Kabar duka menyelimuti keluarga besar Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surabaya (FK Umsura). Sosok mempelopori lahirnya fakultas ini, dr. H. M. Jusuf Wibisono, Sp.P(K), FCCP, FIRS, telah berpulang ke Rahmatullah pada Jumat, 9 Oktober 2026 pukul 01.00.
Kepergian beliau meninggalkan duka yang mendalam, sebab setiap orang yang pernah mengenalnya tentu menyimpan kenangan tersendiri tentang beliau yang menjadi bagian dari perjalanan hidup yang berharga dan akan selalu terjaga dalam ingatan.
Lahir di Boyolali pada 2 Januari 1947, dr. Jusuf Wibisono menapaki perjalanan panjang dalam dunia kedokteran melalui Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair). Sejak 1965 hingga 1995, beliau menempuh pendidikan kedokteran, spesialisasi paru, hingga pendidikan konsultan paru. Kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dan pengabdian profesional mengantarkannya menjadi salah satu sosok yang berkiprah dalam pengembangan pendidikan dan pelayanan kesehatan, khususnya di bidang pulmonologi.
Darah Muhammadiyah yang diwariskan sang ayah, Sahlan Dirjosuprapto, yang pernah menjabat sebagai Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Boyolali, turut membentuk karakter dan arah perjuangannya. Muhammadiyah menjadi ruang pengabdian yang beliau hidupkan melalui kerja nyata. Beliau pernah mengemban amanah sebagai Wakil Direktur RS Siti Khodijah Sepanjang selama delapan tahun, sebelum kemudian mengambil peran besar dalam sejarah pendirian FK Umsura.
Menjadi Bagian dari Sejarah Lahirnya FK Umsura
Dalam buku Dokter Islam Rahmatan Lil ‘Alamin FK UM Surabaya, perjalanan pendirian Fakultas Kedokteran Umsura digambarkan sebagai ikhtiar panjang yang penuh tantangan, ketekunan, dan doa. Di balik berdirinya fakultas yang megah ini, terdapat nama-nama yang mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk mewujudkan cita-cita dalam mencetak dokter yang unggul sekaligus berakhlak mulia. Salah satu nama yang menempati tempat penting dalam sejarah tersebut adalah dr. H. M. Jusuf Wibisono.
Bersama para sahabatnya, dr. Jusuf tergabung dalam Panitia Pendirian Fakultas Kedokteran (PPFK) UM Surabaya. Bersama tim tersebut, dr. Jusuf mengawal berbagai pekerjaan mendasar, mulai dari menyiapkan calon dosen preklinik melalui pendidikan magister, menyediakan sarana dan prasarana pendidikan, membangun laboratorium, merumuskan kurikulum, hingga menjalin kerja sama dengan berbagai institusi kesehatan dan organisasi profesi. Semua itu bukan pekerjaan yang sederhana.
Ikhtiar tersebut mencapai hasil bersejarah pada 28 Maret 2016. Melalui SK Nomor 124/KPT/I/2016, Umsura memperoleh izin pembukaan Program Studi Pendidikan Dokter dan Program Studi Profesi Dokter. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai hari kelahiran Fakultas Kedokteran Umsura.
Dalam kenangan penulis, ada sebuah cerita yang pernah beliau kisahkan, bahwa suatu malam beliau bermimpi sedang melaksanakan tawaf mengelilingi Ka’bah. Pada putaran ketujuh, beliau mendapati angka 28 tepat di hadapannya. Qadarullah, tanggal 28 Maret kemudian menjadi hari bersejarah atas apa yang telah beliau perjuangkan.
Hari itu menjadi penanda bahwa sebuah cita-cita yang diperjuangkan selama bertahun-tahun akhirnya terwujud. FK UMSURA hadir dengan misi mencetak dokter Islam rahmatan lil ‘alamin, yakni dokter yang tidak hanya memiliki kompetensi keilmuan, tetapi juga menjunjung tinggi moralitas, etika, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Fondasi Perjuangan Menuju Akreditasi Unggul
Setelah resmi berdiri, FK Umsura terus bertumbuh dan mengembangkan kualitas pendidikan, tata kelola, sumber daya manusia, serta berbagai sarana pendukung pembelajaran. Perjalanan itu tidak dapat dilepaskan dari peran dr. Jusuf yang memimpin fakultas pada periode 2016–2025.
Di bawah kepemimpinannya, FK Umsura berhasil meraih akreditasi Unggul dari LAM-PTKes pada Februari 2025, sebuah pencapaian yang sangat baik dalam pemenuhan standar mutu pendidikan kedokteran.
Bagi keluarga besar FK Umsura, capaian ini menjadi bagian dari warisan perjuangan yang ditinggalkan dr. Jusuf. Apa yang dahulu dirintis kini tumbuh menjadi sebuah institusi pendidikan kedokteran yang membawa harapan bagi umat.
Warisan yang Abadi Menjadi Amal Jariyah yang Tidak Pernah Putus Pahalanya
Kepergian dr. Jusuf Wibisono pada 9 Oktober 2026 menandai berakhirnya perjalanan pengabdian seorang tokoh, tetapi tidak dengan nilai-nilai yang telah beliau tanamkan.
Beliau telah menunjukkan bahwa membangun institusi pendidikan diperlukan keyakinan terhadap cita-cita, kesediaan menghadapi berbagai hambatan, kemampuan merangkul banyak pihak, serta kesabaran dan keteguhan untuk terus melangkah meskipun hasil yang diharapkan tidak selalu datang dengan segera.
Dari perjalanan hidupnya, kita belajar bahwa ilmu pengetahuan akan menemukan maknanya ketika diabdikan. Kepemimpinan menemukan nilainya ketika digunakan untuk membangun dan memberdayakan, dan perjuangan menemukan keberlanjutannya ketika generasi berikutnya bersedia meneruskan cita-cita yang telah dirintis.
Kini, tugas dr. Jusuf telah usai. Namun, amanah untuk menjaga dan mengembangkan FK Umsura berada di tangan kita yang melanjutkan perjalanan ini. Menjaga mutu pendidikan, melahirkan dokter-dokter yang kompeten dan berintegritas, serta menghadirkan manfaat bagi umat dan masyarakat merupakan bagian dari penghormatan terbaik atas pengabdian beliau.
Selamat jalan, dr. Jusuf Wibisono.
Terima kasih atas ilmu yang diwariskan, jalan yang dibukakan, dan perjuangan yang telah ditorehkan. Terima kasih telah menjadi ayah, guru, dan teladan bagi kami.
Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah dan pengabdian beliau, mengampuni segala khilaf, melapangkan kuburnya, serta menempatkan beliau di tempat terbaik di sisi-Nya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments