Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jatim Sowan ke Pengasuh Ponpes Al-Ishlah Sendangagung 

Iklan Landscape Smamda
Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jatim Sowan ke Pengasuh Ponpes Al-Ishlah Sendangagung 
Dr Eko Hardi Ansyah MPsi saat makan Sego Muduk di kediaman Ustadz Dawam Saleh, Sabtu 2 Mei 2026. Foto (Gondo Waloyo/PWMU.CO)
pwmu.co -

Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Jawa Timur, Dr Eko Hardi Ansyah M.Psi sowan atau mengunjungi Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung, Drs. KH. Muhammad Dawam Saleh di kediamannya di komplek Ponpes di Sendangagung Paciran Lamongan Jawa Timur, Sabtu (2/5/2026).

Kunjungan pria yang akrab disapa Pak Eko ini adalah untuk pertama kali, selama ini dia hanya tahu kebesaran pesantren dari berita dan info pesatnya pendidikan di kawasan Paciran, kali ini, dia hadir mengobati rasa penasarannya tentang Ponpes Al-Ishlah.

“Pak Eko mampir di Ponpes Al-Ishlah karena beliau diundang acara Pelepasan Kelas IX SMPM 12 Paciran yang berlangsung Ahad pagi 3 Mei 2026 ia pun tertarik ingin melihat langsung pesantren yang sukses menyedot perhatian masyarakat dengan ribuan santri,”ungkap Kepala Sekolah SMPM 12 Paciran, Aminudin M.Pd yang turut mendampingi Pak Eko saat silaturrahmi di kediaman Ustadz Dawam.

Kehadiran pria asli Bangkalan tepat jam 19.45 WIB bersama istrinya dan dua anaknya disambut hangat oleh shahibul baiti, Ustadz Dawam didampingi Bu nyai (istrinya), Dra. Hj. Muthmainah, turut hadir menyambut Kepala Sekolah SMPM 12 (Spemudas) Paciran, Aminuddin M.Pd bersama Kamad Aliyah Al-Ishlah, Muhammad Arromuharmuzi M.PdI.

Ustadz Dawam nampak sangat bahagia (sumringah) atas hadirnya orang penting di dunia pendidikan Muhammadiyah Jawa Timur tersebut, ia pun meminta Bu nyai menyiapkan aneka makanan khas Desa Sendangagung, ada menu makan malam Sego Muduk dengan lauk cumi-cumi, rempeyek, dan ayam, ada pula legen, jumbrek, buah siwalan atau lontar.

“Silakan dimakan! Ini masakan khas desa ini, namanya Sego Muduk, rasanya kayak nadi Arab, dan ini bukan nasi uduk, kami biasa menjamu tamu dengan masakan sederhana ini,” ucap Bu nyai menyilakan tamunya dengan ramah.

SMPM 5 Pucang SBY

Usai makan tamu pun kembali duduk di meja tamu, nampak Pak Eko sangat antusias bertanya banyak hal terkait kiat sukses bangun pesantren sebesar ini, dan Ustadz Dawam Saleh jawab pertanyaan tersebut dengan cerita sejarah pesantren yang dirintisnya 40 tahun silam, dari santri berjumlah 10 hingga kini sampai 2000 lebih.

“SMPM 12 Paciran saat belum ada pesantren muridnya sedikit sakali, bahkan terancam bubar karena peminatnya hanya dari warga Sendangagung, itu pun ada juga yang dengan bangga tidak mau sekolah di SMPM 12 tersebut karena kurang gengsi, setelah pondok berdiri 1986 lambat laun murid bertambah dan makin banyak meskipun tanpa iklan,” cerita Ustadz yang menginjak usia 73 tahun ini.

Saya mendirikan pesantren karena obsesi saya, ingin ada pesantren seperti Pondok Modern Gontor di desa tempat kelahiran saya, usai lulus UGM tahun 1983 saya diajak teman untuk mengajar dan jadi dosen di kota semua saya tolak, saya hanya pingin mengamalkan ilmu saya dari Gontor,” imbuh kiai yang memiliki karya puisi 10 buku ini.

Pertemuan serasa singkat meskipun telah terlewati 2 jam berbicara tentang pondok dan problematika sekolah di desa, tepat pukul 21.45 WIB tamu pamit undur diri, Pak Eko banyak berterima kasih atas sambutan yang hangat sementara Ustadz Dawam juga merasa bangga disinggahi tamu jauh dari kota Sidoarjo tersebut. (*)

Revisi Oleh:
  • Nadjib Hamid - 03/05/2026 22:00
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu