Kajian Keislaman yang digelar di Masjid Al Khoory Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Kamis (21/5/2026), berlangsung khidmat dan penuh antusiasme. Kegiatan tersebut diikuti civitas akademika Umsura mulai mahasiswa, dosen, hingga tenaga kependidikan.
Kajian menghadirkan Ketua Majelis Tabligh PWM Jawa Timur, KH Abdul Basith, yang menyampaikan pentingnya membangun dakwah Muhammadiyah di akar rumput dengan pendekatan yang humanis, penuh kasih sayang, dan menyentuh hati masyarakat.
Dalam tausiyahnya, KH Abdul Basith menegaskan bahwa dakwah Islam tidak cukup hanya mengedepankan pendekatan ideologi, tetapi harus dibangun melalui keteladanan akhlak dan kelembutan sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.
Menurutnya, ketika seseorang datang ke masjid, maka sejatinya ia sedang memenuhi panggilan Allah SWT sebagai tamu-Nya. Karena itu, umat Islam harus menghadirkan suasana dakwah yang nyaman dan menenangkan.
“Rasulullah SAW memperbaiki masyarakat jahiliyah bukan dengan mendahulukan perdebatan ideologi, tetapi dengan menyentuh hati umat melalui akhlak mulia dan kasih sayang,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa pendekatan dakwah yang terlalu keras justru dapat membuat masyarakat menjauh dari Islam.
KH Abdul Basith juga membagikan pengalaman dakwahnya di Kecamatan Bluluk. Saat itu, terdapat mushala yang kurang terawat dan minim jamaah.
Awalnya, masyarakat kurang merespons keberadaan da’i yang dikirim untuk menjadi imam dan pembina. Setelah dilakukan pendekatan lebih mendalam, diketahui sebagian besar masyarakat bekerja di ladang pada siang hari.
Karena itu, metode dakwah kemudian diubah dengan mendatangi langsung masyarakat di area ladang dan mengajak mereka melaksanakan sholat Dzuhur bersama.
Pendekatan yang lebih membumi dan menyentuh hati tersebut dinilai jauh lebih efektif dibandingkan hanya menyampaikan ceramah normatif.
Dalam kajian tersebut, KH Abdul Basith juga menyinggung tantangan dakwah di sejumlah daerah pelosok, termasuk kuatnya arus kristenisasi di beberapa wilayah.
Menurutnya, dakwah Islam harus menghadirkan kemudahan dan keramahan kepada masyarakat sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
“Yassiruu walaa tu’assiruu”
Permudahlah dan jangan mempersulit.
Ia menegaskan bahwa seorang da’i tidak harus menjadi kiai besar, tetapi harus mampu menjadi teladan dalam sikap, akhlak, dan kehidupan sehari-hari.
Selain itu, pemahaman terhadap budaya masyarakat setempat juga menjadi hal penting dalam menjalankan dakwah di akar rumput.
KH Abdul Basith turut mengajak peserta membaca dan memahami Risalah Islam Berkemajuan agar kader Muhammadiyah memahami ruh gerakan dakwah Persyarikatan.
Ia mencontohkan sosok KH AR Fakhruddin yang dikenal mampu berdakwah dengan kelembutan dan ketenangan sehingga masyarakat menerima dakwah Islam dengan nyaman tanpa merasa dipaksa.
“Keteladanan seperti itulah yang perlu diterapkan dalam dakwah Muhammadiyah masa kini,” tuturnya.
Melalui kajian tersebut, diharapkan seluruh civitas akademika Umsura mampu memahami pentingnya dakwah yang humanis, bijaksana, dan mampu merangkul masyarakat dengan pendekatan penuh hikmah.





0 Tanggapan
Empty Comments