Guru besar memiliki tanggung jawab lebih dari sekadar mengembangkan ilmu di lingkungan perguruan tinggi. Mereka dituntut menjadi sumber inspirasi dan solusi bagi masyarakat dengan mengedepankan pemikiran berbasis ilmu, bukan opini. Untuk itu, para akademisi perlu membangun interkoneksi antardisiplin sekaligus meninggalkan cara pandang yang mempertentangkan sains dan Islam.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si., saat membuka Forum Komunikasi Guru Besar Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (Forkom GB-PTMA) 2026 di Prime UMY Hotel Convention & Dormitory, Yogyakarta, Jumat (9/10/2026).
Haedar menilai, masyarakat memandang guru besar sebagai sosok dengan tingkat keilmuan tertinggi.
“Kepercayaan itu semestinya menjadi dorongan bagi para akademisi untuk meningkatkan kualitas keilmuan sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan,” katanya.
Menurut Guru Besar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) tersebut, kehadiran guru besar dibutuhkan agar persoalan publik diselesaikan melalui kajian ilmiah, bukan sekadar pendapat yang ramai diperbincangkan.
“Apalagi di era medsos sekarang ini. Kelihatan level yang bukan ilmunya, baru pengetahuan saja. Di situlah guru besar harus tertantang untuk bisa menjadi sumber inspirasi, sumber ilmu bagi memajukan bangsa,” tegasnya.
Pernyataan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa gelar akademik tidak cukup berhenti sebagai pencapaian pribadi.
Guru besar perlu menghadirkan pengetahuan yang dapat membantu masyarakat memahami persoalan secara lebih utuh dan menemukan jalan keluar yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Tolak Dikotomi Sains dan Islam
Selain menyoroti tanggung jawab akademisi di ruang publik, Haedar Nashir mengajak para guru besar meninjau kembali cara pandang terhadap hubungan sains dan Islam.
Menurut dia, integrasi sains dan Islam memang memiliki tantangan. Namun, hal itu tidak berarti keduanya harus ditempatkan dalam dua kutub yang saling berhadapan.
Islam memiliki sejarah panjang tradisi keilmuan yang menjadi bagian penting dalam perkembangan peradaban.
Karena itu, pendekatan integrasi tidak semestinya terjebak dalam pemikiran kategoris yang menganggap sains sebagai sesuatu yang berada di luar Islam, sehingga harus terlebih dahulu diislamkan.
“Jangan-jangan juga kita memang terlalu kategoris. Sebenarnya banyak ilmu itu sunnatullah, maka tidak perlu ada pretensi berlebih untuk mengislamkan,” jelas Haedar.
Dia tidak menampik pentingnya upaya mengintegrasikan ilmu dan nilai-nilai Islam. Namun, pendekatan tersebut perlu dilakukan secara mendalam, bukan sekadar memberi label keislaman pada suatu disiplin ilmu.
Bagi Haedar, memahami ilmu sebagai bagian dari sunnatullah membuka ruang bagi umat Islam untuk mengembangkan pengetahuan tanpa terjebak pada sekat-sekat yang justru membatasi kemajuan pemikiran.
Belajar dari Al-Farabi
Untuk memperkuat pandangannya, Haedar Nashir mencontohkan tradisi keilmuan yang dikembangkan Al-Farabi, filsuf Muslim yang dikenal dengan julukan mu’allim at-tsani atau guru kedua setelah Aristoteles.
“Al-Farabi menguasai beragam bidang, mulai dari filsafat, metafisika, matematika, logika, ilmu politik, hingga musik. Pemikirannya turut menjembatani tradisi filsafat Yunani, terutama pemikiran Aristoteles dan Plato, dengan perkembangan intelektual dalam dunia Islam,” jelasnya.
Al-Farabi, timpal Haedar, juga menulis tentang klasifikasi ilmu dan filsafat politik. Pemikirannya kemudian memberikan inspirasi bagi ilmuwan Muslim setelahnya, termasuk Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd.
Haedar juga mengajak para guru besar menjadikan tradisi tersebut sebagai inspirasi dalam membangun konstruksi berpikir yang terbuka dan luas.
“Kita para guru besar, biarpun tidak harus selalu yang di rumpun ilmu agama, coba belajar dari inspirasi para ilmuwan Muslim ini untuk belajar konstruksi berpikir,” pesannya.
Keteladanan para ilmuwan Muslim itu menunjukkan bahwa penguasaan ilmu tidak harus dibatasi oleh sekat disiplin. Sebaliknya, perjumpaan berbagai bidang pengetahuan dapat memperkaya cara manusia memahami realitas dan menjawab persoalan kehidupan.
Haedar menegaskan, tantangan keilmuan saat ini tidak cukup dijawab dengan memperdalam satu bidang secara terpisah. Persoalan kehidupan sering kali memiliki banyak dimensi sehingga membutuhkan keterhubungan antardisiplin.
Karena itu, guru besar dari berbagai bidang ilmu perlu membangun dialog dan kerja sama untuk menghasilkan pemahaman yang lebih menyeluruh.
“Guru besar dari disiplin berbeda tidak cukup berdiri di posisi masing-masing. Mereka perlu bergerak menuju interkoneksi agar terbentuk bangunan berpikir yang relatif utuh,” ujarnya.
Dia juga mengingatkan bahaya kekeliruan dalam memahami sesuatu hanya berdasarkan sebagian kecil dari keseluruhan persoalan. H
aedar mengibaratkannya seperti seseorang yang meraba gajah tanpa melihat bentuk utuhnya, kemudian menyimpulkan bentuk gajah hanya berdasarkan bagian tubuh yang tersentuh.
“Kekeliruan semacam itu, dapat terjadi ketika seseorang terlalu terpaku pada perspektif keilmuannya sendiri. Bahkan, kalangan ilmuwan dan guru besar pun tidak sepenuhnya terbebas dari risiko tersebut,” jabarnya.
Melalui Forkom GB-PTMA 2026, Haedar mendorong para guru besar untuk tidak hanya menjadi penjaga keahlian dalam bidang masing-masing, tetapi juga membangun jembatan ant ilmu pengetahuan. Dengan begitu, ilmu tidak berhenti sebagai kumpulan teori, melainkan menjadi landasan untuk memahami persoalan secara utuh dan memajukan kehidupan masyarakat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments