Kebahagiaan yang sama juga dirasakan oleh para peserta. Salah seorang murid kelas 5, Fawaz, mengaku sangat senang dapat mengikuti kegiatan tersebut bersama teman-temannya.
Baginya, pengalaman mempraktikkan langsung rangkaian ibadah haji menjadi momen yang menyenangkan sekaligus berkesan. Selain memperoleh pengetahuan baru, ia juga merasakan suasana kebersamaan yang hangat dan penuh kegembiraan.
“Saya sangat senang karena bisa belajar manasik haji bersama teman-teman. Kami bisa praktik langsung dan lebih mudah memahami pelajarannya. Kegiatannya seru dan membuat kami bahagia,” ujarnya.
Di penghujung kegiatan, senyum bahagia masih menghiasi wajah para murid. Di balik keceriaan yang tampak sederhana itu, sesungguhnya sedang tumbuh benih-benih harapan yang besar.
Harapan agar mereka kelak menjadi generasi yang mencintai agamanya, menghormati orang tuanya, berakhlak mulia dalam pergaulannya, dan memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.
Manasik Haji Ceria Berbasis Cinta yang diselenggarakan Munamlas bukan sekadar agenda tahunan yang selesai dalam hitungan jam. Ia adalah proses menanam benih peradaban.
Sebuah ikhtiar menghadirkan pendidikan yang memanusiakan manusia, menguatkan spiritualitas, dan menumbuhkan karakter melalui pengalaman yang menyenangkan.
Di antara langkah-langkah kecil anak-anak yang mengelilingi miniatur Ka’bah hari itu, tersimpan doa-doa yang melangit.
Di antara gema takbir dan lantunan talbiyah yang mereka ucapkan, terpatri cita-cita yang kelak semoga bermuara di Tanah Suci.
Dan di antara senyum tulus yang menghiasi wajah mereka, tersirat keyakinan bahwa pendidikan yang dibangun dengan cinta akan selalu menemukan jalan untuk melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan bercahaya.
Sebab sejatinya, ketika cinta menjadi fondasi pendidikan, maka setiap pelajaran tidak hanya tersimpan di dalam buku dan ingatan, tetapi menjelma menjadi cahaya yang tumbuh di dalam hati, menerangi perjalanan hidup hingga masa depan.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments