Refleksi akhir tahun yang digelar Muhammadiyah Jombang menjelang tahun baru Masehi 2026 menjadi momentum penting untuk menegaskan arah baru gerakan Muhammadiyah: kemandirian ekonomi sebagai fondasi kemajuan organisasi.
Hal itu disampaikan Prof. Dr. Biyanto, MAg, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, dalam ceramah reflektif yang memadukan sejarah, teologi, dan tantangan aktual persyarikatan.
Dalam pandangannya, Biyanto menilai telah terjadi pergeseran persepsi tentang wilayah-wilayah yang selama ini dianggap “pinggiran” secara ekonomi, seperti Jombang dan Tuban.
Dia mengaku terkejut sekaligus bangga melihat geliat ekonomi Muhammadiyah di kawasan tersebut, mulai dari pengembangan green house pertanian, peternakan ayam, hingga kawasan terpadu amal usaha.
“Selama ini Jombang dan Tuban sering dianggap tidak punya apa-apa. Tapi hari ini saya menyaksikan sesuatu yang berbeda. Justru gerakan ekonomi itu sekarang mulai bergeser ke sini,” ujar Biyanto seperti dikutip dalam kanal Youtube J-MU TV
Menurut Guru Besar UIN Sunan Ampel itu, jika Muhammadiyah ingin benar-benar mandiri dan berkemajuan, maka ekonomi adalah kata kunci yang tak terelakkan.
Biyanto menegaskan, dakwah Muhammadiyah tidak berhenti pada mimbar dan retorika, tetapi harus berwujud dalam amal konkret yang menyentuh kehidupan umat.
Dia mengaitkan hal ini dengan sejarah awal Muhammadiyah. Berdasarkan sejumlah kajian, sekitar 70 persen pendiri dan penggerak awal Muhammadiyah adalah saudagar, khususnya dari Kauman, Pekalongan, dan Pekajangan. Jaringan ekonomi para saudagar inilah yang menjadi penopang kuat dakwah KH Ahmad Dahlan.
“KH Dahlan itu pedagang batik dengan jaringan yang luas. Dakwah Muhammadiyah bergerak mengikuti jalur kereta api, dari stasiun ke stasiun. Ini menunjukkan bahwa ekonomi sejak awal adalah tulang punggung gerakan,” jelasnya.
Jejak sejarah itu, menurut Biyanto, kini sedang dikonstruksi ulang dan akan diluncurkan dalam Kajian Ramadan di Universitas Muhammadiyah Jember pada akhir Februari 2026.
Ayat Al-Qur’an yang Menjadi Amal Nyata
Biyanto kemudian menegaskan ciri khas Muhammadiyah: ayat-ayat Al-Qur’an tidak berhenti sebagai teks, tetapi menjelma menjadi institusi dan kerja nyata.
Dia mengutip pernyataan Ustaz Adi Hidayat yang menyebut bahwa di tangan KH Dahlan, Al-Qur’an dan hadis berubah menjadi sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan layanan sosial.
“Dalam konteks hari ini, ayat-ayat ekonomi Al-Qur’an itu di Jombang dan Tuban berubah menjadi green house, kebun melon, dan kandang ayam,” ujarnya.
Dia menyinggung kiprah para tokoh Muhammadiyah yang mengembangkan peternakan ayam sebagai basis ekonomi umat. Bahkan, dengan nada humor, ia menyebut kisah tentang “masuk surga lewat dubur ayam”, sebuah metafora tentang bagaimana usaha ekonomi yang dikelola amanah bisa menjadi jalan amal dan keberkahan bagi persyarikatan.
Biyanto mengingatkan, pada abad pertama Muhammadiyah, gerakan ini ditopang oleh tiga pilar utama: pendidikan, kesehatan, dan layanan sosial—yang ia sebut sebagai Trisula Abad Pertama, sebagaimana ditulis Hajriyanto Y. Thohari di Harian Kompas.
Ketiga pilar tersebut berakar dari penghayatan mendalam KH Dahlan terhadap Surah Al-Ma’un, yang hanya tujuh ayat tetapi dikaji selama berbulan-bulan hingga melahirkan teologi amal.
Memasuki abad kedua, Muhammadiyah merumuskan Trisula Abad Kedua pada Muktamar ke-47 di Makassar (2015), yang salah satunya secara tegas menyentuh sektor ekonomi. Tiga elemen utama trisula ini adalah:
Lazismu sebagai penguatan filantropi dan trust publik, MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) sebagai garda kemanusiaan dan kebencanaan, Penguatan ekonomi dan amal usaha sebagai basis kemandirian.
“Kepercayaan itu mahal. Muhammadiyah dipercaya negara dan masyarakat karena integritas dan budayanya. Yang kaya itu organisasinya, bukan elit pimpinannya,” tegas Biyanto.
Dia bahkan menyebut hasil survei internasional yang menempatkan Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi keagamaan terkaya di dunia, dengan aset ratusan triliun rupiah—buah dari kepercayaan, wakaf, dan filantropi yang dikelola secara amanah.
Mudawalah: Memahami Naik-Turun Sejarah
Dalam bagian reflektif, Biyanto mengajak hadirin memahami konsep mudāwalah, pergiliran nasib dan keadaan, sebagaimana disebut dalam Surah Ali Imran ayat 140.
Dia mengaitkannya dengan kisah Perang Badar dan Uhud, saat kemenangan dan kekalahan silih berganti.
“Hidup itu berputar. Kadang naik, kadang turun. Jombang tidak perlu minder jika hari ini belum seperti daerah lain. Selama ada ikhtiar dan peta jalan yang jelas, perubahan itu sunnatullah,” ujarnya.
Biyanto menegaskan bahwa refleksi akhir tahun harus berujung pada perencanaan yang terukur: target ekonomi, pengembangan aset, jumlah amal usaha, dan indikator keberhasilan yang jelas untuk 2026.
Biyanto kembali menegaskan karakter Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modern—modern dalam berpikir, merencanakan, dan bertindak.
Dia mengingatkan pesan Surah Al-‘Ashr yang hanya tiga ayat, namun dikaji KH Dahlan selama berbulan-bulan karena kandungan nilainya yang mendasar: iman, ilmu, amal, saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
“Kalau hari ini sama dengan kemarin, kita rugi. Kalau hari ini lebih baik dari kemarin, itulah ciri orang beruntung,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments