Pengukuhan dua Guru Besar Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Kamis (30/4/2026), berlangsung dalam suasana yang tidak hanya khidmat, tetapi juga cair dan “basah” oleh tawa hadirin. Momen akademik itu terasa lebih hidup ketika Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyelipkan pernyataan-pernyataan segar yang mengundang gelak.
Saat menyampaikan pidato di At-Tauhid Tower, Cak Eri—sapaan akrabnya—mengaku terkesan sekaligus kaget saat menghadiri acara pengukuhan Prof. Dr. Mundakir, S.Kep., Ns., M.Kep. sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Keperawatan dan Prof. Dr. Lina Listiana, M.Kes. sebagai Guru Besar dalam Bidang Pembelajaran Metakognitif.
Dalam suasana yang santai, Eri menyoroti langkah rebranding Umsura yang dinilainya menarik. Dia menyebut penggunaan dua identitas—Umsura untuk tingkat nasional dan Muhammadiyah University of Surabaya (MUS) untuk level internasional—sebagai strategi yang visioner.
Branding internasional itu mengingatkannya pada National University of Singapore (NUS), kampus di Singapura yang menduduki peringkat 8 perguruan tinggi terbaik dunia.
Eri yakin dengan soal peringkat perguruan itu tidaklah paten. Pasti bisa berubah. Artinya, MUS diyakini bisa mengalahkan NUS.
“Jangan kuatir, Prof. dia (NUS) tidak akan pernah mengalahkan MUS. Karena dalam abjad, M lebih dulu daripada N. Maka dalam waktu singat, Insya Allah saya yakin MUS lebih tinggi dari NUS. Dan ini membaggakan Surabaya,” ujar dia menyemangati, lalu disambut tepuk tangan hadirin.
Suasana semakin hidup ketika Eri menanggapi paparan Prof. Mundakir terkait fenomena masyarakat yang kerap menunda berobat hingga penyakit sudah parah, atau enggan mencari bantuan saat mengalami tekanan mental.
Seraya berseloroh, Eri mengaku tergelitik dengan penjelasan tersebut. Ia kemudian membayangkan jika hal itu diterapkan pada dirinya sebagai pejabat publik.
“Prof, batin saya dalam hati, kalau seandainya saya dan Pak Yes (Yuhronur), Bupati Lamongan, perikso karena tertekan, kiro-kiro headline Jawa Pos keluar: Wali Kota Surabaya dan Bupati Lamongan Gendeng, Stres, wah tambah susah Prof. Beritaya tambah besar gak karu-karuan. Makanya, nanti penelitian jenengan cukup di rumah dinas saya dan rumah dinas bupati Lamongan,” kelakarnya, lalu disambut gerr dan tepuk tenngan.
Canda yang dilontarkan Eri Cahyadi membuat suasana ruangan terasa akrab dan penuh kehangatan. Hadirin beberapa kali dibuat tertawa, menjadikan prosesi pengukuhan guru besar tidak kaku, melainkan mengalir ringan namun tetap bermakna.
Kolaborasi Perguuan Tinggi
Dalam kesempatan itu, Eri Cahyadi menegaskan bahwa pembangunan kota tidak dapat berjalan optimal tanpa melibatkan dunia akademik. Ia bahkan secara tegas menyebut bahwa Surabaya tidak akan mencapai kemajuan seperti saat ini jika tidak menggandeng para rektor dan perguruan tinggi.
“Surabaya maju bukan karena saya, tetapi karena kita melibatkan perguruan tinggi dalam pembangunan. Di sana ada sains, ada ilmu pengetahuan, dan semuanya bisa diterapkan untuk masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat pengembangan ilmu, inovasi, sekaligus solusi atas berbagai persoalan kota. Integrasi antara kebijakan pemerintah dan kajian ilmiah menjadi kunci dalam menghadirkan pembangunan yang berkelanjutan.
Dalam suasana yang hangat, Eri juga mengungkapkan kedekatan personalnya dengan kalangan akademisi. Ia bahkan mengaku merasa mendapat “berkah” dalam menjalankan amanah sebagai wali kota karena dukungan dari tokoh pendidikan, termasuk Prof. Sukadiono dan Muhammadiyah.
Tak hanya itu, dia juga menyampaikan sisi humanis dalam acara tersebut. Dengan nada berseloroh, Eri mengatakan bahwa dirinya mengenakan jas khusus sebagai bentuk penghormatan dan persahabatan kepada Prof. Mundakir.
“Ini saya pakai jas karena sahabat saya, Prof. Mundakir,” katanya disambut tawa hadirin.
Lebih jauh, Eri menyoroti pentingnya pendekatan holistik dalam pembangunan manusia. Ia menilai bahwa ilmu pengetahuan saja tidak cukup, melainkan perlu dipadukan dengan nilai budaya, keluarga, dan spiritualitas.
Ia mencontohkan fenomena di masyarakat, di mana banyak orang baru berobat ketika sakit sudah parah, atau enggan mencari bantuan ketika mengalami tekanan mental. Menurutnya, hal ini menunjukkan pentingnya edukasi yang menyentuh aspek kesadaran dan keseimbangan hidup.
“Harus ada penggabungan antara budaya, keluarga, dan spiritual. Itu yang akan membentuk masyarakat yang kuat,” tegasnya.
Dalam konteks tersebut, ia juga mengungkapkan bahwa berbagai gagasan dari kalangan akademisi telah diadopsi dalam program pemerintah kota, salah satunya dalam pengembangan konsep Kampung Pancasila yang mengintegrasikan nilai kebangsaan dengan kehidupan sosial masyarakat.
Eri mengaku telah berdiskusi langsung dengan Prof. Mundakir untuk mengembangkan berbagai inovasi berbasis ilmu pengetahuan yang dapat diterapkan secara nyata di tengah masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments