar bahwa perempuan bukan pelengkap dalam dakwah Islam. Mereka merupakan pelaku penting yang ikut membangun pendidikan, memberikan pelayanan sosial, dan mengabdi bagi kemajuan masyarakat.
Kedua, Langgar Kidul.
Tempat ini patut dikunjungi karena berkaitan erat dengan perjalanan dakwah Ahmad Dahlan. Langgar Kidul dahulu merupakan tempat ibadah keluarga Ahmad Dahlan. Letaknya berada di dekat rumah keluarga. Rumah tersebut berada di sebelah utara langgar, dengan atap yang menyentuh dinding langgar.
Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan sebenarnya diaktifkan oleh murid-muridnya sendiri. Kemudian, ketika Siti Walidah, istri Ahmad Dahlan, sudah mulai bisa mengajar, langgar tersebut digunakan sebagai tempat belajar anak-anak perempuan.
Ketika semakin banyak anak perempuan yang ikut belajar, kegiatan pembelajaran kemudian meluas hingga ke teras rumah (fai.uad.ac.id, Kenal Lebih Dekat dengan Sejarah Muhammadiyah di Kampung Kauman).
Ketiga, Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta.
Masjid ini memiliki nilai sejarah yang penting. Masjid Gedhe Kauman merupakan bagian dari lingkungan sosial dan keagamaan tempat Ahmad Dahlan mengembangkan dakwahnya.

Keempat, makam Ahmad Dahlan di Karangkajen, Yogyakarta.
Ketika berada di makam Ahmad Dahlan, kita dapat menundukkan kepala dan merenung: Bisakah prestasi kita menyamai, bahkan melampaui, perjuangan Ahmad Dahlan?
Meski wafat pada 1923 dalam usia belum mencapai 55 tahun, karya dan perjuangannya terus berkembang hingga sekarang.

Kelima, makam Siti Walidah di Kauman, Yogyakarta.
Di makam Siti Walidah, kita dapat melakukan introspeksi: Sudahkah kita ikut memperjuangkan pendidikan yang mencerahkan seperti yang telah diteladankan beliau? Sudahkah jejak dakwah kita seluas perjuangan almarhumah?
Intinya, ziarah ke makam para tokoh memiliki makna besar. Di sana kita diingatkan bahwa umur manusia terbatas, sedangkan nilai perjuangan dapat terus hidup melalui amal yang bermanfaat.
Maka, tiada pilihan lain selain terus beramal saleh tanpa putus.
Tentu masih banyak tempat yang dapat dijadikan tujuan kunjungan dalam paket Wisata Edukasi Muhammadiyah. Misalnya, Museum Muhammadiyah di Yogyakarta dan Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta.
Di lembaga pendidikan ini, kita dapat merenungkan betapa pentingnya pendidikan yang mengintegrasikan iman, ilmu, akhlak, dan pengabdian. Di sekolah ini pula, kita bisa merasakan kesungguhan Muhammadiyah dalam menyiapkan kader.
Di samping itu, jangan lupa mempelajari peran sekolah tersebut dalam perjalanan sejarah Muhammadiyah.
Perlu Paket
Atas gagasan Wisata Edukasi Muhammadiyah ini, tentu pihak Muhammadiyah sendiri yang paling memiliki peluang, bahkan tanggung jawab, untuk segera mewujudkannya.
Meski demikian, masyarakat luas juga dapat turut menyelenggarakan paket wisata tersebut. Intinya, fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan.
Untuk itu, bisa disiapkan sejumlah paket Wisata Edukasi Muhammadiyah. Misalnya, Paket A untuk setengah hari, Paket B untuk satu hari dari pagi hingga sore, dan Paket C untuk dua hari.
Dalam setiap paket perlu disertakan uraian lengkap mengenai agenda kegiatan dan pengetahuan yang akan diperoleh peserta. Misalnya, ada paket yang di dalamnya dilengkapi sesi diskusi, pemberian tugas, dan kegiatan lain yang relevan.
Bisa pula diusulkan agar seluruh peserta mendapatkan buku tentang Muhammadiyah dan Ahmad Dahlan. Adapun judulnya dapat ditentukan oleh penyelenggara.
Jika konsep sudah matang, paket wisata tersebut hendaknya aktif ditawarkan kepada masyarakat luas, terutama di lingkungan internal Muhammadiyah.
Kapan dilaksanakan? Sepanjang tahun!
Selamat, Selamat!
Ada satu hal penting yang harus kita jaga: jangan sampai Wisata Edukasi Muhammadiyah sekadar menjadi acara jalan-jalan.
Jangan mencukupkan kegiatan dengan melihat-lihat, mengambil foto, berbelanja, lalu pulang dengan membawa kenangan sesaat. Sebaliknya, kegiatan ini harus menjadi perjalanan intelektual dalam bingkai spiritual.
Ketika mengunjungi rumah Ahmad Dahlan, misalnya, bermuhasabahlah. Tanyakan kepada diri sendiri: Apa yang dapat kita teladani dari kesungguhan Ahmad Dahlan dalam berdakwah? Apa agenda dakwah kita ke depan?
Refleksi-refleksi seperti itu akan semakin kuat nilainya karena dilakukan di lokasi-lokasi bersejarah. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi pelajaran positif bagi kita.
Jadi, selamat bersiap-siap! Calon penyelenggara Wisata Edukasi Muhammadiyah harus menyiapkan acara dan agenda dengan baik. Kurikulum, pemandu, dan tim pendukung harus dipersiapkan secara matang.
Sementara itu, calon peserta juga perlu menyiapkan segala hal yang dapat membuat kegiatan tersebut memberikan manfaat maksimal.
Semoga Allah memudahkan semua niat baik kita. Mudah-mudahan, jika gagasan ini terwujud, hal itu dapat menjadi bukti bahwa kita memiliki kesadaran bersejarah.
Bismillah, Allahu Akbar!






0 Tanggapan
Empty Comments