السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإِيمَانِ، وَمَنَّ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِسْلَامِ، وَوَفَّقَنَا لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ وَالْإِحْسَانِ.
نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah Swt.
Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Swt. atas nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan sehingga pada hari ini kita dapat kembali berkumpul di rumah Allah untuk menunaikan salat Jumat.
Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad saw., keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti ajaran beliau hingga akhir zaman.
Pada kesempatan ini, khatib mengajak diri sendiri dan seluruh jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt., menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, serta memperbaiki niat dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri: jika tidak ada seorang pun yang memuji, apakah kita masih mau berbuat baik? Jika bantuan yang kita berikan tidak dibalas dengan ucapan terima kasih, apakah kita masih bersedia membantu? Jika pengorbanan kita tidak pernah disebutkan, apakah kita tetap mau menjalankan tanggung jawab?
Pertanyaan ini penting karena terkadang kita begitu sibuk memperbaiki penampilan di hadapan manusia, tetapi lupa memeriksa niat di hadapan Allah. Kita ingin dianggap berjasa, dihormati, dan diakui. Ketika harapan itu tidak terpenuhi, kita kecewa, bahkan kehilangan semangat untuk melakukan kebaikan.
Padahal, pujian manusia bisa datang dan pergi. Penghargaan dapat diberikan, kemudian dilupakan. Orang yang hari ini berterima kasih kepada kita belum tentu selalu mengingat pertolongan kita pada kemudian hari. Karena itu, seorang muslim perlu belajar melakukan kebaikan tanpa menjadikan pujian manusia sebagai tujuan utama.
Tema khotbah kita pada Jumat yang penuh keberkahan ini adalah “Ikhlas Tanpa Pamrih, Beramal Tanpa Menunggu Pujian.”
Pertama, menjaga keikhlasan dan meluruskan niat
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Artinya:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan salat serta menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5).
Ayat ini mengingatkan kita bahwa amal bukan hanya berkaitan dengan apa yang terlihat, tetapi juga dengan niat yang mendasarinya. Kita mungkin melakukan pekerjaan yang sama, memberikan bantuan yang sama, atau terlibat dalam kegiatan sosial yang sama. Namun, kita tetap perlu memeriksa apa yang mendorong kita melakukan semua itu.
Ikhlas berarti berusaha memurnikan niat dalam beramal karena Allah. Ikhlas bukan berarti kita tidak boleh merasa senang ketika dihargai atau tidak boleh menerima ucapan terima kasih. Ikhlas berarti kita tidak menjadikan penghargaan sebagai alasan utama untuk melakukan kebaikan.
Rasulullah saw. bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Artinya:
“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menjadi pengingat agar kita meluruskan niat dalam berbagai urusan. Ketika bekerja, niatkanlah untuk mencari rezeki yang halal, memenuhi kebutuhan keluarga, dan menjalankan amanah. Ketika menuntut ilmu, niatkanlah untuk memperoleh pengetahuan yang bermanfaat, memperbaiki diri, dan memberi sumbangsih kepada masyarakat. Ketika membantu tetangga, niatkanlah untuk meringankan beban sesama.
Demikian pula ketika mengurus masjid. Ada yang menyiapkan tempat, membersihkan ruangan, merapikan perlengkapan, menjaga kebersihan tempat wudu, dan membantu jamaah agar dapat beribadah dengan nyaman. Tidak semua pekerjaan itu terlihat, tetapi semuanya dapat menjadi bagian dari pelayanan yang bermanfaat.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Menjaga keikhlasan bukan perkara mudah. Ada kalanya kita memulai sedekah dengan niat membantu, tetapi kemudian ingin orang lain mengetahui bahwa kita telah bersedekah. Ada kalanya kita membantu tetangga dengan tulus, tetapi kemudian berharap bantuan itu dibalas. Bahkan, ketika terjadi perselisihan dengan keluarga, kita mungkin mengungkit pengorbanan yang pernah dilakukan.
Karena itu, niat perlu terus diperiksa sebelum, selama, dan setelah kita beramal. Tidak semua kebaikan harus diumumkan. Tidak semua pertolongan harus diceritakan kembali. Ada kebaikan yang cukup diketahui oleh kita dan Allah.
Namun, bukan berarti setiap amal yang dipublikasikan pasti tidak ikhlas. Dokumentasi kegiatan sosial, misalnya, dapat diperlukan untuk pertanggungjawaban, transparansi, atau mengajak masyarakat berpartisipasi. Yang perlu dijaga adalah niat, cara, dan dampaknya. Jangan sampai kegiatan yang seharusnya menolong justru mempermalukan penerima bantuan.
Jika kita merasa niat belum sepenuhnya lurus, jangan berputus asa. Teruslah memperbaiki diri. Keikhlasan bukan alasan untuk merasa paling suci, melainkan dorongan untuk semakin rendah hati dan tekun menjalankan kebaikan.
Kedua, berbuat baik tanpa menjadikan balasan manusia sebagai syarat
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Salah satu ujian dalam berbuat baik adalah ketika kita tidak menerima balasan sebagaimana yang diharapkan. Kita meluangkan waktu, tenaga, pikiran, bahkan harta untuk membantu seseorang. Namun, ketika kita membutuhkan pertolongan, orang tersebut mungkin tidak dapat hadir sebagaimana yang kita harapkan.
Dalam keadaan seperti itu, kekecewaan bisa muncul. Kita mulai bertanya, mengapa dahulu begitu banyak membantu, tetapi sekarang tidak mendapatkan perhatian yang sama? Perasaan tersebut manusiawi. Namun, kita perlu berhati-hati agar kekecewaan tidak berubah menjadi kebencian dan membuat kita kehilangan semangat untuk menolong orang lain.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Insan ayat 9:
إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا
Artinya:
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharapkan balasan dan tidak pula ucapan terima kasih darimu.” (QS. Al-Insan [76]: 9).
Ayat ini mengajarkan ketulusan dalam memberikan pertolongan. Kebaikan tidak seharusnya selalu dihitung seperti transaksi. Ketika membantu tetangga yang sedang kesulitan, misalnya, kita tidak perlu menjadikan bantuan itu sebagai alasan untuk mengatur kehidupannya atau menceritakan kesulitannya kepada orang lain agar diri kita terlihat dermawan.
Demikian pula pengorbanan orang tua dalam membesarkan anak-anaknya. Ada waktu, tenaga, perhatian, dan kebutuhan pribadi yang dikorbankan demi keluarga. Banyak pengorbanan itu tidak pernah dicatat. Hal tersebut mengajarkan bahwa kasih sayang dan kepedulian tidak selalu dapat diukur dari apa yang akan kita terima kembali.
Akan tetapi, jamaah yang dimuliakan Allah, ikhlas bukan berarti membiarkan diri terus-menerus dimanfaatkan. Kita tetap boleh menyampaikan kekecewaan dengan baik, meminta pertanggungjawaban, menetapkan batasan, dan menolak tindakan yang merugikan.
Kita dapat tetap berakhlak baik sekaligus bersikap tegas terhadap ketidakadilan. Kita dapat memaafkan tanpa membiarkan kesalahan yang sama terus berulang. Kita juga dapat membantu seseorang tanpa harus memenuhi semua permintaannya.
Jika pernah ditipu, belajarlah lebih berhati-hati. Jika pernah dikecewakan, perbaikilah cara membangun hubungan. Jika bantuan pernah disalahgunakan, evaluasilah bentuk bantuan yang lebih tepat. Jangan sampai pengalaman buruk membuat kita menutup pintu kebaikan bagi setiap orang yang membutuhkan pertolongan.
Berbuat baik tidak berarti mengabaikan akal sehat. Berbuat ikhlas juga tidak berarti kehilangan kebijaksanaan. Keduanya perlu berjalan bersama agar pertolongan benar-benar membawa manfaat.
Ketiga, menghindari riya dan menjaga martabat orang yang dibantu
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Ada hal lain yang perlu kita waspadai dalam menjaga keikhlasan, yaitu riya, sum’ah, kesombongan, dan kebiasaan mengungkit kebaikan.
Riya berkaitan dengan keinginan agar amal dilihat dan memperoleh pengakuan manusia. Sum’ah berkaitan dengan keinginan agar amal didengar dan dikenal orang lain. Keduanya mengingatkan kita bahwa kebaikan dapat berubah menjadi sarana membangun citra diri apabila niat tidak dijaga.
Dalam kehidupan sehari-hari, hal itu bisa muncul ketika seseorang terus menceritakan bantuannya agar dianggap dermawan, mudah marah karena namanya tidak disebut dalam suatu kegiatan, atau mengungkit pertolongan masa lalu setiap kali terjadi perselisihan.
Meski demikian, kita tidak boleh sembarangan menilai isi hati orang lain. Tidak semua dokumentasi atau publikasi kegiatan merupakan riya. Karena kita tidak mengetahui seluruh niat seseorang, hal pertama yang perlu diperiksa adalah niat diri sendiri.
Apakah kita membantu karena ingin meringankan beban atau sekadar ingin dikenal sebagai penolong? Apakah kita kecewa karena suatu keputusan tidak adil atau hanya karena tidak menjadi pusat perhatian? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu kita jawab dengan jujur.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Mengungkit kebaikan juga dapat melukai orang yang pernah kita bantu. Seseorang yang sedang mengalami kesulitan membutuhkan pertolongan, bukan pengingat berulang-ulang tentang kelemahannya. Ia membutuhkan penghormatan terhadap martabatnya, bukan perlakuan yang membuatnya merasa rendah.
Jika kita pernah membantu seseorang, jagalah kehormatannya. Jangan menyebarkan kesulitan pribadinya tanpa alasan yang benar. Jangan menjadikan kekurangannya sebagai bahan percakapan. Jangan menggunakan bantuan yang pernah diberikan untuk memaksanya mengikuti semua kehendak kita.
Bantuan yang baik semestinya menguatkan, bukan mempermalukan. Sedekah yang baik semestinya meringankan beban, bukan menciptakan beban batin yang baru. Nasihat yang baik semestinya membuka jalan perbaikan, bukan membuat orang lain kehilangan harga diri.
Karena itu, mari kita jadikan kegiatan Jumat Berkah sebagai pengingat untuk menumbuhkan kepedulian yang berkelanjutan. Hari ini kita berkumpul di Masjid Al-Ikhlas, Sambilegi Lor. Nama masjid ini mengingatkan kita pada ketulusan dalam beribadah dan berbuat baik.
Semoga semangat berbagi tidak berhenti setelah makanan selesai dibagikan dan jamaah meninggalkan masjid. Kepedulian dapat diteruskan dengan menanyakan kabar tetangga yang sakit, membantu keluarga yang mengalami kesulitan, mendukung anak-anak yang membutuhkan kesempatan belajar, atau mendamaikan perselisihan di lingkungan sekitar.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Ma’idah ayat 2:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Artinya:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 2).
Ayat ini mengingatkan kita untuk bekerja sama dalam kebaikan dengan cara yang benar. Ada orang yang dapat membantu melalui hartanya, ada yang memiliki waktu dan tenaga, ada yang mempunyai ilmu serta keterampilan, dan ada pula yang mampu memberikan perhatian kepada orang yang sedang menghadapi kesulitan.
Setiap kemampuan dapat diarahkan untuk kebaikan selama dilakukan dengan bertanggung jawab dan tidak melanggar hak orang lain. Kita tidak harus menunggu memiliki banyak harta atau jabatan tinggi untuk memberi manfaat. Kebaikan dapat dimulai dari hal yang dekat: membantu orang tua, mendengarkan anggota keluarga, menepati janji, menjaga kebersihan lingkungan, dan meminta maaf setelah berbuat salah.
Jadikanlah masjid sebagai tempat memperbaiki diri, menambah ilmu, memperkuat persaudaraan, dan menumbuhkan kepedulian. Jangan menjadikannya tempat mempertontonkan siapa yang paling kaya, paling berpengaruh, atau paling berjasa.
Keempat, membuktikan keikhlasan melalui akhlak sehari-hari
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Keikhlasan tidak hanya berkaitan dengan sedekah atau kegiatan sosial. Keikhlasan juga perlu tercermin dalam perilaku sehari-hari, terutama ketika tidak ada orang yang memperhatikan kita.
Bagaimana sikap kita ketika berada di rumah bersama keluarga? Bagaimana cara kita memperlakukan orang yang membantu pekerjaan kita? Bagaimana sikap kita ketika berbeda pendapat dengan teman? Apakah kita tetap jujur ketika tidak diawasi dan tetap bertanggung jawab ketika tidak ada penghargaan yang menanti?
Jangan sampai kita santun di masjid, tetapi kasar kepada keluarga. Jangan sampai kita ramah kepada orang yang memiliki kedudukan, tetapi merendahkan orang yang dianggap tidak penting. Jangan sampai kita rajin berbicara tentang agama, tetapi mengabaikan kejujuran dalam pekerjaan.
Jika ingin belajar ikhlas, mulailah dari rumah. Dengarkan anggota keluarga dengan baik, hargai pekerjaan yang dilakukan orang lain, dan jangan mudah melontarkan kata-kata yang merendahkan ketika berbeda pendapat. Jika melakukan kesalahan, beranilah meminta maaf.
Dalam pekerjaan, jadilah pribadi yang dapat dipercaya. Jangan mengambil hak orang lain atau meninggalkan tanggung jawab hanya karena tidak ada pengawasan. Dalam kehidupan bertetangga, jagalah ucapan dan hindari menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya.
Rasulullah saw. bersabda:
اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Artinya:
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. At-Tirmidzi, no. 1987).
Hadis ini mengingatkan bahwa ketakwaan perlu dibawa ke mana pun kita pergi, baik di masjid, rumah, tempat kerja, lingkungan masyarakat, maupun ruang digital. Ketika melakukan kesalahan, kita perlu berusaha memperbaikinya. Ketika pernah berkata kasar, belajarlah meminta maaf. Ketika pernah meremehkan orang lain, belajarlah menghormati mereka.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kita semua masih memiliki kekurangan. Karena itu, pembahasan tentang keikhlasan hendaknya menjadi cermin bagi diri sendiri, bukan alat untuk merasa lebih suci daripada orang lain.
Dalam perjalanan hidup, ada masa ketika kebaikan kita disambut dengan rasa syukur. Ada pula masa ketika niat baik disalahpahami atau usaha kita belum dihargai. Dalam keadaan seperti itu, kita perlu menjaga keseimbangan antara keikhlasan, kesabaran, dan kebijaksanaan.
Kita tetap perlu mengevaluasi tindakan dan memperbaiki kekurangan. Keikhlasan bukan alasan untuk bekerja tanpa perencanaan. Kesabaran bukan alasan untuk mengulangi kesalahan yang sama. Tawakal bukan alasan untuk meninggalkan usaha.
Jangan biarkan pujian membuat kita sombong dan jangan biarkan ketiadaan pujian membuat kita berhenti berbuat baik. Kita tidak harus selalu menjadi pelaku utama atau berada di depan. Terkadang, peran terbaik kita adalah mendukung orang lain agar dapat melakukan kebaikan dengan lebih baik.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita membawa pesan khotbah ini ke dalam tindakan nyata. Mulailah dengan memperbaiki satu hal dalam diri kita. Jika selama ini mudah kecewa ketika tidak mendapatkan pujian, ingatlah kembali tujuan awal kita melakukan kebaikan. Jika sering mengungkit bantuan, belajarlah menjaga lisan. Jika terbiasa menunda pertolongan, mulailah melakukan sesuatu yang bermanfaat sesuai kemampuan.
Bayangkan jika setiap orang di lingkungan kita bersedia melakukan satu kebaikan dengan tulus. Seseorang membantu tetangganya tanpa merendahkan. Seseorang bekerja dengan jujur meskipun tidak diawasi. Seseorang menjaga kebersihan lingkungan tanpa menunggu diperintah. Seseorang mendamaikan perselisihan tanpa mencari keuntungan pribadi.
Kebaikan itu mungkin tidak selalu mendapatkan penghargaan atau diketahui banyak orang. Namun, jika dilakukan secara berkelanjutan, kebaikan dapat membantu membangun lingkungan yang lebih peduli dan penuh persaudaraan.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tulus dalam beribadah, jujur dalam bekerja, amanah dalam menjalankan tanggung jawab, santun dalam berbicara, dan peduli terhadap sesama. Semoga setiap kemampuan yang kita miliki menjadi sarana memberi manfaat dan setiap kesempatan yang Allah berikan tidak kita sia-siakan.
Marilah kita pulang dari masjid dengan tekad untuk menjadi manusia yang lebih baik, bukan sekadar terlihat baik; menjadi manusia yang bermanfaat, bukan sekadar dikenal; serta berusaha tulus dalam beramal, bukan hanya mengharapkan pujian dari sesama.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
أَقِيمُوا الصَّلَاةَ.
Khotbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ
أَمَّا بَعْدُ
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Marilah kita kembali meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjaga keikhlasan, meluruskan niat, dan memperbanyak amal saleh. Jangan menjadikan pujian sebagai satu-satunya alasan untuk berbuat baik. Gunakanlah harta, ilmu, tenaga, waktu, dan kemampuan yang kita miliki untuk menjalankan amanah serta memberi manfaat kepada sesama.
Semoga Allah membersihkan hati kita dari riya dan kesombongan, membimbing kita agar senantiasa berbuat baik, serta menjadikan kita pribadi yang istiqamah dalam kebaikan, baik ketika dipuji maupun ketika tidak diperhatikan.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا، وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ.
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ قُلُوبَنَا، وَطَهِّرْ نِيَّاتِنَا، وَاجْعَلْ أَعْمَالَنَا صَالِحَةً، وَلِوَجْهِكَ خَالِصَةً، وَلَا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ فِيهَا شَيْئًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الرِّيَاءِ وَالسُّمْعَةِ، وَمِنَ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ، وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا، وَلِسَانًا صَادِقًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي مَسْجِدِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَهْلِنَا وَأَوْلَادِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَرْزَاقِنَا وَأَعْمَالِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ الْمُخْلِصِينَ.
اللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَ الْمَهْمُومِينَ، وَنَفِّسْ كُرُوبَ الْمَكْرُوبِينَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدِينِينَ، وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ.
اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَاجْعَلْ بَلَدَنَا وَمُجْتَمَعَنَا آمِنًا وَمُطْمَئِنًّا.
اللَّهُمَّ وَفِّقْنَا لِلْعَمَلِ الصَّالِحِ، وَأَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.





0 Tanggapan
Empty Comments