Di balik terpilihnya seorang ketua, selalu ada kisah panjang tentang tempaan dan nilai. Itulah yang tergambar dari sosok Ketua Organisasi Pelajar Pondok Pesantren (OPPI) Ponpes Al Ishlah Sendangagung putra terpilih periode 2026-2027, Nurmansyah Avando.
Berikut kisah singkat dan profile ketua OPPI putra yang dituturkan saat ditemui pewarta PWMU.CO di kelasnya, XI-B MA Al-Ishlah Lantai dua, Selasa (3/11/2026).
Duduk di deretan bangku paling depan, santri berbaju rapi yang lahir di Probolinggo, 05 Maret 2009, santri asal Pucakwangi, Babat, Lamongan ini bukanlah sosok yang tiba-tiba muncul. Sebelum dipercaya memimpin OPPI, Avando telah ditempa sebagai bagian dari BESMA Bagian Kedisiplinan.
Namun jika ditarik lebih jauh, jiwa kepemimpinan Avando tidak hanya lahir di pondok, melainkan dari didikan ibunya, Ibu Mukharomah yang sehari-hari di ladang lereng bukit tak jauh dari kampungnya.
Seorang ibu tangguh yang setiap hari pergi ke ladang karena pekerjaannya sebagai petani. Sejak ayah Avando meninggal saat ia berusia 4 tahun, Ibu Mukharomah berjuang sendiri membesarkan anaknya.
Dalam catatan pribadinya, Avando mengenang ibunya sebagai sosok yang keras dan sangat disiplin.
“Ibu saya bisa dibilang keras dalam mendidik anak-anaknya, beliau sangat disiplin apalagi soal pendidikan. Saya diwajibkan belajar setiap malam sedangkan teman-teman saya bermain,” tulisnya.
Dilarang bermain HP, dilarang ikut bermain seperti teman sebayanya yang diperbolehkan orang tua mereka. Saat itu, di benak Avando kecil, ibunya terasa jahat.
“Ternyata manfaat dari pendidikannya baru saya rasakan saat saya berada di pondok, saya disiplin waktu, saya juga bisa memimpin diri saya sendiri,” ungkapnya.
Dari ladang Ibu Mukharomah pula, Avando belajar tentang arti hemat dan hidup sederhana.
“Saya tidak terlahir di keluarga yang mewah. Saya sudah diajari membedakan antara kebutuhan dan keinginan sejak dini, sehingga saya menjadi pribadi yang hemat. Ibu saya tiap hari ke ladang karena pekerjaannya petani,” kenangnya.
Kehilangan ayah sejak kecil dan melihat ibunya banting tulang di ladang setiap hari, membuat Avando sadar akan harapan besar ibunya.
“Wajar kalau Ibu saya ingin saya menjadi orang yang sukses di masa depan,” tuturnya.
Dan dari didikan keras itulah, ia terbentuk.
“Dari pendidikan keras yang diberikan oleh Ibu saya, saya bisa menjadi pribadi yang disiplin, hemat, sederhana, dan bisa memimpin diri sendiri. Dari memimpin diri sendiri saya bisa memimpin teman-teman saya, hingga saat ini,” tutup Avando.
Kini, anak seorang petani yang dulu merasa terkekang aturan ibunya, justru dipercaya untuk membuat aturan dan memimpin ratusan santri putra sebagai Ketua OPPI 2026-2027.
Kisahnya menjadi pengingat, bahwa di balik pemimpin yang disiplin, ada peluh dan keringat seorang ibu petani di ladang yang tak pernah berhenti berdoa demi anak semata wayangnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments