Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Dari Flores ke Umsida, Lusia Lulus dengan Beasiswa Penuh

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Dari Flores ke Umsida, Lusia Lulus dengan Beasiswa Penuh
Wisudawan Katolik dari Flores Tuntaskan Kuliah di Umsida dengan Beasiswa Penuh (Romadhona/PWMU.CO)
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
pwmu.co -

Lusia Cherlyana Moi, mahasiswa Katolik asal Flores, Nusa Tenggara Timur, menyelesaikan pendidikan di Program Studi Teknologi Laboratorium Medis (TLM) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) dengan beasiswa penuh dari Lazismu. Selama menempuh kuliah, ia merasakan keterbukaan dan dukungan dari lingkungan kampus meskipun memiliki latar belakang agama yang berbeda.

Lusia mendaftar ke Umsida secara mandiri setelah mencari perguruan tinggi yang menyediakan beasiswa. Ia memilih program studi TLM karena bidang tersebut dinilainya masih memiliki sedikit peminat di daerah asalnya.

Keputusan merantau ke Jawa membuat Lusia harus meninggalkan keluarga dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Sebelum berangkat, ia sempat khawatir menjalani perkuliahan di kampus yang berlandaskan nilai-nilai Islam.

Sempat Khawatir Kuliah di Kampus Muhammadiyah

Kekhawatiran tersebut berangsur berkurang setelah Lusia berkonsultasi dengan beberapa kenalannya yang pernah berkuliah di Universitas Muhammadiyah Kupang. Percakapan dengan sang kakak juga membantunya memahami bahwa mahasiswa di kampus Muhammadiyah memiliki latar belakang agama yang beragam.

“Ternyata malah banyak yang di Muhammadiyah Kupang itu malah banyak yang Kristen,” tuturnya.

Lusia juga sempat khawatir tidak dapat diterima oleh lingkungan barunya. Namun, pengalaman selama kuliah justru mempertemukannya dengan teman-teman yang terbuka dan bersedia membantu tanpa membedakan latar belakang.

Dari Flores ke Umsida, Lusia Lulus dengan Beasiswa Penuh
Lusia Cherlyana Moi, mahasiswa Katolik asal Flores, lulus dari Umsida dengan beasiswa penuh Lazismu dan pengalaman toleransi (Romadhona/PWMU.CO)

“Dari awal kuliah sampai akhir ini banyak sekali teman-teman yang bantu. Kayak enggak pilih-pilih teman gitu. Semuanya mau dari latar belakang apa pun itu, mereka berteman,” ujarnya.

Pengalaman tersebut membuat Lusia merasa mendapat dukungan selama menjalani kehidupan sebagai mahasiswa perantauan. Ia tidak hanya membangun relasi di ruang kuliah, tetapi juga menemukan suasana kekeluargaan dalam kegiatan organisasi.

Menemukan Keluarga di Kampus

Selama kuliah di Umsida, Lusia aktif dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Baginya, lingkungan organisasi memberikan pengalaman tentang kebersamaan dan keterbukaan yang juga ia rasakan bersama teman-teman di Program Studi TLM.

Ia menilai dosen-dosen di program studinya turut menjadi bagian penting dari pengalaman selama menempuh pendidikan. Dukungan dari teman dan lingkungan kampus membantunya menjalani perkuliahan jauh dari keluarga di Flores.

Selain kegiatan akademik dan organisasi, Lusia pernah menjadi asisten laboratorium mikrobiologi. Ia juga bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Surya Nada dan meraih juara satu tingkat nasional dalam kategori paduan suara Mars Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan Lusia dalam mengembangkan kemampuan akademik maupun nonakademik selama berada di Umsida.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Bagi Lusia, pengalaman berkuliah di lingkungan yang berbeda dari latar belakangnya memberikan pemahaman lebih luas tentang toleransi dan penghargaan terhadap sesama.

“Saya datang ke Umsida dengan membawa keyakinan saya sendiri, dan hari ini saya meninggalkan kampus ini dengan keyakinan yang sama, tetapi dengan pemahaman yang jauh lebih luas tentang arti menghargai perbedaan,” ungkapnya.

Dukungan Orang Tua dari Flores

Di balik keberhasilan Lusia menyelesaikan pendidikan, terdapat dukungan keluarga yang menyertainya selama merantau. Kedua orang tuanya bekerja sebagai pedagang sayur di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.

Sebagai putri sulung, keputusan Lusia untuk melanjutkan pendidikan jauh dari rumah menjadi hal yang membanggakan sekaligus mengundang kekhawatiran bagi keluarganya. Jarak yang jauh membuat biaya perjalanan dan kebutuhan selama kuliah menjadi salah satu hal yang dipikirkan orang tuanya.

Sang ibu, Mariana Ale, mengingat saat Lusia menyampaikan keinginan untuk mengikuti tes masuk Umsida. Ia sempat memikirkan bagaimana putrinya akan membiayai perjalanan dan menjalani kehidupan di perantauan.

“Saya bilang, puji Tuhan. Tapi bagaimana perjalanan nanti? Ongkosnya bagaimana? Rumahnya jauh, saya hanya pedagang sayur di Labuan Bajo,” kenang Mariana.

Kabar bahwa Lusia diterima di Umsida dengan beasiswa penuh membawa kebahagiaan tersendiri bagi keluarga. Bantuan tersebut menjadi dukungan penting bagi Lusia untuk menempuh pendidikan hingga selesai.

Setelah putrinya menyelesaikan pendidikan dan diwisuda pada hari Ahad (25/10/2026), Mariana berharap Lusia memperoleh pekerjaan yang layak dan dapat terus membanggakan keluarga. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Umsida karena telah memberikan kesempatan pendidikan melalui beasiswa penuh.

“Terima kasih Umsida karena telah menerima putri kami dengan beasiswa penuh. Kita tidak harus memiliki keyakinan yang sama untuk bisa saling menghormati, saling mendukung, dan bersama-sama menebarkan kebaikan,” ujarnya. (*)

Revisi Oleh:
  • Tanwirul Huda - 26/10/2026 23:01
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu