Siswa SMP Muhammadiyah 13 Panceng, Gresik, belajar mendeteksi video deepfake, suara palsu, hingga manipulasi psikologis dalam penipuan siber melalui mini-riset berbasis kecerdasan buatan (AI).
Pembelajaran ini mengintegrasikan metode SAFE-AI dan prinsip tabayyun digital untuk membangun kemampuan berpikir kritis sekaligus menjaga keamanan siswa di ruang digital.
Program pengabdian masyarakat Telkom University Surabaya ini mengusung tajuk Penguatan Literasi Generative AI Berbasis SAFE-AI dan Tabayyun Digital melalui Mini-Riset dan Pembelajaran Mendalam Berbasis Proyek.
Melalui pendekatan Project-Based Learning (PjBL), siswa tidak hanya menerima penjelasan tentang teknologi AI. Mereka juga terlibat langsung dalam simulasi dan penelitian sederhana untuk mengenali ancaman digital yang semakin berkembang.
Materi pembelajaran mencakup manipulasi visual atau deepfake, kloning suara (fake voice), serta taktik manipulasi psikologis yang digunakan pelaku penipuan siber.
Dr. Ubaidillah Umar, S.ST, MT, perwakilan tim pengabdian masyarakat Telkom University Surabaya, menjelaskan bahwa pendekatan berbasis riset dipilih untuk membangun kemampuan verifikasi informasi secara mandiri.
“Kami ingin siswa SMP Muhammadiyah 13 Panceng tidak sekadar menjadi konsumen teknologi, melainkan mampu melakukan verifikasi berlapis secara mandiri ketika berhadapan dengan data buatan generatif AI,” jelasnya.
SAFE-AI dan Tabayyun Digital
Dalam mini-riset tersebut, siswa memadukan nilai spiritual dengan pendekatan ilmiah melalui prinsip tabayyun digital dan metode SAFE-AI.
SAFE-AI merupakan langkah pemeriksaan informasi yang terdiri atas empat tahap: Stop, Assess, Find Evidence, dan Evaluate.
Siswa diajak berhenti sejenak sebelum mempercayai atau menyebarkan informasi. Mereka kemudian menilai kemungkinan kejanggalan, mencari bukti melalui kanal resmi, dan mengevaluasi informasi sebelum mengambil keputusan.
Pendekatan ini menempatkan tabayyun sebagai landasan etis dalam menghadapi informasi digital, sekaligus membiasakan siswa melakukan pemeriksaan secara sistematis.
Dengan demikian, siswa tidak hanya mengenali potensi manipulasi AI, tetapi juga belajar mengambil keputusan secara lebih hati-hati ketika menerima informasi yang belum terverifikasi.
Pembelajaran Lebih dari Sekadar Teori
Kepala SMP Muhammadiyah 13 Panceng, Nurul Wakhidatul Ummah, M.Pd., mengapresiasi kolaborasi dengan Telkom University Surabaya. Menurutnya, pembelajaran berbasis proyek memberikan pengalaman konkret yang tidak cukup diperoleh melalui penyampaian materi di kelas.
“Pendekatan lewat mini-riset dan pembelajaran berbasis proyek ini sangat luar biasa. Siswa diajak berpikir mendalam, menganalisis studi kasus riil, dan menerapkan langsung prinsip tabayyun di ruang siber. Ini adalah bekal literasi masa depan yang sangat dibutuhkan anak-anak kami agar selamat dari jebakan rekayasa AI,” tuturnya.
Pengalaman tersebut juga dirasakan Muhammad Sultan Al Fatih, salah satu siswa yang terlibat dalam kegiatan.
Ia mengaku pembelajaran melalui proyek dan mini-riset membuatnya lebih waspada terhadap informasi yang diterima melalui gawai.
“Belajar lewat proyek dan mini-riset ini seru sekali karena kami mempraktikkan langsung cara membedakan mana video asli dan mana yang deepfake. Sekarang saya tahu kalau teknologi suara atau video call bisa direkayasa oleh AI. Lewat SAFE-AI dan prinsip tabayyun digital, saya belajar untuk selalu kroscek dan tidak gampang panik kalau menerima kabar darurat,” ujarnya.
Melalui program ini, Telkom University Surabaya berkomitmen mendampingi sekolah dalam membangun ekosistem digital yang sehat dan aman.
Penguatan literasi generatif AI diharapkan membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis, melakukan verifikasi informasi, serta menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments