Kedisiplinan di lingkungan pendidikan tidak hanya ditunjukkan melalui aturan bagi siswa atau santri. Di MA Al-Ishlah Sendangagung, para guru memberikan contoh dengan kompak menaati ketentuan berseragam.
Pantauan di halaman madrasah pada Rabu (19/8/2026), seluruh guru terlihat mengenakan seragam lengkap sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Kekompakan tersebut menjadi bentuk keteladanan langsung bagi para santri dalam menaati aturan di lingkungan madrasah.
Wakil Kepala Urusan Kurikulum MA Al-Ishlah, Ahmad Faried, mengatakan para guru mengenakan seragam batik sesuai ketentuan pada hari tersebut.
“Hari ini seragam guru MA Al-Ishlah mengenakan batik, alhamdulilah aturan diindahkan oleh segenap guru,” tulis Ahmad Faried melalui WhatsApp.
Ketaatan terhadap aturan berseragam itu tidak hanya berkaitan dengan kelengkapan administrasi atau identitas lembaga. Bagi para santri, sikap disiplin yang ditunjukkan guru menjadi contoh yang dapat dilihat secara langsung dalam kehidupan sehari-hari di madrasah.
Salah seorang santri menilai, ketaatan guru terhadap aturan memberikan pengaruh terhadap sikap siswa dalam menjalankan kedisiplinan.
“Anak-anak pun lebih hormat dan merasa diberi contoh jika melihat ketaatan guru,” ujar salah satu santri.
Ia menilai, guru yang tertib dalam mengenakan seragam memberikan pesan bahwa aturan berlaku dan perlu ditaati bersama oleh seluruh warga madrasah.
“Ini teladan yang patut ditiru. Guru berseragam, murid pun wajib berseragam. Ini mesti ditiru,” tambahnya.
Keteladanan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun budaya disiplin. Guru tidak hanya berperan menyampaikan aturan, tetapi juga menunjukkan secara langsung bagaimana aturan itu dijalankan.
Pihak madrasah menegaskan, ketentuan berseragam diterapkan untuk menumbuhkan rasa disiplin, memperkuat identitas lembaga, sekaligus membangun semangat kebersamaan.
Dengan guru menjadi contoh terlebih dahulu, santri diharapkan lebih mudah memahami pentingnya menaati aturan dan menjaga nama baik almamater.
Kedisiplinan sederhana, seperti mengenakan seragam sesuai ketentuan, dinilai dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah tersebut juga sejalan dengan semangat 4 Dasawarsa Ponpes Al-Ishlah dalam membangun karakter melalui keteladanan.
Dari kebiasaan yang dilakukan bersama, kedisiplinan diharapkan tumbuh menjadi budaya. Guru memberikan contoh, sementara santri belajar memahami bahwa ketaatan terhadap aturan merupakan bagian dari pembentukan sikap tertib, berakhlak, dan bertanggung jawab.






0 Tanggapan
Empty Comments