Iklan SDM 4 Mudipat 2026

UMDC Umla Ajak Siswa SMP Muhammadiyah 22 Mantup Belajar Tanggap Bencana 

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
UMDC Umla Ajak Siswa SMP Muhammadiyah 22 Mantup Belajar Tanggap Bencana 
UMDC Umla Ajak Siswa SMP Muhammadiyah 22 Mantup Belajar Tanggap Bencana. (Nova Aquila/PWMU.CO)
pwmu.co -

Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Disaster and Emergency (UKM UMDC) Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla) mengajak sekitar 70 siswa SMP Muhammadiyah 22 Mantup, Lamongan, belajar tanggap bencana melalui penyampaian materi dan simulasi Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD), Sabtu (17/10/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Perkemahan Jumat, Sabtu, dan Minggu (Perjusami) Hizbul Wathan (HW). Melalui kegiatan tersebut, para siswa tidak hanya mendapatkan pemahaman secara teoretis, tetapi juga berkesempatan mempraktikkan keterampilan dasar penanganan korban dalam situasi darurat.

Materi yang diberikan meliputi pengenalan triase, lifting, and moving atau teknik mengangkat dan memindahkan korban, serta Bantuan Hidup Dasar (BHD).

Para siswa juga diperkenalkan dengan keterampilan membalut luka, membidai bagian tubuh yang mengalami dugaan cedera, hingga Resusitasi Jantung Paru (RJP).

Penyampaian materi dikemas secara interaktif agar siswa lebih mudah memahami langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika menghadapi kondisi darurat.

Melalui simulasi, mereka diajak mengenali situasi, memahami prioritas pertolongan, serta mempraktikkan teknik dasar sesuai arahan relawan UMDC.

Dalam materi triase, siswa diperkenalkan pada konsep pemilahan korban berdasarkan tingkat kegawatan untuk menentukan prioritas penanganan.

Selanjutnya, pada materi lifting and moving, mereka belajar mengenai pentingnya teknik pemindahan korban yang tepat guna mengurangi risiko cedera tambahan.

Sementara itu, materi BHD memberikan pengenalan mengenai tindakan awal untuk membantu seseorang yang mengalami kondisi mengancam nyawa.

Praktik membalut luka dan membidai juga menjadi bagian dari pembelajaran agar siswa mengenali cara memberikan pertolongan awal sebelum mendapatkan penanganan tenaga medis.

Belajar Membidai dengan Memanfaatkan Kayu dan Ranting Pohon

Dalam praktik membidai, relawan UMDC menyesuaikan metode pembelajaran dengan karakter kegiatan Hizbul Wathan yang dekat dengan alam.

Para siswa diajak mencari kayu atau ranting pohon di sekitar lokasi perkemahan untuk dimanfaatkan sebagai alat bantu bidai sederhana.

Melalui praktik tersebut, siswa belajar bahwa dalam kondisi darurat di alam terbuka, benda-benda yang tersedia di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu pertolongan pertama, selama penggunaannya aman dan tepat.

Mereka juga diperkenalkan pada pentingnya menjaga posisi bagian tubuh yang mengalami dugaan cedera agar tidak memperparah kondisi korban.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Pendekatan ini membuat simulasi terasa lebih kontekstual karena siswa tidak hanya menerima penjelasan dari relawan, tetapi juga terlibat langsung dalam mencari bahan dan mempraktikkan teknik pertolongan.

Selain melatih keterampilan dasar, kegiatan ini menumbuhkan kreativitas, kemandirian, dan kesiapsiagaan siswa ketika menghadapi situasi darurat di alam terbuka.

Salah satu anggota UMDC, Fatih Zaki, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi siswa untuk belajar secara langsung mengenai kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap adik-adik tidak hanya memahami materi secara teori, tetapi juga memiliki keberanian dan pengetahuan dasar untuk bertindak dengan tepat ketika menghadapi situasi darurat. Kesiapsiagaan perlu dilatih sejak dini agar mereka tidak panik dan mampu memahami langkah pertolongan yang aman sesuai kemampuan,” ujarnya.

Manfaatkan Tongkat HW untuk Membuat Tandu Darurat

Ada hal menarik dalam pelaksanaan simulasi tersebut. Untuk mendukung praktik pemindahan korban, para relawan UMDC meminta bantuan panitia Perjusami untuk membuat tandu darurat menggunakan tongkat Hizbul Wathan dan tali.

Pemanfaatan perlengkapan yang tersedia di lokasi perkemahan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran mengenai kreativitas dan pemanfaatan sarana sederhana dalam kondisi darurat. Tandu darurat dapat menjadi salah satu alternatif alat bantu evakuasi apabila digunakan dengan teknik yang tepat dan mempertimbangkan keselamatan korban.

Keterlibatan panitia dalam menyiapkan tandu juga memperlihatkan bahwa kesiapsiagaan bencana bukan hanya tanggung jawab tim khusus, melainkan membutuhkan kerja sama berbagai pihak.

Dalam keadaan darurat, koordinasi, komunikasi, dan pemahaman terhadap prosedur keselamatan menjadi unsur penting dalam mendukung proses pertolongan.

Melalui kegiatan ini, UMDC Umla berupaya mengenalkan pengetahuan kebencanaan dan keterampilan pertolongan pertama kepada siswa melalui pendekatan yang aplikatif.

Pengalaman belajar secara langsung diharapkan membantu mereka memahami bahwa kesiapsiagaan tidak cukup hanya dengan mengetahui teori, tetapi juga perlu dibarengi latihan dan pemahaman mengenai batas kemampuan saat memberikan pertolongan.

Kegiatan yang terintegrasi dengan Perjusami Hizbul Wathan ini sekaligus menjadi ruang pembelajaran untuk menumbuhkan kepedulian, kedisiplinan, dan semangat saling membantu.

Dengan demikian, pendidikan kesiapsiagaan dapat ditanamkan sejak usia sekolah sebagai bekal menghadapi situasi darurat di lingkungan sekitar.(*)

Revisi Oleh:
  • Zahrah Khairani Karim - 18/10/2026 21:06
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu