Program Studi Profesi Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya (FK UMSURA) bersama Puskesmas Babat, Lamongan menggelar edukasi dan pelatihan perawatan luka diabetes secara mandiri bagi masyarakat di Puskesmas Babat, Senin (11/5/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) Puskesmas Babat dengan antusiasme tinggi.
Dokter pendidik klinis FK UMSURA, dr. Eka Ari Puspita, Sp.An-TI dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Tim Prolanis dan jajaran Puskesmas Babat yang telah menerima kehadiran tim FK UMSURA.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada Tim Prolanis, dr. Yusworo Anggun Prabowo beserta seluruh tim Puskesmas Babat yang telah menerima kedatangan FK UMSURA,” ujarnya.
Dosen yang juga bertugas di ICU RSUD dr. Soegiri tersebut menekankan pentingnya upaya pencegahan komplikasi diabetes sejak dini.
“Biasanya saya bagian jaga gawang, sebagai kiper di ICU rumah sakit. Tapi di era sekarang ini, ditengah ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja, kita upayakan mencegah lebih baik daripada mengobati, karena biayanya lebih sedikit. Untuk sembuh dan tidak cacat biayanya jauh lebih besar,” tutur dr. Eka.
Materi edukasi disampaikan oleh Hagea Sopia dan Salsabil Khalizah. Dalam pemaparannya, Hagea menjelaskan bahwa kerusakan saraf pada penderita diabetes perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan luka tidak terasa.
“Syaraf itu seperti kabel listrik. Kalau kabelnya mati, listriknya mati. Kalau ada luka tidak terasa, kalau kesandung tidak sakit, itu tandanya,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan sejumlah faktor risiko luka diabetes, di antaranya gula darah yang tidak terkontrol, kaki kesemutan atau mati rasa, riwayat luka kaki sebelumnya, hingga kebiasaan tidak menggunakan alas kaki yang nyaman. Selain itu, kebersihan kaki serta kebiasaan tidak merokok juga menjadi bagian penting dalam pencegahan.
Peserta juga diberikan pemahaman mengenai tanda-tanda yang perlu diwaspadai, seperti kaki mati rasa, kulit kaki kering dan pecah-pecah, luka kecil yang sulit sembuh, kaki bengkak kemerahan dan terasa panas, hingga luka bernanah, berbau, atau menghitam.
“Jika muncul gejala tersebut, segera periksa ke fasilitas pelayanan kesehatan. Jangan menggunakan ramuan seperti bobok atau sejenisnya karena justru bisa memperparah infeksi,” tegas Hagea.
Sementara itu, Salsabil Khalizah mempraktikkan langkah-langkah perawatan luka sederhana yang dapat dilakukan secara mandiri di rumah. Ia menjelaskan bahwa sebelum menyentuh luka, tangan harus dicuci menggunakan sabun, kemudian luka dibersihkan menggunakan NaCl atau air bersih.
“Setelah itu, keringkan area sekitar luka dengan cara ditepuk perlahan menggunakan kasa steril, lalu tutup dengan kasa steril. Balutan diganti sehari sekali jika luka basah, dan tiga hari sekali jika luka kering,” jelasnya.
Selain perawatan luka, peserta juga diingatkan pentingnya menjaga kadar gula darah, memotong kuku dengan hati-hati, menjaga kebersihan kaki dan sela jari, menggunakan alas kaki yang nyaman, tidak merokok, serta mengatur pola makan sehat.
Peran keluarga juga dinilai penting dalam membantu penderita diabetes memantau kondisi luka agar tidak semakin memburuk.
“Pada penderita diabetes, luka kecil bisa menjadi luka serius jika tidak dirawat dengan baik. Namun jika dirawat dengan baik, luka tersebut dapat sembuh,” tambah Salsabil.
Pada kesempatan yang sama, dosen FK UMSURA dr. Ayu Lidya Paramitha, Sp.MK, M.Ked.Klin mengajak seluruh peserta untuk lebih memperhatikan kondisi kaki mereka.
“Coba diingat kembali apakah pernah ada benturan atau luka pada kaki yang mungkin dianggap sepele. Dari situ kita bisa melakukan langkah pencegahan yang tepat agar tidak terjadi risiko berkelanjutan,” ujarnya.
Kegiatan berlangsung interaktif dengan keterlibatan aktif peserta. Salah satu peserta, Pak Yusuf Said, berhasil memperagakan langkah perawatan luka di depan peserta lainnya. Sementara itu, Bu Fatimah memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkonsultasi langsung dengan dr. Eka terkait kondisi luka yang dialaminya.
Diskusi semakin hidup ketika Bu Parti dari Puncak Wangi menanyakan apakah diabetes melitus dapat disebabkan oleh faktor keturunan. Menanggapi hal tersebut, Hagea menjelaskan bahwa risiko diabetes memang dapat diturunkan dari orang tua.
“Gula darah itu bisa diturunkan dari orang tua. Jadi kita harus menjaga kesehatan untuk anak cucu kita,” jawabnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments