Ratusan kader Tapak Suci mengikuti Apel Akbar Milad ke-63 Tapak Suci Putera Muhammadiyah yang diselenggarakan Pimpinan Cabang 043 Artha Jaya Asembagus di Lapangan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah Perante, Kecamatan Asembagus, Situbondo, Jumat (31/7/2026).
Mengusung tema “Mencetak Generasi yang Kuat, Beriman, Berakhlak Mulia, serta Mengembangkan Tradisi Tapak Suci ke Penjuru Dunia,” kegiatan ini menjadi momentum memperkuat komitmen kader Tapak Suci dalam membangun karakter, menjaga kemurnian akidah, sekaligus melestarikan seni bela diri warisan bangsa.
Bertindak sebagai pembina apel, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur sekaligus Ketua Umum Pimpinan Wilayah Tapak Suci Jawa Timur, Prof. Dr. Ir. Moch. Sasmito Djati, M.S., IPU., ASEAN Eng., PUA., menyampaikan bahwa usia Tapak Suci tidak hanya diukur dari 63 tahun berdirinya organisasi, tetapi juga dari panjangnya sejarah keilmuan yang melatarbelakangi lahirnya perguruan tersebut.
Menurutnya, Tapak Suci lahir pada era 1960-an sebagai bagian dari ikhtiar Muhammadiyah dalam memperkuat akidah umat di tengah berbagai tantangan ideologi, termasuk ancaman komunisme saat itu. Karena itu, sejak awal Tapak Suci tidak hanya hadir sebagai organisasi olahraga bela diri, tetapi juga sebagai gerakan dakwah yang menanamkan kekuatan akidah (quwwatul aqidah) dan pembentukan akhlak.
Prof. Sasmito juga mengulas perjalanan Tapak Suci dari lembaga bela diri Muhammadiyah hingga berkembang menjadi perguruan pencak silat dengan sistem keilmuan yang mapan. Ia menyebut para tokoh perintis, seperti Ismail Fadhilah dan Abdurrahman dari Situbondo, memiliki peran besar dalam merumuskan jurus-jurus yang kini menjadi kurikulum nasional Tapak Suci.
“Dua orang ini sangat berdedikasi menyumbangkan ilmunya sehingga secara nasional kita memiliki delapan jurus sebagai kurikulum nasional. Saudara boleh mengembangkan berbagai variasinya, tetapi tidak boleh lepas dari ide dasar jurus nasional,” tegasnya.
Lebih lanjut, Prof. Sasmito menegaskan bahwa Tapak Suci kini telah berkembang menjadi perguruan pencak silat yang dikenal di berbagai negara. Seiring meluasnya dakwah Muhammadiyah melalui Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di luar negeri, Tapak Suci juga menjadi sarana memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.
Ia mencontohkan penyelenggaraan Kejuaraan Dunia Tapak Suci di Malang yang diikuti peserta dari 24 negara sebagai bukti bahwa Tapak Suci telah diterima di tingkat global.
“Itulah tujuan Tapak Suci, menduniakan budaya bangsa melalui pencak silat. Itulah target kita berikutnya,” ujarnya.
Prof. Sasmito mengajak seluruh kader untuk terus mencintai, membesarkan, dan menjaga marwah Tapak Suci. Menurutnya, kemajuan organisasi hanya dapat diwujudkan apabila seluruh kader memiliki rasa bangga terhadap perguruannya serta terus meningkatkan kualitas diri.
Apel Akbar Milad ke-63 Tapak Suci Putera Muhammadiyah ditutup dengan komitmen bersama seluruh kader untuk terus mengembangkan Tapak Suci sebagai perguruan pencak silat yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Selain menjadi wadah pembinaan karakter dan akhlak, Tapak Suci juga diharapkan semakin berperan sebagai duta budaya Indonesia yang membawa nilai-nilai Islam Berkemajuan ke berbagai penjuru dunia. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments