Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Wartawan Cilik Terobos Barisan Pengawalan Mendikdasmen Demi Liputan Berita

Iklan Landscape Smamda
Wartawan Cilik Terobos Barisan Pengawalan Mendikdasmen Demi Liputan Berita
Wartawan Cilik Berburu Berita, dia adalah Rasya dan Aqiqo Raihan tengah mengejar Mendikdasmen, Prof Dr Abdul Mu'ti saat kunjungan di Ponpes Al-Ishlah dalam rangka Dasawarsa ke-4, Ahad 27 September 2026. Foto Gondo Waloyo/PWMU.CO
pwmu.co -

Ada pemandangan menarik di balik kemeriahan Puncak Kesyukuran Dasawarsa ke-4 Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung, Paciran, Ahad (27/9/2026). Dua wartawan cilik berusaha menerobos barisan pengawalan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, demi mendapatkan berita.

Mereka adalah Rasya Muhammad Adhaya, santri kelas 9-E SMP Muhammadiyah 12 Paciran asal Tlogorejo, Kepohbaru, Bojonegoro, dan Aqiqo Raihan, santri kelas 12-D MA Al-Ishlah asal Surabaya. Keduanya berusaha menemui sang menteri saat hendak meninggalkan lokasi acara.

Rasya mengenakan jas jurnalis warna merah hati sebagai pewarta Teras, media resmi SMP Muhammadiyah 12 Paciran. Sementara Aqiqo mengenakan jas hitam berlogo MA Al-Ishlah untuk memburu berita bagi Al-Ishlah News, media milik MA Al-Ishlah Sendangagung.

Dengan alat rekam kecil dan secarik kertas berisi pertanyaan, kedua santri tersebut berhasil mendekat kepada Prof. Mu’ti di tengah kerumunan pejabat dan pengawal.

Meski berada dalam pengawalan ketat, Mendikdasmen tampak tersenyum ramah dan meladeni dua jurnalis junior tersebut.

Keduanya mengaku bangga dan senang mendapat kesempatan mewawancarai tamu agung Pondok Pesantren Al-Ishlah pada momentum Dasawarsa ke-4.

“Sangat terkesan dan penuh tantangan, harus berjuang minta izin ajudan menteri dan menerobos kerumunan massa, setelah dibantu Ustadz Gondo Waloyo yang berada di ring satu akhirnya bisa mendekat Pak Menteri,” ujar Rasya dengan senyumannya yang khas.

Perjuangan kedua wartawan cilik tersebut tidak sia-sia. Di tengah jadwal yang padat dan agenda untuk segera bertolak ke Surabaya, Mendikdasmen tetap memberikan waktu untuk diwawancarai.

SMPM 5 Pucang SBY

“Pak Menteri sangat ramah, meskipun jadwal padat dan harus meninggalkan Al-Ishlah Sendangagung bertolak ke Surabaya, tetapi tetap mau meladeni wartawan yunior,” timpal Aqiqo.

Kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi keduanya. Mereka tidak hanya belajar menulis berita, tetapi juga merasakan langsung proses mencari informasi dan melakukan wawancara di tengah situasi lapangan.

Aksi Rasya dan Aqiqo menjadi salah satu gambaran hidupnya budaya literasi di Pondok Pesantren Al-Ishlah. Literasi tidak hanya diwujudkan melalui tradisi menulis buku yang melahirkan 40 judul buku pada momentum Milad ke-40, tetapi juga melalui keberanian santri untuk terjun langsung melakukan reportase jurnalistik.

Ketua Panitia Dasawarsa ke-4 menyebut kehadiran Mendikdasmen menjadi magnet tersendiri. Ribuan warga, siswa, dan santri tumpah ruah ingin bersalaman dengan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah tersebut.

Di tengah ketatnya pengamanan, keberanian Rasya dan Aqiqo menjadi bagian dari praktik pendidikan literasi yang selama ini didorong pimpinan Pondok Pesantren Al-Ishlah, KH Dawam Saleh, KH Agus Salim, dan KH Ahmad Thohir.

Keduanya menunjukkan bahwa santri Al-Ishlah tidak hanya belajar mengaji, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengembangkan kemampuan di bidang jurnalistik dan terlibat langsung dalam aktivitas literasi.

Revisi Oleh:
  • Satria - 28/09/2026 17:02
SD Kreatif

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu