Menjaga toleransi dalam kehidupan bermasyarakat yang penuh keberagaman merupakan kebutuhan yang sangat penting. Indonesia terdiri dari berbagai suku, budaya, agama, dan bahasa. Perbedaan tersebut bukan alasan untuk saling bermusuhan, melainkan menjadi kekuatan untuk saling mengenal dan bekerja sama.
Dalam Islam, umat diajarkan untuk memiliki sikap adil, toleran, serta wasathiyah (moderat). Toleransi dalam Muhammadiyah dimaknai sebagai ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia) dan sikap baik (muamalah) dengan seluruh anggota masyarakat, baik muslim maupun non-muslim, tanpa mengorbankan akidah.
Pengertian Wasathiyah
Kata wasathiyah berasal dari bahasa Arab wasath yang berarti tengah, seimbang, dan adil. Sikap ini menghindarkan seseorang dari perilaku ekstrem, baik berlebihan maupun meremehkan agama.
Menurut Siti Dalilah Candrawati, wasathiyah adalah prinsip moderasi dalam Islam yang mencerminkan jalan tengah, adil, dan seimbang (tawazun).
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًاۗ
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu umat pertengahan (umat yang adil dan pilihan), agar kamu menjadi saksi atas manusia…” (QS. Al-Baqarah: 143)
Ayat ini menegaskan bahwa umat Islam adalah umat pertengahan—adil, seimbang, dan tidak berlebihan dalam bersikap.
Pentingnya Menjaga Toleransi
Islam mengajarkan pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama, baik muslim maupun non-muslim, dengan tetap menjaga hak dan kehormatan masing-masing.
Allah SWT berfirman:
“Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6)
Firman lainnya:
“Wahai manusia! Sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…” (QS. Al-Hujurat: 13)
Ayat tersebut menegaskan bahwa keberagaman adalah sunnatullah dan harus disikapi dengan saling menghargai, bukan permusuhan.
Tidak Mudah Terprovokasi di Era Digital
Di era digital saat ini, penyebaran hoaks, fitnah, dan ujaran kebencian sangat cepat melalui media sosial. Tanpa kehati-hatian, seseorang mudah terpancing emosi yang berujung pada perpecahan.
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini mengajarkan pentingnya tabayyun, yaitu memverifikasi informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Bukanlah orang kuat itu yang menang bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menekankan pentingnya mengendalikan emosi agar tidak mudah terprovokasi.
Larangan Bersikap Ekstrem
Rasulullah ﷺ juga memperingatkan umat agar tidak bersikap berlebihan dalam beragama:
“إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ”
“Hindarilah sikap berlebih-lebihan dalam agama, karena sesungguhnya yang membinasakan umat sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan dalam agama.” (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)
Sikap ekstrem hanya akan melahirkan permusuhan, kebencian, dan ketidakadilan. Karena itu, Islam menekankan keseimbangan dalam bersikap.
Cara Menjaga Toleransi dan Wasathiyah
- Menghormati perbedaan pendapat dan keyakinan
- Menjaga ucapan agar tidak menyakiti orang lain
- Memeriksa informasi sebelum menyebarkan
- Mengutamakan musyawarah dan dialog
- Menahan emosi saat menghadapi konflik
- Mengedepankan kasih sayang dan persaudaraan
Menjaga toleransi dan sikap wasathiyah merupakan ajaran mulia dalam Islam. Seorang muslim hendaknya menjadi pribadi yang adil, seimbang, damai, serta tidak mudah terprovokasi.
Dengan demikian, kehidupan masyarakat akan tetap harmonis dan persatuan bangsa dapat terjaga.
Mari menjadi umat pertengahan (wasathan) sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 143—umat yang membawa kedamaian, keadilan, dan rahmat bagi seluruh alam.
Wallahu A’lam Bisshawab.





0 Tanggapan
Empty Comments