Pagi itu. Tepat pada Selasa (21/4/2026), suasana bus yang membawa rombongan SMP Progresif Spemuga (SMP Muhammadiyah 3) Surabaya tampak berbeda dari perjalanan biasanya. Hari Kartini tahun ini tidak dirayakan dengan seremonial kaku. Melainkan melalui napak tilas bertajuk Habis Gelap Terbitlah Terang.
Ratusan siswa bertolak ke Malang untuk menyelami nilai perjuangan R.A. Kartini. Melalui empat destinasi yang memadukan alam, religi, hingga sejarah. Mengubah setiap sudut perjalanan menjadi ruang belajar yang hidup.
Kemeriahan keceriaan sudah terasa sejak bus meninggalkan Surabaya pukul 06.00 WIB. Sepanjang perjalanan, para siswa terlibat dalam Estafet Pantun & Puisi Kartini. Dimana setiap kelompok beradu kreativitas dengan karya yang mereka susun satu malam sebelumnya.
Kepala SMP Progresif Spemuga, Maria Ellen Veronica, menuturkan bahwa pendekatan ini adalah upaya sekolah untuk mendobrak rutinitas. “Spemuga memang ingin memperingati Kartini dengan cara progresif. Bukan seremonial, anak-anak langsung membuat dan mempresentasikan karyanya di perjalanan,” ungkapnya.
“Kami tak ingin merayakan Kartini lewat seremonial kaku. Di Spemuga, nilai ‘terang’ harus dijemput dengan bergerak langsung. Kami ajak anak-anak keluar zona nyaman agar semangat perjuangan itu benar-benar meresap di ingatan, bukan sekadar menjadi hafalan.”

Di Sumber Maron, Gondanglegi, para siswa diajak membumikan teori lewat praktik langsung. Sembari melakukan susur sungai menggunakan ban. Mereka mengerjakan lembar kerja PJOK, IPA, dan informatika dengan menganalisis debit air.
“Sebagai simbol kejernihan pikiran Kartini, sekaligus mengolah konten kreatif Menimba Hikmah dari Jernihnya Mata Air,” lanjut Ellen.
Perjalanan berlanjut ke Masjid Tiban Turen. Disulap menjadi kelas terbuka untuk mata pelajaran Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab. Di sana, mereka menelaah akulturasi arsitektur Timur Tengah dan Tiongkok. Memantik diskusi kritis tentang bagaimana semangat Kartini mungkin akan mewujud dalam bentuk Masjid Tiban Ilmu. Jika ia hidup di masa kini.
Petualangan intelektual terus berlanjut di Museum Panci. Saat logika matematika dan kepekaan seni bertemu dalam satu sesi unik. “Siswa ditantang mengukur diameter panci dari yang terkecil hingga terbesar. Lalu memvisualisasikannya di atas kertas dengan detail artistik,” jelas Ellen.
Menjelang kepulangan, rombongan berhenti sejenak di Masjid Merah untuk menunaikan salat jamak qasar Maghrib-Isya. Sebuah penutup yang menenangkan sebelum bus bertolak kembali ke Surabaya pada pukul 19.30 WIB.

Pengalaman selama sehari penuh ini bukan sekadar wisata tahunan. Maria Elen menyebut KTS tahun ini sebagai perpaduan pengalaman hidup yang mahal harganya bagi para siswa.
“Dari susur sungai hingga diskusi arsitektur, siswa belajar membaca realitas. Bukan sekadar menghafal teori dan rumus. Mereka menemukan bahwa ilmu pengetahuan itu hidup. Ini adalah pengalaman berharga yang jauh lebih bermakna daripada sekadar duduk menikmati bangku ruang kelas,” jelas Ellen.
Seluruh karya yang dihasilkan,mulai dari pantun, puisi, vlog, hingga foto jurnalistik, nantinya akan disusun menjadi portofolio P5 (Profil Pelajar Pancasila). Sekaligus menjadi nilai tambah untuk penilaian tengah semester. Bagi siswa Spemuga, napak tilas ini membuktikan bahwa jejak perjuangan Kartini paling nyata ditemukan saat kita berani keluar dari zona nyaman.






0 Tanggapan
Empty Comments