Di tengah aktivitas pelajar SMK Negeri 1 Wonogiri, sosok Asri Hartati tampil sederhana namun inspiratif. Ia dikenal sebagai guru bahasa Inggris sekaligus kreator konten yang berhasil mempopulerkan bahasa Inggris melalui media sosial.
Alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta ini menarik perhatian publik lewat konten TikTok yang unik. Berbeda dari kebanyakan kreator, Asri konsisten menggunakan bahasa Inggris dalam setiap kontennya.
“Saya itu suka bahasa Inggris,” ujarnya sumringah saat diwawancarai pada pertengahan April lalu.
Perjalanan Asri di dunia digital dimulai pada 2023. Ia mengunggah konten sederhana saat berbincang santai di pematang sawah bersama anaknya menggunakan bahasa Inggris.
Tanpa disangka, konten tersebut viral dan meraih lebih dari 19,6 juta penonton. Banyak warganet memuji kefasihan dan aksen bahasa Inggrisnya.
“Aksennya bagus banget,” puji akun bernama Azureee.
“Speaking-nya bagus banget kayak orang luar.”
Popularitas tersebut membawanya tampil di berbagai program televisi, termasuk menjadi bintang tamu dalam podcast Close The Door bersama Deddy Corbuzier.
Meski demikian, Asri mengaku tetap menerima komentar negatif, namun ia memilih untuk tetap fokus berkarya.
“Sebelum saya memutuskan share konten di medsos, memang saya sudah siap menghadapi komentar warganet,” seloroh Asri.
Asri rutin mengunggah konten, bahkan sempat dua kali sehari. Namun, ia kemudian menyesuaikan menjadi satu konten per hari agar lebih optimal.
Konten yang dibuatnya sederhana, mulai dari kehidupan sehari-hari, lingkungan pedesaan, hingga flora dan fauna—semuanya disampaikan dalam bahasa Inggris.
Pendekatan ini membuat bahasa Inggris terasa lebih dekat dan mudah dipahami oleh masyarakat.
Saat ini, akun TikTok Asri telah memiliki lebih dari 340 ribu pengikut dan meraih 5,3 juta likes.
Ketertarikan Asri terhadap bahasa Inggris bermula sejak kecil, ketika ia mendengar sepupunya menyanyikan lagu berbahasa Inggris.
“Wah, apik banget. Itu bahasa apa?”
Sejak saat itu, ia mulai menekuni bahasa Inggris meski sempat mengalami kesulitan.
“Tidak masalah karena saya suka,” tegasnya mantap.
Setelah sempat menunda kuliah karena keterbatasan ekonomi, Asri akhirnya melanjutkan pendidikan di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UMS pada 1999.
Pengalamannya semakin berkembang saat menjalani magang sebagai pemandu wisata di Candi Prambanan, yang memberinya kesempatan berinteraksi langsung dengan turis mancanegara.
Asri menyadari bahwa masih banyak stigma di masyarakat terkait penggunaan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.
“Alah, nggo ngapa lho neng kene? (Buat apa pakai bahasa Inggris di sini?) Kita kan ngobrol pakai bahasa Jawa dan Indonesia kan sudah cukup,” ujarnya menirukan cibiran.
“Waduh Bu, pakai bahasa Inggris terus saya pusing, Bu.”
Namun, ia menegaskan bahwa kunci belajar bahasa adalah keberanian untuk mencoba.
“Misal Anda nyaman dengan aksen Jawa, ya, why not?”
Menurutnya, belajar bahasa Inggris kini menjadi kebutuhan, terutama dengan adanya teknologi dan media sosial yang membuka akses luas terhadap informasi global.
Ia juga mengingatkan agar tidak takut melakukan kesalahan.
“Grammar error itu sesuatu yang membuat kita menjadi manusia. Natural,” imbuh dia.
Melalui konten-kontennya, Asri terus mendorong masyarakat untuk berani belajar bahasa Inggris.
Usahanya membuahkan hasil, banyak warganet yang merasa termotivasi.
“Kemarin waktu saya live, ada penonton yang bilang terima kasih karena sudah dimotivasi dan akhirnya berani ngomong bahasa Inggris. Saya jawab alhamdulillah,” pungkasnya.
Kisah Asri Hartati menjadi bukti bahwa semangat belajar dan konsistensi mampu membuka jalan inspirasi bagi banyak orang.





0 Tanggapan
Empty Comments