Menjadi cabang baru bukan alasan untuk tertinggal, apalagi hanya menjadi penonton dalam perjalanan organisasi. Semangat inilah yang ditunjukkan Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) Buduran, Sidoarjo, yang baru berdiri dua tahun lalu dengan turut mengambil bagian dalam Musyawarah Wilayah (Musywil) XIII Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur. Kegiatan tersebut berlangsung di Universitas Muhammadiyah Ponorogo pada (16–18/10/2026).
Bersama kontingen Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) Sidoarjo, PCNA Buduran hadir sebagai peserta untuk berpartisipasi dalam forum strategis yang menentukan arah gerak organisasi dan kepemimpinan Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) Jawa Timur ke depan.
PCNA Buduran diwakili oleh Ketua PCNA Buduran, Rifatul Hidayah, dan Sekretaris PCNA Buduran, Aisyah Nor Millah. Kehadiran keduanya menjadi langkah penting bagi cabang yang relatif muda tersebut untuk memperluas wawasan, belajar dari dinamika organisasi di tingkat wilayah, sekaligus menyampaikan aspirasi terkait pengembangan cabang.
Bagi PCNA Buduran, keterlibatan dalam Musywil bukan sekadar memenuhi agenda organisasi. Forum ini menjadi kesempatan untuk mengejar ketertinggalan, memperkuat kapasitas kader, dan memastikan bahwa cabang yang baru tumbuh tetap memiliki ruang untuk berkontribusi dalam menentukan arah gerakan bersama.
Kepemimpinan
Ketua PCNA Buduran, Rifatul Hidayah, mengatakan bahwa pemilihan pemimpin wilayah merupakan momentum penting bagi seluruh kader, termasuk cabang-cabang yang masih dalam tahap pengembangan.
“Bagi PCNA Buduran, pemilihan pemimpin wilayah bukan sekadar pergantian kepengurusan, melainkan momentum penting untuk memastikan bahwa kami, yang merupakan cabang baru, turut terlibat dalam agenda penting ini. Kami juga ingin memastikan bahwa seluruh kader Nasyiatul Aisyiyah di Jawa Timur mendapatkan ruang untuk tumbuh, kesempatan berkontribusi, dan perhatian yang setara dalam gerak organisasi,” ujar Rifa.
Menurut Rifa, PWNA Jawa Timur ke depan membutuhkan kepemimpinan yang memiliki visi jelas sekaligus mampu merangkul seluruh lapisan organisasi, mulai dari kader di akar rumput, pimpinan cabang, hingga pimpinan daerah. Dengan demikian, arah kebijakan dan program kerja wilayah dapat menjawab kebutuhan kader secara lebih menyeluruh.
PCNA Buduran memandang bahwa kekuatan Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur terletak pada keberagaman potensi, karakter, dan kearifan lokal setiap daerah. Masing-masing cabang memiliki sumber daya, tantangan, serta kebutuhan yang berbeda. Keberagaman tersebut perlu dipahami sebagai modal untuk membangun organisasi yang semakin solid dan berdaya.
“Setiap daerah tentu memiliki kearifan lokal masing-masing, dengan sumber daya dan kebutuhan yang berbeda-beda. Calon pemimpin dan jajaran PWNA Jawa Timur yang baru harus mampu memetakan potensi, memahami kondisi, serta melihat kebutuhan setiap daerah secara utuh. Jangan sampai kebijakan organisasi hanya berpusat pada daerah-daerah tertentu, sementara daerah lain kurang mendapatkan perhatian,” tambah Rifa.
Harapan tersebut menegaskan pentingnya pemerataan kesempatan dalam pengembangan organisasi. Cabang yang telah berkembang maupun yang masih merintis sama-sama membutuhkan ruang belajar, pendampingan, dan dukungan agar dapat mengoptimalkan potensi kadernya.
Bagi PCNA Buduran, kemajuan organisasi tidak hanya diukur dari banyaknya program yang terlaksana, tetapi juga dari kemampuan membuka akses bagi kader untuk berkembang dan berkontribusi. Aspirasi dari tingkat cabang perlu menjadi bagian dari pertimbangan dalam merumuskan program kerja yang relevan, inklusif, dan berkelanjutan.
Melalui Musywil XIII, PCNA Buduran berharap Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur semakin memperkuat kolaborasi antardaerah, membangun kaderisasi yang inklusif, serta memberikan kesempatan yang adil bagi seluruh cabang untuk bertumbuh. Bagi organisasi yang masih muda, dukungan dan ruang berproses merupakan fondasi penting untuk membangun gerakan jangka panjang.
Partisipasi PCNA Buduran sekaligus menunjukkan bahwa perempuan muda tidak harus menunggu organisasinya besar untuk mulai berkontribusi. Keberanian untuk belajar, terlibat, dan menyampaikan gagasan menjadi modal penting dalam membangun organisasi yang lebih kuat.
Sebab, masa depan Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur tidak hanya ditentukan oleh cabang-cabang yang telah lama berkembang, tetapi juga oleh tumbuhnya cabang-cabang baru yang memiliki semangat dan potensi untuk maju. Beragam potensi, berbeda kebutuhan, tetapi bergerak menuju satu tujuan: menghadirkan Nasyiatul Aisyiyah Jawa Timur yang semakin inklusif, berdaya, dan berkemajuan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments