Pimpinan Wilayah IGABA Jawa Timur melaksanakan kegiatan turun ke bawah (turba) di Jember pada Rabu (15/4/2026). Kegiatan ini diikuti sekitar 400 guru PAUD Aisyiyah dari berbagai daerah, meliputi Kabupaten Jember, Kabupaten Probolinggo, Kota Probolinggo, Banyuwangi, Lumajang, Bondowoso, dan Situbondo.
Turba tersebut turut dihadiri jajaran pimpinan Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur, di antaranya Wakil Ketua yang membidangi Majelis PAUD Dasar dan Menengah (Pauddasmen), Ketua Majelis Pauddasmen, serta Ketua PW IGABA Jawa Timur beserta jajaran.
Ketua PW IGABA Jawa Timur, Eulis Suadah, menjelaskan bahwa turba ini memiliki sejumlah tujuan strategis. Di antaranya sebagai ajang silaturahmi guru Aisyiyah se-Jawa Timur, pelaksanaan program kerja wilayah, penguatan kemandirian organisasi, sosialisasi program IGABA tahun 2026, serta forum berbagi pengalaman terkait dinamika organisasi di daerah.
“IGABA sekarang merupakan organisasi mandiri. Ini adalah pijakan awal bagi IGABA untuk semakin berkemajuan. Banyak sekali program IGABA yang perlu dilaksanakan di seluruh wilayah, terutama Jawa Timur,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun keyakinan akan kemandirian organisasi, sekaligus mendorong para guru PAUD Aisyiyah untuk terus bersemangat dalam menjalankan tugas mendidik generasi usia dini.
Menurutnya, kemandirian IGABA merupakan instruksi dari Pimpinan Pusat (PP) IGABA yang dalam implementasinya menghadapi beragam dinamika di tiap daerah. Oleh karena itu, turba menjadi langkah strategis untuk menyerap aspirasi dan memberikan penguatan langsung di lapangan.
“Dinamika setiap daerah berbeda. Karena itu, Pimpinan Wilayah merasa perlu turun langsung seperti yang kami lakukan di Jember ini,” tambahnya.
IGABA Jawa Timur sendiri mencakup 38 kabupaten/kota yang terbagi dalam enam wilayah kerja (wilker). Jember masuk dalam wilker 5 dan menjadi lokasi ketiga dalam rangkaian turba, setelah sebelumnya dilaksanakan di wilker 3 (Surabaya, Sidoarjo, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep) dan wilker 4 (Malang, Pasuruan, Batu).
Selanjutnya, turba akan berlanjut ke wilker 1 (Ponorogo, Pacitan, Madiun, Nganjuk, Ngawi), wilker 2 (Kediri, Jombang, Tulungagung, Trenggalek), dan ditutup di wilker 6 (Gresik, Lamongan, Tuban, Bojonegoro).
Dalam setiap pelaksanaan turba, sesi tanya jawab dan berbagi pengalaman (sharing session) menjadi agenda penting. Forum ini dimanfaatkan untuk menggali berbagai persoalan di daerah, khususnya terkait implementasi kemandirian IGABA, sekaligus berbagi praktik baik dari daerah yang telah lebih maju.
Salah satu peserta, Tanti Rachmayani, menyampaikan bahwa berbagai tantangan dalam proses kemandirian justru menjadi ruang pembelajaran bersama.
“Permasalahan dalam proses kemandirian pasti ada. Namun, Insyaallah setiap persoalan selalu ada jalan keluar. Hal ini membuat kita semakin belajar dan mampu mencari solusi terbaik,” ungkapnya.
Melalui turba ini, diharapkan soliditas dan kemandirian IGABA semakin menguat, sehingga mampu terus berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini di lingkungan Aisyiyah. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments