Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Dari Lintas Agama di Kertomenanggal: Dari Teologi ke Aksi Sosial Kemanusiaan

Iklan Landscape Smamda
Dari Lintas Agama di Kertomenanggal: Dari Teologi ke Aksi Sosial Kemanusiaan
Dialog lintas agama yang digelar di Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur (Foto: Yusdwiya/PWMU.CO)
pwmu.co -

28 April 2026, Selasa siang. Sinar matahari  menyelinap masuk melalui jendela Ruang Rapat Lantai 2, Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Jalan Kertomenanggal IV No. 1, Surabaya. Di dalam ruangan tersebut, suasana terasa khidmat namun hangat.

Bukan rapat koordinasi kinerja yang sedang berlangsung, melainkan sebuah momentum langka yang menjahit persaudaraan. Dialog Antar Agama dengan tema “Kitab Suci dan Amal Sosial, Teologi Pelayanan dalam Perspektif Lintas Iman”.

Pertemuan ini mempertemukan tiga figur penting dari latar belakang berbeda. Ada H. Ahmad Tholhah, S.Ag., M.Ag., Ketua LDK PWM Jawa Timur yang menjadi inisiator kegiatan ini. Hadir pula Ketua I PGI Wilayah Jawa Timur Pdt. Andri Purnawan, MTS, serta RD Yustinus Sumantri dari Paroki Santo Stefanus yang mewakili Gereja Katolik.

Dialog ini bukanlah sekadar forum diskusi teologis yang kaku. Melainkan upaya mendalam untuk mencari titik temu yang menyejukkan. Sebagaimana dijelaskan dalam latar belakang kegiatan, masyarakat Indonesia yang majemuk menuntut agama untuk tidak sekadar menjadi sistem keyakinan. Tapi juga sumber etika sosial yang konkret bagi kaum lemah.

DR Muhammad Sholihin, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, dalam kesempatan tersebut memberikan apresiasi penuh. Baginya, kegiatan ini adalah cerminan nyata dari ajaran Islam yang sangat menghargai perbedaan.

“Dalam beragama maupun berbangsa dan bernegara, kita harus belajar hidup berdampingan rukun dengan berbagai kalangan,” ujar Solihin dengan nada yang teduh namun tegas.

Ia mengutip prinsip “lakum dinukum waliyadin”, untukmu agamamu dan untukku pula agamaku. Dia juga menekankan pentingnya tolong-menolong dalam kebaikan, merujuk pada prinsip Ta’awunu alal birri wat taqwa.

Lebih jauh, Solihin mengingatkan para hadirin tentang esensi kemanusiaan dalam Islam yang diajarkan Rasulullah SAW, yakni Khairunnas anfa’uhum linnaas. “Bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang memberikan manfaat bagi orang lain, tanpa memandang sekat agama. “

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Senada dengan itu, dialog ini juga “ngudari” bagaimana masing-masing tradisi memaknai pelayanan sosial. Muhammadiyah dengan semangat ta’awun dan dakwah bilhal (iman sebagai aksi nyata).

PGI dengan konsep diakonia (Iman yang terwujud dalam tindakan) sebagai kesaksian iman. Serta Gereja Katolik dengan ajaran caritas (wujud kasih tanpa syarat) dan ajaran sosial gereja. Semuanya bermuara pada satu titik, martabat manusia.

Diskusi yang berlangsung selama dua jam tersebut, sejak pukul 13.00 hingga 15.00 WIB, menjadi ruang perjumpaan yang produktif. Para narasumber membedah bagaimana ajaran kitab suci, dari QS. Al-Ma’un dalam Islam.

Hingga kisah orang Samaria yang baik hati dalam Lukas 10:25–37 dalam tradisi Kristen, menjadi motor penggerak bagi lembaga-lembaga keagamaan untuk melayani masyarakat luas tanpa diskriminasi.

Puluhan peserta lintas iman ini berharap agar kegiatan tidak berakhir di ruang rapat saja. Harapannya, dialog ini menjadi langkah konkret dalam membangun kolaborasi kemanusiaan di Jawa Timur yang lebih inklusif dan berkeadaban.

Di akhir acara, wajah wajah peserta tampak lebih rileks. Mereka tak lagi melihat perbedaan sebagai tembok pemisah. Melainkan sebagai lahan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Memberi manfaat bagi sesama, terutama dalam bidang kemanusiaan, kebangsaan, dan kewarganegaraan, kini menjadi pekerjaan rumah bersama yang lebih ringan karena telah dimulai dari meja dialog.

Revisi Oleh:
  • Muhkholidas - 28/04/2026 21:05
Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡