Menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup tidak cukup dengan membaca dan melantunkan ayat-ayatnya. Nilai-nilai Al-Qur’an harus tercermin dalam ibadah, perilaku, kepedulian sosial, hingga cara seseorang memperlakukan orang lain.
Dr KH. M. Sholihin Fanani, M.PSDM, wakil ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, menjelaskan empat indikator seseorang benar-benar menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam kehidupan.
Keempatnya meliputi menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas, mendirikan shalat yang berdampak positif, rajin berinfak dalam berbagai keadaan, serta memberikan manfaat bagi orang lain.
Pesan tersebut disampaikan dalam kultum rutin Kamis Subuh di Masjid Al Ikrom Wage, Kamis (5/11/2026).
Dalam tausiyah bertema Bagaimana Menjadikan Al-Qur’an sebagai Petunjuk dalam Kehidupan?, dia mengajak jamaah memahami Al-Qur’an bukan sekadar kitab yang dibaca, tetapi pedoman yang membentuk kehidupan seorang Muslim.
Mengawali kajian, Kiai Sholikin mengingatkan pentingnya mensyukuri nikmat iman dan Islam. Menurutnya, rasa syukur seharusnya semakin kuat seiring bertambahnya usia dan diwujudkan melalui peningkatan kualitas ibadah.
“Sudah sering saya sampaikan bahwa apa tanda-tandanya orang yang mendapatkan nikmat iman dan Islam? Tambah suwe tambah yakin, tambah suwe tambah rajin. Insyaallah,” tuturnya.
Dia kemudian menjelaskan bahwa Al-Qur’an memiliki kedudukan sebagai petunjuk bagi seluruh manusia, bukan hanya orang-orang yang sudah beriman dan bertakwa.
“Al-Qur’an itu tidak hanya petunjuk bagi orang beriman dan bertakwa saja, tetapi juga petunjuk bagi semua manusia seluruhnya,” jelasnya.
Kiai Sholikin membacakan firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).”
Menurutnya, Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW yang menjadi pedoman kehidupan sepanjang zaman.
Dia menegaskan, setiap perintah Allah mengandung kebenaran dan kebaikan, sedangkan larangan-Nya menghindarkan manusia dari kesesatan dan ketidakbahagiaan.
“Perintah Allah pasti benar. Kami ulangi, perintah Allah itu pasti benar dan mengandung kebahagiaan. Kalau larangan Allah, pasti mengandung kesesatan serta ketidakbahagiaan atau kemaksiatan,” tegasnya.
Karena itu, kebahagiaan hidup harus diupayakan dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Empat Indikator Al-Qur’an Menjadi Petunjuk
Pertama, menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas kehidupan. Kiai Sholikin menjelaskan, seorang Muslim harus memiliki kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi, membimbing, dan memberikan pertolongan dalam setiap keadaan.
Kesadaran tersebut membuat seseorang lebih berhati-hati dalam bertindak karena setiap nikmat yang diterimanya akan dimintai pertanggungjawaban.
“Kehadiran Allah tidak hanya dirasakan ketika berada di masjid atau melaksanakan ibadah. Kesadaran itu juga harus menyertai pekerjaan, kehidupan keluarga, pergaulan, dan seluruh aktivitas sehari-hari,” katanya.
Kedua, mendirikan shalat yang memberikan dampak positif. Menurutnya, shalat bukan sekadar kewajiban yang ditunaikan untuk menggugurkan tanggung jawab. Ibadah tersebut harus membentuk karakter dan memperbaiki perilaku.
Dia membacakan firman Allah dalam surat Al-Ankabut ayat 45:
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”
Kiai Sholikin menegaskan, orang yang rajin shalat seharusnya semakin baik hubungannya dengan Allah sekaligus semakin baik hubungannya dengan sesama manusia.
“Kualitas salat tidak hanya terlihat dari keteraturan seseorang menjalankan ibadah, tetapi juga dari akhlak dan perilakunya,” ujarnya
Dia mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan dengan sesama manusia (hablum minannas).
Hal tersebut juga berkaitan dengan firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 112:
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia.”
Kehadiran seorang Muslim juga diharapkan membawa kebaikan dan rahmat bagi lingkungan sekitarnya, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Anbiya ayat 107:
وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَٰلَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”
Dengan demikian, kualitas salat seseorang tidak hanya terlihat dari keteraturan ibadahnya, tetapi juga dari akhlak dan perilakunya terhadap orang lain.
Ketiga, rajin berinfak dalam keadaan lapang maupun sempit. Indikator berikutnya adalah kepedulian terhadap sesama melalui kebiasaan berinfak.
Kiai Sholikin membacakan surat Ali Imran ayat 134 yang menjelaskan karakter orang bertakwa:
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Dia mengajak jamaah meyakini bahwa harta yang diinfakkan tidak akan sia-sia. Infak merupakan bentuk menitipkan harta kepada Allah yang akan dibalas dengan kebaikan berlipat ganda.
Menurutnya, syukur atas nikmat Allah tidak cukup diucapkan melalui lisan. Syukur harus diwujudkan dengan menggunakan nikmat yang diberikan untuk kebaikan, termasuk berbagi melalui infak.
Hal tersebut sejalan dengan firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 7:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’”
Ayat tersebut mengingatkan bahwa syukur bukan hanya diucapkan melalui lisan, tetapi juga diwujudkan dengan menggunakan nikmat Allah untuk kebaikan.
Keempat, memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.
Indikator terakhir adalah menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Kiai Sholikin mengajak jamaah untuk ringan tangan membantu, peduli terhadap fakir miskin, anak yatim, dan siapa pun yang membutuhkan pertolongan.
Dia membacakan firman Allah dalam surat Al-Maidah ayat 2:
وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلْعِقَابِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.”
Kiai Sholikin mengingatkan pentingnya semangat ta’awanu alal birri wat taqwa, yakni saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.
“Setiap orang dapat memberikan manfaat sesuai kemampuan dan keadaan masing-masing. Tidak harus menunggu memiliki harta berlimpah untuk membantu orang lain. Yang terpenting adalah kemauan untuk berbuat baik dan melakukannya dengan ikhlas,” paparnya.
Jangan Merasa Paling Baik
Pada bagian akhir kajian, Kiai Sholikin mengingatkan bahwa menjaga keikhlasan merupakan salah satu tantangan dalam berbuat baik.
“Seseorang terkadang mengharapkan pujian, merasa lebih tinggi daripada orang lain, bahkan merendahkan sesama karena menganggap dirinya lebih baik. Padahal, tidak ada seorang pun yang mengetahui secara pasti kualitas keikhlasan dan kedudukan orang lain di hadapan Allah,” ungkapnya.
Bisa jadi, orang yang selama ini dianggap biasa saja justru memiliki keikhlasan lebih besar dan kedudukan lebih dekat kepada Allah.
Karena itu, dia mengingatkan jamaah agar tidak mudah merasa paling baik dan paling mulia.
Allah telah memberikan ukuran kemuliaan manusia dalam surat Al-Hujurat ayat 13:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”
Kemuliaan seseorang bukan ditentukan oleh kedudukan, kekayaan, penampilan, atau pujian manusia, melainkan ketakwaannya kepada Allah.
Mengakhiri kajian, Ustadz Sholikin mengajak jamaah terus belajar memperbaiki diri dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman kehidupan.
“Marilah kita belajar terus, belajar terus. Belajar apa? Belajar menjadi orang yang baik,” pesannya.
Kajian tersebut menegaskan bahwa Al-Qur’an benar-benar menjadi petunjuk ketika ajarannya tidak berhenti pada bacaan dan lisan, tetapi membentuk keimanan, memperbaiki shalat, menumbuhkan kepedulian, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya.”
Kiai Sholikin mengingatkan pentingnya semangat ta’awanu alal birri wat taqwa, yakni saling menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.
Menurutnya, setiap orang dapat memberikan manfaat sesuai kemampuan dan keadaan masing-masing. Tidak harus menunggu memiliki harta berlimpah untuk membantu orang lain. Yang terpenting adalah adanya kemauan untuk berbuat baik dan melakukannya dengan ikhlas. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments