Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pentingnya pembaruan cara berpikir dan penguatan daya juang organisasi dalam menghadapi perubahan zaman.
Pesan tersebut disampaikan Haedar saat memberikan pengarahan pada Refleksi Milad ke-109 ‘Aisyiyah di Convention Hall Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Selasa (19/05/2026).
Kegiatan yang mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian” itu menjadi momentum refleksi perjalanan panjang ‘Aisyiyah di tengah perubahan global yang semakin kompleks.
Dalam arahannya, Haedar menyampaikan bahwa Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah kini menghadapi realitas baru akibat perubahan ekosistem sosial yang berlangsung sangat cepat.
Menurutnya, revolusi teknologi informasi turut menghadirkan tantangan baru bagi gerakan dakwah dan organisasi.
“Perjalanan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah berhadapan dengan realitas baru di mana ekosistem kita berubah cepat dan kompleks. Tantangan kita juga semakin kompleks, bahkan muncul berbagai realitas baru yang dulu tidak hadir, yakni revolusi teknologi informasi,” ujarnya.
Haedar mengajak seluruh warga persyarikatan menjadikan usia panjang organisasi sebagai energi untuk terus bergerak maju.
Ia menilai usia Muhammadiyah yang telah mencapai 113 tahun dan ‘Aisyiyah 109 tahun harus menjadi dorongan untuk meningkatkan kualitas amal usaha dan gerakan.
Mengutip hadis, Haedar mengingatkan pentingnya menjadikan usia panjang organisasi sejalan dengan kualitas amal yang semakin baik.
“Sehingga usia lebih dari satu abad Muhammadiyah ‘Aisyiyah harus menjadi motivasi untuk melangkah ke depan yang jauh lebih baik,” tegasnya.
Haedar juga menyoroti tantangan gerakan di berbagai bidang, mulai dari dakwah, pendidikan, ekonomi, hingga kesehatan.
Ia menilai mobilitas sosial masyarakat berkembang sangat cepat sehingga organisasi dapat tertinggal apabila tidak melakukan pembaruan.
“Semua hampir terjadi, mobilitas terjadi, di mana punya orang berkembang bahkan lebih baik dari kita, bahkan bisa jadi kita berjalan di tempat,” ujarnya.
Karena itu, Haedar mengingatkan pentingnya membangun spirit baru dan daya juang tinggi agar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tidak terjebak dalam sikap status quo.
Menurutnya, godaan terbesar organisasi besar adalah merasa cukup dengan capaian yang sudah ada sehingga kehilangan semangat pembaruan.
Dalam konteks pembangunan peradaban, Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah hadir bukan sekadar menjalankan aktivitas organisasi.
Menurutnya, tujuan besar persyarikatan adalah membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, yakni membangun peradaban.
“Sedangkan peradaban itu sendiri adalah sebagai puncak dari kebudayaan. Maka jika ingin membangun peradaban, bangun dulu kebudayaannya,” ujarnya.
Ia menjelaskan beberapa unsur penting pembangunan peradaban, di antaranya pembangunan bahasa, pengembangan kesenian yang mendorong kemajuan, penguatan sistem pengetahuan dan pendidikan, hingga pengembangan sistem ekonomi dan mata pencaharian.
“Aisyiyah sudah memiliki BUEKA dan berbagai amal usaha lainnya. Amal usaha kita harus dibawa ke tingkat lebih tinggi, itulah yang disebut unggul atau berkemajuan,” tegasnya.
Haedar juga mengingatkan pentingnya membenahi seluruh amal usaha persyarikatan, termasuk bidang pendidikan.
“Boleh tempatnya terpencil atau di gang sempit, tapi kualitasnya harus kita bangun,” ujarnya.
Menurut Haedar, perubahan besar harus dimulai dari perubahan alam pikiran menuju pola pikir unggul dan maju sebagaimana dicontohkan para pendiri Muhammadiyah dan Aisyiyah.
“Alam pikiran unggul dan maju harus kita bangun. Bagaimana yang kecil bisa menjadi kuat dan mengalahkan yang besar, apalagi yang besar masa kalah dengan yang kecil,” katanya.
Ia mengakui perubahan bukan hal mudah karena manusia cenderung bertahan pada kebiasaan lama.
Namun, perubahan tetap harus dilakukan dalam kerangka gerakan Islam berkemajuan agar organisasi tidak kehilangan arah.
Selain itu, Haedar mengingatkan pentingnya fokus organisasi terhadap program utama dan tidak mudah tergoda mengikuti agenda lain yang tidak selaras.
Ia juga mendorong ‘Aisyiyah memobilisasi potensi besar yang dimiliki agar tidak hanya menjadi potensi laten.
“‘Aisyiyah besar potensinya, tapi jangan biarkan potensi itu laten tersimpan di bawah. Harus diubah menjadi potensi yang termanifest,” tegasnya.
Dalam aspek kepemimpinan dan organisasi, Haedar menekankan pentingnya manajemen perubahan, manajemen pengembangan, dan manajemen kemajuan agar gagasan besar tidak berhenti sebagai wacana.
“Jangan seperti ayam di kandang bertelur satu ribut sekampung, jadilah penyu di pantai, bertelur seratus tak pernah bangga,” ujarnya.
Menutup arahannya, Haedar mengingatkan agar organisasi menghindari hal-hal kontraproduktif, termasuk aktivitas yang terlalu simbolik, serta memperkuat efisiensi gerakan sesuai arahan pimpinan pusat Muhammadiyah.
Pengarahan tersebut menjadi refleksi penting bagi gerakan perempuan Muhammadiyah untuk terus memperkuat dakwah kemanusiaan dan peran strategis ‘Aisyiyah dalam membangun peradaban damai dan berkemajuan di tengah dinamika global yang terus berubah.





0 Tanggapan
Empty Comments