Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Diam Pada Waktunya, Bicara Pada Tempatnya

Iklan Landscape Smamda
Diam Pada Waktunya, Bicara Pada Tempatnya
Pada umumnya manusia bisa bicara sedikit atau banyak, pendek atau panjang, singkat atau lama. Manusia bisa bicara berjam-jam. Foto: Mabelamber/pixabay.

Ketiga, diam karena takut bicara. Bisa juga seorang itu diam saja tidak berkata-kata karena merasa takut dalam bicara. Padahal rasa takut berbicara itu harusnya dijauhkan dalam menyampaikan ajaran Islam dan kebenaran pada manusia. Sesuai hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Janganlah kewibawaan/rasa takut kepada manusia menghalangi salah seorang dari kalian untuk mengatakan kebenaran jika ia menyaksikannya atau mengetahuinya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Keempat, diam karena diintimidasi (QS. An Nahl:106).

Bisa pula terjadi seseorang itu diam karena diintimidasi oleh orang lain atau penguasa zhalim. Namun oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala mereka yang diintimidasi (dipaksakan) itu akan dihapuskan dosanya.

Hal ini sesuai hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sesungguhnya Allah menghapuskan dari umatku (dosa) tersalah, lupa, dan apa yang dipaksakan kepada mereka.” (HR. Ibnu Majah).

Kelima, diam karena tidak mau bicara salah, berdusta, berkata buruk dan kotor. Sesuai hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”(HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47).

Keenam, diam karena patuh. Karena patuh pada perintah Allah Azza Wa Jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuat dirinya lebih baik diam dari pada bicara. (QS. Al Araf:204). Ini sesuai pula dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

“Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan patuh (kepada pemimpinnya), baik dalam perkara yang ia sukai maupun yang ia benci, kecuali jika ia diperintahkan untuk berbuat maksiat.” (HR. Bukhari, Muslim).

Ketujuh, diam karena malas. Bila seseorang diam karena malas (misalnya malas menjawab salam, malas menegur kesalahan yang fatal, malas belajar, atau malas membela kebenaran, maka diam tersebut akan dihukumi makruh atau bahkan haram.

Sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan doa pada umatnya agar tidak malas termasuk bicara yang baik, yakni:.

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan rasa sedih, dari kelemahan dan rasa malas…” (HR. Bukhari).

SMPM 5 Pucang SBY

Kedelapan, diam karena masa bodoh. Tidak jarang pula seseorang itu diam tidak mau bicara karena bersikap masa bodoh dengan masalah yang terjadi dihadapan dan di lingkungannya. Padahal jika mereka melihat kemungkaran tidak boleh diam saja, sebab itu selemah-lemahnya iman.
Sesuai hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

“Siapa yang melihat kemungkaran di antara kalian, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).

Kesembilan, diam karena aman dan selamat. Sesuai hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa yang diam, maka ia akan selamat.” (HR. Tirmidzi, disahihkan oleh Al-Albani).

Kesepuluh, diam karena tak mau berdebat. Berdebat memang menyenangkan, namun dari pada berdebat lebih baik diam. Sesuai hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengingatkan:

“Aku menjamin sebuah rumah di tepi surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan, meskipun ia berada di pihak yang benar.” (HR. Abu Dawud No. 4800).

“Sesungguhnya orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang sangat keras permusuhannya dan suka mendebat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian seorang muslim apabila hendak bicara perlu berhati-hati dan melihat keadaan tempatnya. Di rumah, di kantor dan di masjid tentu bicara yang baik-baik lebih pantas dan bermaslahat di samping yang sebaliknya.

Namun jika dirinya ingin diam dari pada berbicara itu juga lebih baik. Karena diam itu adalah emas yang memberikan maslahat yang besar bagi pelakunya. Sesuai hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

“Sesungguhnya ada seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak dia pikirkan lalu Allah mengangkat derajatnya disebabkan perkataannya itu. Dan ada juga seorang hamba yang berbicara dengan suatu perkataan yang membuat Allah murka dan tidak pernah dipikirkan bahayanya lalu dia dilemparkan ke dalam jahannam.” (HR. Bukhari no. 6478).

Revisi Oleh:
  • Danar Trivasya Fikri - 08/10/2026 17:00
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu