Masjid Quba bukan satu-satunya tempat yang menyimpan jejak sejarah hijrah Rasulullah SAW. Di sekitar masjid yang dikenal sebagai masjid pertama yang dibangun Nabi Muhammad saw itu, terdapat dua situs bersejarah yang menyimpan kisah penting tentang perjalanan dakwah dan kepemimpinan Islam.
Keduanya adalah Bustan Mustadhal dan Bi’r Aris atau Bi’r Khatam. Letaknya berdekatan dengan Masjid Quba, tetapi tidak semua penziarah menyempatkan diri menapaki jejak sejarah di dua tempat tersebut.
Alhamdulillah, pada Selasa (3/11/2026), setelah berziarah ke Masjid Quba, saya berkesempatan mengunjungi kedua situs di sisi barat masjid tersebut.
Perjalanan ini membawa kami menyusuri kisah kedatangan Rasulullah SAW di Madinah. Juga mengenang sebuah peristiwa penting pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin.
Dua tempat itu bukan sekadar peninggalan masa lalu. Di dalamnya tersimpan cerita tentang sambutan penduduk Madinah, keteladanan Rasulullah SAW, serta amanah yang dijaga para khalifah.
Bustan Mustadhal, Kebun yang Menaungi Rasulullah
Sekitar 100 meter di sisi barat Masjid Quba, terdapat Bustan Mustadhal. Sebuah kebun yang menyimpan kisah kedatangan Rasulullah saw dan Abu Bakar ash-Shiddiq setelah hijrah dari Makkah.
Ketika Rasulullah saw tiba di Madinah, penduduk setempat belum mengenal wajah beliau. Mereka menunggu kedatangan sosok yang selama ini hanya mereka dengar kabarnya.
Di kebun ini, Rasulullah saw sempat beristirahat. Matahari mulai meninggi. Sinar terik menerobos di antara pohon-pohon kurma.
Melihat keadaan itu, Abu Bakar membentangkan selendangnya untuk menaungi Rasulullah SAW. Tindakan sederhana tersebut membantu penduduk Madinah mengenali sosok Nabi yang mereka nantikan.
Dari peristiwa itu, tempat tersebut dikenal dengan nama Bustan Mustadhal, yang dimaknai sebagai kebun yang menaungi.
Kisah ini menghadirkan sisi manusiawi perjalanan hijrah. Rasulullah SAW tidak hanya datang membawa risalah, tetapi juga menempuh perjalanan panjang yang membutuhkan tempat beristirahat.
Sementara Abu Bakar menunjukkan kesetiaan dan kepedulian kepada sahabat sekaligus pemimpin yang menyertainya.
Hijrah pun bukan sekadar perpindahan dari Makkah ke Madinah. Peristiwa itu menjadi awal tumbuhnya masyarakat Islam yang lebih kuat, sekaligus membuka jalan bagi perkembangan dakwah dan peradaban Islam.
Bustan Mustadhal menjadi salah satu tempat yang mengingatkan kita pada suasana awal kedatangan Rasulullah saw.
Di kebun itu, sejarah besar terasa dekat melalui sebuah tindakan sederhana: seorang sahabat menaungi Nabi dari terik matahari.

Bi’r Aris, Sumur Tempat Cincin Rasulullah Hilang
Perjalanan berlanjut ke Bi’r Aris atau Bi’r Khatam. Sumur bersejarah ini berada sangat dekat dengan Masjid Quba.
Bi’r Khatam dikenal melalui peristiwa hilangnya cincin Rasulullah saw yang digunakan sebagai stempel resmi dalam surat-menyurat.
Cincin tersebut terbuat dari perak dan bertuliskan Muhammad Rasul Allah. Pada masa Rasulullah SAW, cincin itu digunakan untuk menyegel surat, termasuk surat yang dikirim kepada para pemimpin di luar Madinah.
Setelah Rasulullah saw wafat, cincin tersebut diwariskan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Kemudian digunakan Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan.
Namun, ketika berada di tangan Utsman, cincin itu terjatuh ke dalam Sumur Aris.
Peristiwa tersebut menjadi kisah yang terus dikenang dalam sejarah Islam. Cincin yang memiliki nilai penting sebagai stempel resmi Rasulullah saw itu hilang di dalam sumur.
Utsman bin Affan berusaha mencarinya. Sumur bahkan dikuras untuk menemukan cincin tersebut. Namun, setelah pencarian selama tiga hari, cincin itu tidak ditemukan.
Kisah hilangnya cincin Rasulullah saw diriwayatkan dalam hadis sahih. Peristiwa ini menunjukkan betapa pentingnya cincin tersebut bagi umat Islam, terutama karena menjadi benda yang digunakan Rasulullah saw dan diteruskan kepada para khalifah.
Setelah cincin itu hilang, Utsman membuat cincin baru dengan tulisan Muhammad Rasul Allah.
Cincin tersebut kemudian digunakan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib. Tradisi penggunaan stempel itu juga berlanjut pada masa pemerintahan dinasti Umayyah dan Abbasiyah.
Bi’r Aris pun dikenal sebagai tempat yang menyimpan kisah tentang amanah, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap peninggalan Rasulullah SAW.
Mengenang Kehidupan Rasulullah di Quba
Selain kisah cincin, Bi’r Aris juga menyimpan kenangan tentang kehidupan sehari-hari Rasulullah saw.
Pada masa beliau, sumur ini berada di kawasan kebun. Rasulullah SAW pernah duduk di tepi sumur tersebut dan berwudu.
Riwayat Abu Musa al-Asy’ari menyebutkan, Rasulullah saw duduk di tepi Sumur Aris, menyingkap kedua betis, lalu menjulurkan kaki ke dalam sumur.
Kisah ini memperlihatkan sisi keseharian Rasulullah SAW di Madinah. Di tengah tugas besar membangun masyarakat dan memimpin umat, beliau tetap menjalani kehidupan yang sederhana.
Sumur Aris menjadi pengingat bahwa sejarah Rasulullah SAW tidak hanya tercatat dalam peristiwa besar.
Jejak kehidupan beliau juga dapat ditemukan di tempat-tempat sederhana yang pernah menjadi bagian dari keseharian.
Menapaki Sejarah, Menemukan Keteladanan
Bustan Mustadhal dan Bi’r Aris memiliki kisah yang berbeda. Bustan Mustadhal mengingatkan kita pada kedatangan Rasulullah saw dan kesetiaan Abu Bakar.
Bi’r Aris menyimpan cerita tentang cincin kenabian yang diwariskan kepada para khalifah, lalu hilang ketika berada di tangan Utsman bin Affan.
Keduanya memperlihatkan bahwa sejarah Islam tidak hanya dibangun melalui peristiwa besar. Ada tindakan kecil, kesetiaan, dan amanah yang turut membentuk perjalanan umat.
Berziarah ke Masjid Quba menjadi lebih bermakna ketika kita menyempatkan diri mengenali situs-situs di sekitarnya.
Di sana, kita tidak hanya melihat peninggalan sejarah. Kita juga diajak memahami kembali nilai-nilai yang menyertai perjalanan Rasulullah saw: kepedulian, kesetiaan, kesederhanaan, dan tanggung jawab.
Dua situs itu mungkin tidak selalu menjadi perhatian utama penziarah. Namun, kisah yang tersimpan di dalamnya layak dikenang.
Sebab, menapaki jejak sejarah bukan sekadar melihat tempat yang pernah menjadi saksi masa lalu. Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi kesempatan untuk mengambil pelajaran dari kehidupan Rasulullah saw dan para sahabat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments