Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Fathurrahim Syuhadi Apresiasi Budaya Literasi di Pesantren Al-Ishlah

Iklan Landscape Smamda
Fathurrahim Syuhadi Apresiasi Budaya Literasi di Pesantren Al-Ishlah
Fathurrahim Syuhadi hadir di Puncak Dasawarsa ke-4 Al-Ishlah, nampak Pak Rahim nomer dua dari kanan berfoto di depan kediaman Ustadz Dawam Saleh, Ahad 27 September 2026. Foto Gondo Waloyo/PWMU.CO
pwmu.co -

Budaya literasi yang berkembang di Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung, Paciran, Lamongan, mendapat apresiasi dari Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lamongan, Fathurrahim Syuhadi.

Apresiasi tersebut disampaikan Fathurrahim saat menghadiri Puncak Dasawarsa ke-4 Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung, Ahad (27/9/2026). Salah satu rangkaian kegiatan tersebut adalah penganugerahan kepada para penulis buku dari lingkungan pesantren.

Fathurrahim yang juga menjabat Ketua Kwartir Wilayah Hizbul Wathan Jawa Timur menilai budaya membaca, menulis, dan menghasilkan karya telah menjadi salah satu ciri khas Pesantren Al-Ishlah.

“Saya sangat apresiatif dengan budaya literasi yang ada di Pondok Pesantren Al-Ishlah. Inilah yang menjadi ciri khas Pesantren Al-Ishlah,” ujar Fathurrahim Syuhadi.

Menurut Fathurrahim, potensi peserta didik dalam bidang literasi telah mendapat perhatian dari para ustadz hingga pimpinan pesantren. Pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan memberikan ruang bagi santri untuk mengembangkan minat dan bakat dalam membaca maupun menulis.

Hal tersebut terlihat dalam Puncak Dasawarsa ke-4 Al-Ishlah. Belasan guru, dosen, mahasiswa, dan santri menerima penghargaan di panggung utama karena telah menghasilkan 40 judul buku.

Karya-karya tersebut menjadi salah satu bukti berkembangnya tradisi literasi di lingkungan pesantren yang berada di kawasan pesisir tersebut.

Fathurrahim menilai budaya literasi tidak akan berkembang secara optimal tanpa keteladanan dari para pemimpin. Di Pesantren Al-Ishlah, keteladanan tersebut menurutnya terlihat dari para pimpinan pesantren, di antaranya KH Dawam Saleh, KH Agus Salim Syukran, dan KH Ahmad Thohir.

“Keteladanan dari pimpinan pesantren, Pak Kiai Dawam Saleh, Pak Kiai Agus Salim, dan Pak Kiai Thohir dalam literasi juga menjadikan nilai tersendiri,” tutur penulis produktif versi PWMU.CO ini.

SMPM 5 Pucang SBY

Keteladanan tersebut kemudian menjadi energi positif bagi warga pesantren. Siswa, mahasiswa, hingga guru terdorong untuk terus berkarya dan menghasilkan buku.

“Sehingga tidak mengherankan kalau para siswa, mahasiswa, bahkan guru pun ber-fastabiqul khairat untuk berkarya menghasilkan buku-buku yang penuh inspirasi,” ungkap penulis buku sejarah lokal dan biografi tokoh persyarikatan Lamongan ini.

Fathurrahim menambahkan, literasi di lingkungan pesantren bukan sekadar aktivitas membaca dan menulis. Menurutnya, literasi juga dapat menjadi sarana membangun tradisi keilmuan, mengembangkan kreativitas, mendokumentasikan gagasan, serta menyebarluaskan nilai-nilai pendidikan dan keislaman.

Menurut penulis buku Hidup Berkah, Jejak Tak Terhapus Waktu, perpaduan pendidikan pesantren dengan budaya literasi menjadi kekuatan penting dalam membentuk generasi yang memiliki kedalaman ilmu sekaligus kemampuan menyampaikan gagasan secara produktif.

“Bila ada anak yang kepengin masuk pesantren, menuntut ilmu, dan cakap dalam literasi, maka di Pesantren Al-Ishlah inilah tempat yang terbaik,” tegasnya.

Ia juga mengapresiasi capaian Pesantren Al-Ishlah dalam momentum Milad ke-40 yang ditandai dengan lahirnya puluhan karya tulis.

“Momentum 40 Tahun Milad Pondok Pesantren Al-Ishlah dengan menghasilkan karya tulis sebanyak 40 judul karya tulis merupakan capaian yang luar biasa,” pungkasnya.

Revisi Oleh:
  • Satria - 28/09/2026 17:07
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu