Pernahkah kita merasa sudah berusaha menyenangkan semua orang, tetapi tetap saja ada yang kecewa?
Kita membantu seseorang, orang lain merasa diabaikan. Kita memenuhi permintaan seorang teman, orang lain menganggap kita pilih kasih. Kita bekerja keras demi keluarga, tetapi masih ada yang merasa kurang diperhatikan.
Bahkan, terkadang kita sudah memberikan yang terbaik, tetapi yang diterima justru keluhan.
Begitulah kehidupan. Setiap orang memiliki keinginan, kebutuhan, dan ukuran kebahagiaan yang berbeda. Sesuatu yang membuat seseorang puas belum tentu cukup bagi orang lain. Apa yang dianggap istimewa oleh seseorang mungkin terasa biasa saja bagi orang lainnya.
Kita pun akhirnya belajar bahwa menyenangkan semua orang adalah pekerjaan yang tidak akan pernah selesai.
Sebab, kita tidak mungkin memenuhi seluruh keinginan manusia.
Keinginan Boleh Tinggi, tetapi Jangan Menuntut Kesempurnaan
Manusia boleh memiliki cita-cita setinggi mungkin. Kita boleh bekerja keras, berusaha memperbaiki kehidupan, meraih keberhasilan, dan berharap mendapatkan masa depan yang lebih baik.
Islam tidak melarang kita mempunyai keinginan. Namun, ada satu hal yang perlu disadari: tidak semua yang kita inginkan harus menjadi kenyataan.
Kita sering menyusun rencana dengan begitu rapi. Ingin mendapatkan pekerjaan tertentu, memiliki rumah yang nyaman, menyekolahkan anak di tempat terbaik, atau meraih jabatan yang selama ini diimpikan.
Kita merasa sudah melakukan berbagai upaya. Namun, hasilnya ternyata tidak sesuai dengan harapan.
Pekerjaan yang diinginkan justru menjadi milik orang lain. Usaha yang dirintis bertahun-tahun mengalami kesulitan. Kesempatan yang sudah di depan mata tiba-tiba hilang.
Pada saat seperti itu, kita mudah merasa gagal. Seolah-olah kehidupan telah memperlakukan kita dengan tidak adil.
Padahal, tidak semua yang gagal kita raih berarti buruk bagi kehidupan. Bisa jadi, ada hal lain yang belum kita pahami. Bisa pula kita sedang diarahkan untuk menjalani jalan berbeda yang kelak justru membawa kebaikan.
Allah SWT berfirman: “Ingatlah, sesungguhnya Allah Maha Meliputi segala sesuatu.” (QS Fushshilat: 54)
Ayat ini mengingatkan kita tentang keluasan kekuasaan dan pengetahuan Allah. Manusia hanya mengetahui sebagian kecil dari kehidupan, sedangkan Allah mengetahui keseluruhannya.
Karena itu, berusaha meraih yang terbaik adalah kewajiban kita. Namun, menuntut agar semua berjalan sempurna sesuai keinginan sendiri justru dapat membuat hati kehilangan ketenangan.
Kita boleh menyusun rencana, tetapi jangan lupa menyediakan ruang bagi ketetapan Allah.
Rezeki Tidak Selalu Berbentuk Keinginan
Seorang ayah mungkin ingin membelikan anaknya sepeda baru. Namun, pada bulan itu, uang yang tersedia harus digunakan untuk membayar biaya sekolah dan kebutuhan rumah tangga.
Sang ayah mungkin merasa sedih karena belum mampu memenuhi permintaan anaknya. Si anak pun bisa jadi kecewa karena keinginannya tertunda.
Namun, di meja makan, keluarga itu masih bisa berkumpul. Anak-anak masih bisa bersekolah. Kebutuhan pokok masih terpenuhi. Ada kesehatan, ada kebersamaan, dan ada kesempatan untuk terus berusaha.
Sayangnya, hal-hal seperti itu terkadang luput dari perhatian kita. Mata terlalu sibuk memandang sesuatu yang belum dimiliki sehingga lupa mensyukuri apa yang sudah ada.
Kita mengukur rezeki dari besarnya penghasilan, padahal rezeki tidak selalu berupa uang. Kesehatan, keluarga yang menyayangi kita, sahabat yang tulus, kesempatan memperbaiki diri, bahkan ketenangan setelah melewati masa sulit juga merupakan karunia yang patut disyukuri.
Allah SWT berfirman: “Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 216)
Ayat ini mengajarkan bahwa penilaian manusia memiliki keterbatasan. Kita bisa begitu menginginkan sesuatu karena menganggapnya sebagai jalan menuju kebahagiaan. Padahal, belum tentu sesuatu itu baik bagi kehidupan kita.
Sebaliknya, kita bisa begitu kecewa ketika kehilangan sebuah kesempatan, tanpa menyadari bahwa kehilangan tersebut mungkin menyelamatkan kita dari kesulitan yang lebih besar.
Tentu saja, kita tidak selalu dapat mengetahui hikmah di balik setiap kejadian. Ada persoalan yang jawabannya baru ditemukan bertahun-tahun kemudian. Ada pula yang tidak pernah sepenuhnya kita pahami selama hidup di dunia.
Di situlah iman mengajarkan kita untuk tetap berikhtiar, bersabar, dan tidak tergesa-gesa menganggap diri sebagai orang yang gagal.
Berhenti Mengukur Kebahagiaan dengan Keinginan Orang Lain
Persoalan lain muncul ketika kita terlalu sibuk memenuhi harapan orang lain.
Kita ingin dianggap baik oleh semua orang. Kita berusaha agar tidak mengecewakan siapa pun. Kita mengiyakan permintaan meskipun sebenarnya keberatan. Kita memaksakan diri membantu orang lain, padahal kebutuhan keluarga sendiri belum terpenuhi.
Kadang-kadang, kita melakukan semua itu bukan semata-mata karena mampu, melainkan karena takut dianggap tidak peduli.
Akibatnya, kita kelelahan. Keuangan terganggu. Waktu untuk keluarga berkurang. Bahkan, hati mulai menyimpan kekecewaan karena merasa pengorbanan kita tidak dihargai.
Padahal, tidak semua permintaan harus dipenuhi. Tidak semua harapan orang lain menjadi tanggung jawab kita.
Membantu orang lain adalah perbuatan mulia. Namun, membantu juga perlu mempertimbangkan kemampuan dan kebutuhan yang lebih mendesak. Kita tidak harus mengorbankan seluruh kepentingan sendiri hanya agar orang lain merasa puas.
Allah SWT berfirman: “Dan Dia menentukan padanya bahan-bahan makanan bagi penghuninya dalam empat masa, memadai untuk memenuhi kebutuhan mereka yang memerlukannya.” (QS Fushshilat: 10)
Ayat tersebut berbicara tentang ketetapan Allah dalam menyediakan kebutuhan kehidupan. Kita dapat mengambil pelajaran bahwa kehidupan memiliki ukuran dan ketentuan. Pemenuhan kebutuhan tidak sama dengan pemuasan seluruh keinginan.
Kebutuhan perlu dipenuhi secara layak, sedangkan keinginan perlu dikelola secara bijaksana.
Ada saatnya kita harus mengatakan sanggup. Ada saatnya pula kita perlu jujur mengatakan belum mampu.
Menolak sebuah permintaan dengan cara yang baik tidak selalu berarti kita tidak peduli. Begitu pula menerima keterbatasan orang lain bukan berarti kita harus berhenti berharap.
Kita hanya perlu memahami bahwa setiap manusia memiliki kemampuan, keadaan, dan batas yang berbeda.
Jangan Biarkan Hawa Nafsu Mengambil Alih Kehidupan
Keinginan manusia bisa berkembang tanpa batas. Setelah mendapatkan satu hal, muncul keinginan terhadap hal lainnya.
Dahulu kita ingin memiliki sepeda motor. Setelah memilikinya, kita ingin mobil. Setelah mempunyai mobil, kita menginginkan yang lebih mahal. Setelah mendapatkan jabatan, kita ingin jabatan yang lebih tinggi. Begitu seterusnya.
Tidak ada yang salah dengan keinginan untuk memperbaiki kehidupan. Persoalannya muncul ketika keinginan tidak lagi mengenal batas dan mengalahkan pertimbangan akal, hati nurani, serta ajaran agama.
Seseorang yang semula bekerja keras untuk menafkahi keluarga bisa berubah menjadi orang yang mengabaikan keluarganya demi mengejar kekayaan. Orang yang awalnya ingin membantu sesama bisa kecewa ketika tidak mendapat pujian. Bahkan, ada yang tega merugikan orang lain karena tidak mampu menerima kenyataan bahwa dirinya belum mendapatkan apa yang diinginkan.
Keinginan yang tidak terkendali dapat membuat manusia kehilangan rasa cukup.
Al-Qur’an mengingatkan melalui perkataan Nabi Yusuf: “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS Yusuf: 53)
Karena itu, yang perlu kita lakukan bukan mematikan semua keinginan, melainkan mendidik diri agar mampu mengendalikannya.
Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah yang sedang kita kejar benar-benar kebutuhan, atau hanya keinginan yang terus tumbuh karena membandingkan kehidupan dengan orang lain?
Apakah kita ingin berhasil karena ingin memberikan manfaat, atau karena tidak tahan melihat keberhasilan orang lain?
Apakah kita membantu karena tulus, atau diam-diam mengharapkan balasan yang harus diberikan orang lain sesuai keinginan kita?
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak nyaman. Namun, sesekali kita memang perlu bercermin agar tidak menghabiskan umur untuk mengejar sesuatu yang tidak pernah membuat hati merasa cukup.
Bahagia Tidak Harus Menunggu Semua Keinginan Terpenuhi
Cobalah memperhatikan kehidupan orang-orang di sekitar kita. Ada keluarga yang rumahnya tidak besar, tetapi setiap malam mereka bisa bercengkerama sambil menikmati makan malam.
Ada orang yang penghasilannya biasa saja, tetapi selalu berusaha menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu tetangga.
Ada pula seseorang yang tidak memiliki jabatan tinggi, tetapi kehadirannya selalu dirindukan karena ia memperlakukan orang lain dengan hormat.
Sebaliknya, ada orang yang memiliki banyak hal, tetapi terus merasa kekurangan. Rumahnya besar, kendaraannya bagus, penghasilannya tinggi, tetapi pikirannya tidak pernah berhenti membandingkan diri dengan orang lain.
Apa yang membedakan mereka?
Bukan semata-mata banyak atau sedikitnya harta. Salah satu pembeda penting adalah cara mereka memandang kehidupan.
Orang yang mampu bersyukur tidak berarti berhenti berusaha. Ia tetap bekerja, tetap bercita-cita, dan tetap memperbaiki keadaan. Namun, ia tidak menjadikan semua keinginannya sebagai syarat untuk merasa bahagia.
Ia bisa bersyukur atas apa yang dimiliki sambil terus berikhtiar mendapatkan yang lebih baik.
Imam Abu Hamid al-Ghazali, dalam pembahasan tentang pengendalian hawa nafsu dan kebahagiaan dalam Ihya’ ‘Ulumiddin, mengajarkan pentingnya menguasai dorongan diri, bukan membiarkan diri dikuasai olehnya.
Pesan ini sejalan dengan firman Allah SWT: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS An-Nazi’at: 40–41)
Menahan hawa nafsu bukan berarti kita tidak boleh menikmati kehidupan. Kita boleh memiliki rumah yang nyaman, menikmati makanan yang baik, meraih prestasi, dan mengusahakan masa depan yang lebih sejahtera.
Namun, semua itu tidak boleh membuat kita kehilangan rasa syukur, menghalalkan segala cara, atau memandang rendah orang yang hidupnya tidak seberuntung kita.
Kebahagiaan tidak harus menunggu seluruh keinginan terpenuhi. Terkadang, kebahagiaan justru tumbuh ketika kita berhenti memaksakan sesuatu yang berada di luar kemampuan.
Bertawakal, Bukan Menyerah
Lantas, bagaimana kita menghadapi keinginan yang belum tercapai?
Pertama, tetaplah berusaha. Jangan menjadikan tawakal sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Jika ada kebutuhan yang harus dipenuhi, carilah jalan yang halal. Jika ada cita-cita yang ingin diraih, susun langkah dan kerjakan semampu kita.
Kedua, belajarlah membedakan kebutuhan dan keinginan. Dahulukan hal-hal yang penting dan menjadi tanggung jawab kita. Jangan sampai mengejar sesuatu yang belum tentu diperlukan justru membuat kebutuhan pokok terbengkalai.
Ketiga, terimalah bahwa kemampuan manusia terbatas. Kita tidak bisa selalu hadir untuk semua orang, memenuhi semua permintaan, atau membuat semua orang menyukai keputusan kita.
Keempat, rawatlah rasa syukur. Jangan sampai kesibukan mengejar apa yang belum ada membuat kita lupa terhadap karunia yang sudah Allah berikan.
Terakhir, serahkan hasilnya kepada Allah setelah melakukan ikhtiar terbaik.
Allah SWT berfirman: “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak diduga. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS At-Talaq: 2–3)
Janji Allah ini menguatkan kita untuk menjalani kehidupan dengan takwa dan tawakal. Namun, tawakal bukan berarti semua keinginan akan dikabulkan persis seperti yang kita minta. Kita diajak untuk berusaha di jalan yang benar, kemudian mempercayakan hasilnya kepada Allah yang mengetahui segala sesuatu.
Barangkali rezeki yang kita terima tidak sebanyak yang kita harapkan. Barangkali penghargaan yang kita tunggu tidak pernah datang. Barangkali orang yang sudah kita bantu tidak membalas kebaikan kita.
Tidak apa-apa. Kita tetap bisa berbuat baik tanpa harus menguasai penilaian orang lain. Kita tetap bisa bekerja keras tanpa harus menuntut hasil yang sempurna. Kita juga tetap bisa bahagia meskipun kehidupan belum berjalan sesuai rencana.
Sebab, ketenangan tidak lahir dari kemampuan memenuhi semua keinginan, melainkan dari kebijaksanaan mengelola keinginan dan kesediaan menerima keterbatasan.
Pada akhirnya, kita tidak dituntut untuk memuaskan seluruh manusia. Kita hanya perlu berusaha menunaikan tanggung jawab, menjaga hubungan baik, berbuat adil, dan tidak menyakiti orang lain demi memenuhi ambisi sendiri.
Biarlah orang lain memiliki keinginan dan ukuran kebahagiaannya masing-masing. Kita pun memiliki jalan kehidupan yang harus dijalani.
Jika hari ini belum semua harapan terwujud, jangan buru-buru menganggap hidup kita kurang beruntung. Mungkin masih ada banyak nikmat yang belum sempat kita syukuri.
Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya, membimbing kita agar tetap istikamah dalam ketakwaan, mencukupkan kebutuhan kita dengan rezeki yang halal dan berkah, serta menjaga hati kita dari keinginan yang berlebihan.
Semoga Allah menganugerahkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, serta menempatkan kita di surga-Nya.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments