Umat terdahulu yang dihancurkan Allah Subhaanahu wa Ta’ala karena mendustakan ayat-ayat Allah Subhaanahu wa Ta’ala dan para rasul-Nya, meskipun para rasul itu telah membawa tanda bukti. Dua kedustaan itu cukup membawa diri mereka dijebloskan dalam penderitaan, hanya saja mereka tidak merasa.
Kebohongan akan membawa kenistaan dan kesengsaraan hidup. Pertanyaannya, apakah semua orang menyadari akibat kebohongan itu? Ada orang berbohong itu biasa, karena sudah menjadi kebiasaan dan tak takut dosa, meskipun beragama. Ada pula yang takut berbuat bohong, karena dia terbiasa jujur dan takut dosa serta memiliki ketaatan yang kuat pada ajaran agamanya. Ada juga yang terpaksa berbuat bohong karena diancam atau diintimidasi.
Melakukan kebohongan sangat dilarang dalam Islam, sebab akan berakibat nista di akhirnya. Masalahnya, orang yang melakukan kebohongan itu, percayakah bahwa itu dosa yang mengakibatkan kehinaan dan kesengsaraan? Jika tidak, maka dia akan menutupi kebohongannya dengan berbagai cara agar tidak diketahui orang lain.
Bagi seorang mukmin, berbuat bohong merupakan pantangan yang harus dijauhi, karena dirinya sudah beriman kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala, yang berarti merasa dalam pengawasan-Nya di mana saja berada. Itulah sebabnya dia merasa takut melakukan kebohongan.
Perintah Menjauhi Kebohongan
Jangan biarkan kebohongan menyusup pada diri kita, karena ini larangan yang tidak boleh dilanggar. Nabi Muhammad Shalallahu alaihi was Sallam pernah bersabda:
“Kalian wajib jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan, dan kebajikan membawa kepada surga. Jika seseorang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allâh sebagai seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan, karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Jika seseorang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allâh sebagai seorang pendusta.” HR. Muslim.
Muatan hadits di atas dapat kita serap:
Pertama, kejujuran merupakan modal menuju surga. Karena kejujuran akan membawa hal-hal yang benar dan baik yang akan memberi peluang orang yang melakukannya dimasukkan ke dalam surga.
Kedua, kebohongan akan membawa kesengsaraan hidup, karena bersumber dari kebohongan itu sendiri.
Ketiga, kebiasaan jujur akan membuahkan kebahagiaan, sedangkan kebohongan akan mengakibatkan penderitaan dan kesengsaraan.
Sebagai orang yang beriman, kejujuran adalah pilihan yang tepat dan tidak akan lepas, meskipun banyak godaan dunia. Kejujuran juga tidak akan lepas meskipun ada ancaman, pemboikotan, dan sebagainya. Semoga kita tetap berpegang pada kejujuran dalam kehidupan, sehingga sifat dusta benar-benar hilang dari diri kita dan kita tetap berada dalam kejujuran serta merasakan buahnya.





0 Tanggapan
Empty Comments