Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Raih Ridha-Nya! Kajian Jumat Pagi MTs Muhita Bedah Lima Golongan yang Dicintai Allah

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Raih Ridha-Nya! Kajian Jumat Pagi MTs Muhita Bedah Lima Golongan yang Dicintai Allah
Kajian Jumat Pagi MTs Muhita Bedah Lima Golongan yang Dicintai Allah. (Nanik/PWMU.CO)
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
pwmu.co -

Bagaimana menjadi pendidik yang tidak hanya profesional, tetapi juga dicintai Allah SWT? Pertanyaan ini menjadi salah satu pesan penting dalam Kajian Rutin Jumat Pagi yang diselenggarakan MTs Muhammadiyah 1 Taman (MTs Muhita) Sidoarjo, Jumat (23/10/2026).

Kegiatan yang diikuti seluruh guru dan karyawan ini berlangsung di lingkungan madrasah. Kajian rutin tersebut menjadi ikhtiar untuk memperkuat ketakwaan, mempererat silaturahmi, sekaligus menanamkan nilai-nilai Islam dalam pelaksanaan tugas pendidikan.

Kajian kali ini menghadirkan Ustadz Amrozi, S.Fil.I., M.Pd.I., yang menyampaikan materi bertema “Golongan Orang yang Dicintai oleh Allah SWT”.

Dalam pemaparannya, ia mengajak para peserta memahami sejumlah petunjuk Al-Qur’an tentang sifat dan perilaku manusia yang dicintai Allah. Nilai-nilai tersebut, menurut materi kajian, dapat menjadi pedoman bagi guru dan karyawan dalam menjalankan amanah di madrasah.

Adil dalam Menjalankan Amanah

Golongan pertama yang dibahas adalah orang-orang yang berbuat adil. Dalam Surah Al-Ma’idah ayat 42, Allah SWT berfirman:

وَإِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Artinya: “Jika engkau memutuskan (perkara mereka), putuskanlah di antara mereka dengan adil. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.”

Nilai keadilan sangat penting dalam dunia pendidikan. Guru dituntut memberikan penilaian secara objektif, memperlakukan peserta didik secara proporsional, serta tidak membeda-bedakan siswa berdasarkan latar belakangnya.

Demikian pula tenaga kependidikan, yang harus memberikan pelayanan secara jujur, adil, dan bertanggung jawab. Dengan demikian, keadilan tidak berhenti sebagai konsep, tetapi diwujudkan dalam setiap keputusan dan tindakan.

Sabar Membimbing Generasi

Golongan kedua adalah orang-orang yang sabar. Dalam Surah Ali ‘Imran ayat 146, Allah SWT berfirman:

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

Artinya: “Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.”

Kesabaran merupakan modal penting bagi seorang pendidik. Setiap peserta didik memiliki karakter, kemampuan, dan proses belajar yang berbeda. Karena itu, guru membutuhkan ketekunan dan kesabaran dalam membimbing mereka agar berkembang secara optimal.

Sabar bukan berarti menyerah pada keadaan, melainkan tetap berusaha, mendidik dengan bijaksana, dan mencari solusi ketika menghadapi kesulitan dalam pembelajaran.

Bertawakal Setelah Berikhtiar

Golongan ketiga adalah orang-orang yang bertawakal kepada Allah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Surah Ali ‘Imran ayat 159:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”

Dalam konteks pendidikan, tawakal diwujudkan dengan bekerja secara sungguh-sungguh, mempersiapkan pembelajaran dengan baik, memberikan pelayanan terbaik, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Tawakal bukan alasan untuk mengurangi usaha. Sebaliknya, keyakinan kepada Allah menjadi kekuatan bagi pendidik untuk tetap optimistis dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.

Bertaubat dan Terus Memperbaiki Diri

Golongan keempat adalah orang-orang yang bertaubat dan menyucikan diri. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 222, Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”

Pesan ini mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki kekurangan. Karena itu, seorang pendidik perlu membiasakan muhasabah atau evaluasi diri, mengakui kekeliruan, dan bersedia memperbaiki kesalahan.

Guru yang baik bukanlah guru yang tidak pernah salah, melainkan guru yang mau belajar dan terus memperbaiki diri. Selain menjaga kebersihan lahir, pendidik juga perlu menjaga kebersihan hati, meluruskan niat, serta menghindari sikap yang dapat merugikan orang lain.

Menjadikan Pekerjaan sebagai Amal Saleh

Golongan kelima dibahas melalui pesan Surah Al-Kahfi ayat 110 tentang orang-orang yang mengharapkan pertemuan dengan Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Artinya: “Maka barang siapa mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”

Ayat ini mengandung pesan agar setiap Muslim memperbanyak amal saleh dan menjaga kemurnian ibadahnya kepada Allah SWT.

Bagi pendidik, pesan tersebut dapat diwujudkan dengan meluruskan niat dalam mengajar dan bekerja. Mendidik bukan semata-mata menjalankan profesi, melainkan juga menjadi kesempatan untuk menebar manfaat, membimbing generasi, dan berkontribusi bagi masa depan umat.

Setiap tugas yang dilaksanakan dengan niat yang benar, cara yang baik, dan tanggung jawab dapat menjadi bagian dari ikhtiar meraih ridha Allah SWT.

Menguatkan Ruhiyah Guru dan Karyawan

Kepala MTs Muhita, Mochammad David El Hakim, S.Th.I., M.Pd., menyampaikan bahwa kajian rutin Jumat pagi bukan sekadar agenda mingguan, tetapi juga sarana penguatan ruhiyah bagi seluruh guru dan karyawan sebelum menjalankan aktivitas pendidikan.

Ia berharap materi yang disampaikan Ustadz Amrozi dapat dipahami, dihayati, dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam meneladani sifat-sifat yang dicintai Allah SWT.

Para guru dan karyawan mengikuti kajian dengan khidmat dan antusias. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen madrasah untuk membangun lingkungan pendidikan yang tidak hanya mengedepankan profesionalisme, tetapi juga menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman. (*)

Revisi Oleh:
  • Nadjib Hamid - 26/10/2026 07:29
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu