Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Rupiah Anjlok? Jangan Cuma Lihat Angkanya, Lihat Peluangnya!

Iklan Landscape Smamda
Rupiah Anjlok? Jangan Cuma Lihat Angkanya, Lihat Peluangnya!
Dr. Dedy Surahman, S.E,. M.M,
Oleh : Dr. Dedy Surahman, S.E,. M.M, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surabaya

Nilai tukar rupiah yang anjlok sering dianggap sebagai pertanda buruk bagi perekonomian. Padahal dalam perspektif kebijakan fiskal dan ekonomi makro, pelemahan rupiah tidak selalu berarti krisis.

Rupiah yang anjlok dalam beberapa kondisi justru membuka peluang pertumbuhan ekonomi. Tentu jika dikelola dengan kebijakan yang tepat dan disiplin fiskal yang kuat.

Salah satu sisi positif anjloknya rupiah adalah meningkatnya daya saing produk dalam negeri di pasar internasional. Ketika nilai rupiah turun terhadap dolar Amerika, harga barang ekspor Indonesia menjadi relatif lebih murah bagi negara lain.

Kondisi ini dapat mendorong peningkatan ekspor sektor manufaktur, pertanian, perikanan, hingga UMKM. Akibatnya, produksi domestik meningkat, lapangan kerja bertambah, dan penerimaan negara dari pajak maupun devisa ekspor dapat ikut naik.

Selain itu, pelemahan rupiah juga dapat menjadi momentum untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional. Ketika barang impor menjadi lebih mahal, masyarakat dan industri terdorong untuk menggunakan produk lokal.

Dari sisi kebijakan fiskal, pemerintah dapat memanfaatkan momentum ini dengan memberikan insentif kepada industri substitusi impor, seperti sektor pangan, energi, farmasi, dan teknologi domestik. Dengan demikian, struktur ekonomi menjadi lebih tahan terhadap guncangan global.

SMPM 5 Pucang SBY

Dalam konteks investasi, rupiah yang melemah kadang membuat aset dan peluang usaha di Indonesia terlihat lebih menarik bagi investor asing. Jika disertai kepastian hukum, stabilitas politik, dan pengelolaan APBN yang sehat, arus investasi dapat meningkat dan membantu pembiayaan pembangunan nasional.

Pelemahan rupiah juga dapat menjadi “alarm ekonomi” yang mendorong pemerintah lebih disiplin dalam kebijakan fiskal. Negara akan terdorong mengendalikan utang luar negeri, memperkuat penerimaan pajak, mengefisienkan belanja negara, dan memperbesar cadangan devisa. Dengan kata lain, tekanan nilai tukar dapat menjadi pemicu reformasi ekonomi yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Namun demikian, manfaat tersebut hanya dapat dirasakan apabila pemerintah mampu menjaga inflasi, stabilitas harga kebutuhan pokok, dan daya beli masyarakat. Tanpa pengelolaan fiskal yang bijak, pelemahan rupiah justru bisa membebani masyarakat melalui kenaikan harga impor dan biaya produksi.

Karena itu, literasi ekonomi penting dipahami masyarakat: nilai tukar bukan hanya soal “rupiah naik atau turun”. Tetapi tentang bagaimana negara mengelola kebijakan fiskal, menjaga produktivitas nasional, serta membangun kemandirian ekonomi jangka panjang.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 19/05/2026 15:50
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡