Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Benarkah Kecanduan Belanja Online Termasuk Gangguan Mental? Ini Kata Dosen Umsura

Iklan Landscape Smamda
Benarkah Kecanduan Belanja Online Termasuk Gangguan Mental? Ini Kata Dosen Umsura
pwmu.co -

Di era digital yang terus berkembang, kebiasaan belanja online semakin menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Kemudahan akses, harga yang relatif murah, serta beragam pilihan produk membuat aktivitas ini sulit dihindari. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena yang patut diwaspadai: kecanduan belanja online.

Sejumlah penelitian menunjukkan peningkatan perilaku compulsive buying, terutama pada kalangan mahasiswa dan perempuan. Berbagai faktor mendorong perilaku ini, mulai dari upaya mengatasi stres, meningkatkan suasana hati, hingga mencari pengakuan sosial dan meningkatkan citra diri. Lantas, apakah kondisi ini termasuk gangguan mental?

Dosen Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surabaya, Uswatun, menjelaskan bahwa kebiasaan belanja kompulsif yang dilakukan secara terus-menerus dapat berkembang menjadi perilaku yang sulit dikendalikan.

Menurutnya, pola ini memiliki kemiripan dengan bentuk kecanduan lain seperti judi, game online, hingga penyalahgunaan zat.

Dalam perspektif Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), belanja kompulsif memang belum diklasifikasikan sebagai gangguan mental yang berdiri sendiri. Namun, perilaku ini memiliki karakteristik yang serupa dengan gangguan kontrol impuls, yaitu ketidakmampuan menahan dorongan untuk melakukan pembelian, bahkan pada barang yang tidak dibutuhkan.

“Gangguan belanja compulsive biasanya terjadi bersamaan dengan penyakit mental lainnya seperti depresi, kecemasan, dan gangguan makan. Perilaku ini umumnya muncul di usia 30 tahunan atau saat seseorang merasa telah mencapai kematangan secara finansial,”ujar Uswatun, Selasa (21/4/2026)

Uswatun mengungkapkan beberapa bentuk perilaku yang dapat menjadi indikator kecanduan belanja, di antaranya:

1. Pembelian impulsif
Sering membeli barang tanpa perencanaan, bahkan barang yang dibeli belum sempat digunakan dan menumpuk.

2. Euforia saat berbelanja
Perasaan senang yang muncul bukan karena barangnya, tetapi dari aktivitas membeli itu sendiri, sehingga mendorong keinginan untuk mengulanginya.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

3. Pelarian dari stres
Berbelanja dijadikan cara untuk mengatasi emosi negatif atau suasana hati yang tidak nyaman.

4. Rasa bersalah
Muncul perasaan bersalah karena tidak mendapatkan barang tertentu, yang kemudian dilampiaskan dengan membeli barang lain.

5. Transaksi non-tunai
Penggunaan kartu kredit, debit, atau pembayaran digital membuat seseorang kurang menyadari jumlah pengeluaran.

Kebiasaan belanja kompulsif yang tidak dikendalikan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti penyesalan, rasa malu, dan bersalah. Selain itu, masalah keuangan juga menjadi konsekuensi utama karena pengeluaran yang tidak terencana.

Dampak lain yang dapat muncul adalah gangguan hubungan sosial serta kesulitan dalam menghentikan kebiasaan tersebut.

Sebagai langkah pencegahan, Uswatun menyarankan pentingnya mengenali pola perilaku belanja yang dimiliki setiap individu.

“Cari tahu pemicu yang menyebabkan munculnya kebiasaan belanja, apakah karena emosi negative, perasaan kesepian, peningkatan harga diri atau bahkan ingin mendapatkan pengakuan dari lingkungan sosial,”pungkas Uswatun. (*)

Revisi Oleh:
  • Satria - 22/04/2026 22:25
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡