Andalusia adalah nama wilayah di Semenanjung Iberia (sekarang meliputi Spanyol dan Portugal).Wilayah inipernah menjadi pusat peradaban Islam di Eropa,hampir 800 tahun. Di sana, dari 92 H sampai 897 H, Islam yang agungpernah bersinar.
Andalusia kala itu gemilang dengan capaian peradaban yang tinggi. Hal ini, ditandai dengan kemajuan besar dalam ilmu pengetahuan, arsitektur, kedokteran, filsafat, dan lain-lain.Dalam kilau masjid-masjid agung, perpustakaan raksasa, serta universitas yang dipenuhi ilmuwan, terasa betapa Islam pernah mewarnai dunia.
Adapun buku ini berisi 63 kisah di Andalusia, di zaman itu. Isinya, unik sekaligus berharga. Di samping memikat karena disajikan secara cair, kisah-kisahnya berisi pelajaran yang penting. Penulisnya, bisa menjadi garansi kualitas. Dia, Muhammad Asy-Syarqawi, bergelar Profesor dan Doktor.Dia mengajar di Universitas Al-Azhar Mesir. Di situ, dia Ketua Jurusan Tafsir dan Ilmu Al-Qur’an. Karya tulisnya banyak, terutama yang terkait tema kisah.
Tersebab Buku
Bukalah judul ”Pasar Buku di Kordoba”(h.126-129).Tersebutlah, seorang pemuda bernama Abdullah. Dia tinggal di Badajos, bagian dari Andalusia. Tersebab ayahnya kaya, Abdullah hidup manja dan kurang bersemangat.
Si ayah lalu sadar. Agar si anak punya aktivitas yang positif, si ayah memberi modal untuk usaha. Jenis usahanya, terserah si anak.
Berangkat-lah Abdullah ke Kordoba.Di sana, di sebuah pasar yang besar, Abdullah melakukan semacam survei: Gerangan, barang apa yang patut dia perdagangkan? Dia susuridan cermati berbagai isi kios: Kain, minyak wangi, perkakas rumah, dan banyak yang lain.
Di langkah ke sekian, Abdullah sampai di sebuah lelang buku. Dia-pun ikut di dalamnya. Singkat kisah, dia membeli banyak buku.
Di penginapan, buku-buku itu diseleksinya: Mana buku yang akan dikoleksinya sendiri karena isinya penting dan mana pula yang akan dijualnya. Ternyata, yang akan dikoleksinya sendiri jauh lebih banyak.
Abdullah lalu asyik membaca berbagai buku. Sejak itu dia tekun belajar. Sejumlah kitab dipelajari bahkan dihafalnya. Hal yang kurang dipahaminya, dia tanyakan kepada ulama yang ahli di bidang itu.
Mulai-lah, bagi Abdullah, menuntut ilmu terasa manis. Hingga, pada akhirnya, dia sendiri dikenal sebagai seorang alim yang diperhitungkan. Dia kemudian berada di posisi sebagai tokoh yang terpandang.
Pada perkembangannya, Abdullah rindu akan kampung halamannya. Dia memutuskan untuk pulang. Dia akan menemui keluarganya. Sementara, saat itu, semua uang untuk modal usaha sudah habis.
Saat di tiba rumah, sang ayah terheran-heran melihat Abdullah pulang dengan tangan hampa. Sang ayah terkejut, si anak tak membawa apa-apa. Hal itu, lalu dipertanyakan sang ayah.
Abdullah lantas menjelaskan apa yang telah dijalaninya. Apa respons sang ayah?Setelah dilihatnya si anak berproses seperti itu, yaitu menjadi orang yang berilmu, sang ayah justru gembira. Dia, bahagia. ”Wahai anakku, ini adalah nikmat Allah untukmu, karena Dia telah membuatmu sibuk dengan ilmu,” kata si ayah (h.128).
Lalu, sang ayah memberi lagi sejumlah uang. Dengan bekal itu, Abdullah kembali ke kota dan berguru kepada sejumlah ulama. Hasilnya? Dia pun mencapai kedudukan yang tinggi dan itu ditandai dengan banyaknya orang yang mengambil ilmu darinya.
Lebih lanjut, siapa Abdullah? Dia bernama lengkap Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad bin As-Sayyid Al-Bathalyusi. Keahliannya, terutama nahwu dan sastra. Dia punya sejumlah karya tulis. Adapun di antara kalimatnya yang patut kita ingat adalah ini: ”Seorang penuntut ilmu sastra lebih butuh untuk mendidik jiwa dan akhlaknya daripada sekadar memperindah tutur katanya” (h.129).
Tak Kuasa
Sekarang, kita baca ”Nasihat untuk Para Raja: Relasi yang Indah antara Hakim dan Raja”(h.134-137). Alkisah, seorang khalifah bernama Abdurrahman An-Nashir, membangun Kota Madinah Az-Zahrah. Di dalamnya, termasuk kompleks istana yang megah dan indah. Bertahun-tahun proyek itu dikerjakan dengan memakai bahan berkualitas paling istimewa. Termasuk, di bagian tertentu, dilengkapi pula dengan emas dan perak.
Setelah selesai semuanya, diundang-lah khalayak ramai dari semua kalangan. Hadir, misalnya, dari kalangan pejabat sampai masyarakat umum. Semua diberi kesempatan mengomentari bangunan yang baru selesai itu.Dari segenap yang berpendapat, semua memuji dengan berbagai kalimat bernada menyanjung sang khalifah.Tentu si khalifah senang dengan aneka puja-puji itu.
Sampai-lah kemudian, masuk seorang hakim. Namanya, Mundzir bin Sa’id. Dia diam dan menundukkan kepala.
Khalifah-pun mempersilakan Mundzir untuk ikut bicara seperti orang-orang yang sebelumnya. Berbeda dengan yang lain, Mundzir lalu menasihati: ”Demi Allah, wahai Amirul Mukminin. Saya tidak mengira bahwa setan -semoga Allah mnghinakannya- telah menguasai dirimu sampai sejauh ini. Engkau membiarkannya mengendalikan dirimu sampai sejauh ini. Engkau membiarkannya mengendalikan dirimu seperti ini, padahal Allah telah mengaruniakan kepadamu kekuasaan dan melebihkan dirimu di atas semesta alam, hingga setan menurunkanmu ke dalam kedudukan orang kafir.”
Mendengar itu, muka Khalifah Abdurrahman memerah. ”Wahai Hakim, perhatikan apa yang kamu katakan,” kata si khalifah. Kalimat itu disusul pertanyaannya yaitu, bagaimana bisa setan menurunkan dia ke dalam kedudukan orang kafir?
Sang Hakim membenarkan apa yang dikatakan dirinya seraya mengutip ayat ini: ”Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng- loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya. Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya. Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa” (QS Az-Zuhruf [43]: 33-35).
Mendengar ayat itu, Khalifah Abdurrahman menunduk dan menangis. Dia menyesal. Dia berterima kasih dan mendoakan kebaikan bagi Sang Hakim. Tak hanya itu, Khalifah lalu memerintahkan membongkar atap kubah emas dan perak serta menggantinya dengan ubin biasa dari batu bata merah (h.136).
Banyak Ibrah
Termasuk dua kisah di atas, bisa dibilang, semua kisah nyata di buku ini menarik. Semuanya, memuat pelajaran penting. Semuanya, disampaikan dengan indah. Bacalah, misalnya, judul-judul ini: Bisikan di Telinga Penuntut Ilmu (h.189-191),Guru Terbaik (h.224-226),Hadiah Sastra Paling Aneh (h.334-336), dan Di Atas Sunnah Saya Mati (h.340-341).
Buku ini menarik, pertama, bisa menjadi bagian dari usaha kita dalam merespons permintaan Al-Qur’an agar kita suka mempelajari kisah atau sejarah. Kedua,cocok untuk semua umur.Ketiga, bahasanya mengalir, enak diikuti. Keempat, pesan-pesannya mudah ditangkap.Kelima,berbagai catatan kaki di dalamnya cukup membantu untuk lebih memahami sebuah bahasan.Keenam, karena berisi kumpulan kisah maka membacanya tak harus berurut. Kita bisa mendahulukan tema-tema yang dianggap paling menarik.
Jika pun ada yang perlu disampurnakan, untuk edisi cetak ulang, ada baiknya berikut ini menjadi perhatian: Pertama, biografi penulis perlu ditulis lebih lengkap sebab yang di edisi ini terlalu singkat yaituhanya sekitar setengah halaman (h.401).Kedua,Daftar Pustaka, perlu dihadirkan. Ketiga, indeks lebih bagus jika ada.
Apa pun, buku ini bermanfaat. Buku ini berisi kisah-kisah keseharian yang mengandung pembelajaran yang bernas. Buku ini, patut kita segera koleksi dan baca.
- Judul : Kisah-Kisah Unik dari Andalusia
- Penulis: Muhammad Asy-Syarqawi
- Penerbit : Pustaka Al-Kautsar – Jakarta
- Terbit : Oktober 2026
- Tebal : x + 401 halaman






0 Tanggapan
Empty Comments