Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

IMM dan IPM Jatim Cetak Kader Militan Lewat Darul Arqam

Iklan Landscape Smamda
IMM dan IPM Jatim Cetak Kader Militan Lewat Darul Arqam
Cahyo Setiyo Budiono SS MHum saat menyampaikan materi (Nur Maslikhatun Nisak/PWMU.CO)
pwmu.co -

Rangkaian Darul Arqam Organisasi Otonom (Ortom) tingkat wilayah yang diikuti oleh DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jawa Timur dan PW Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Jawa Timur menjadi momentum penting dalam sejarah perkaderan.

Acara yang diselenggarakan oleh Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PWM Jawa Timur di aula Agro Mulia, Prigen, Pasuruan pada Jumat (29/8/2025) ini menghadirkan Dosen Universitas Muhammadiyah Surabaya, Cahyo Setiyo Budiono SS MHum.

Dalam suasana penuh semangat dan kebersamaan, Cahyo Setiyo Budiono menegaskan pentingnya membentuk kader militan Muhammadiyah melalui dua pilar utama: manajemen organisasi dan akhlak bermuhammadiyah.

Kegiatan ini diikuti oleh puluhan kader pilihan dari IMM dan IPM se-Jawa Timur, khususnya dari jajaran pimpinan tingkat wilayah. Kehadiran para peserta mencerminkan kesungguhan organisasi dalam mencetak kader yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara ideologis dan siap berjuang demi kepentingan umat.

Sebagai pemateri, Cahyo Setiyo Budiono menghadirkan perspektif segar berkat latar belakangnya sebagai akademisi dan praktisi. Pengalamannya dalam memimpin lembaga pendidikan serta keterlibatan aktif di Muhammadiyah menjadikan materi yang disampaikannya relevan, membumi, dan menyentuh langsung kebutuhan kader di lapangan.

Adapun materi inti yang dibawakan berfokus pada Manajemen Organisasi dan Akhlak Bermuhammadiyah, dua aspek fundamental dalam pembentukan kader yang militan dan visioner.

Cahyo menjelaskan bahwa sejak awal berdiri, Muhammadiyah telah menekankan pentingnya manajemen organisasi yang tertata rapi dan dijalankan secara kolektif-kolegial. Menurutnya, keutuhan organisasi dan kerapian administrasi merupakan fondasi utama kekuatan Persyarikatan.

“Kader militan bukan hanya mereka yang berani berbicara, tetapi juga yang mampu mengelola, mengorganisir, dan menata langkah perjuangan dengan disiplin manajemen. Tanpa itu, semangat hanya akan berakhir sebagai retorika,” tegas Cahyo di hadapan para peserta.

Selain aspek manajerial, Cahyo juga menekankan pentingnya akhlak Bermuhammadiyah sebagai ruh dari pergerakan kader.

“Akhlak profetik yang mencakup siddiq, amanah, tabligh, dan fathonah harus menjadi karakter dasar yang melekat pada setiap kader,” tuturnya.

Dengan landasan akhlak tersebut, militansi kader tidak hanya tampil sebagai kekuatan struktural, tetapi juga sebagai kekuatan moral dan teladan di tengah masyarakat.

Materi yang dibawakan oleh Cahyo menjadi titik penting karena menekankan penguatan militansi kader melalui dua fondasi utama: manajemen organisasi dan akhlak Bermuhammadiyah.

Darul Arqam ini menjadi wadah yang sangat strategis dalam mengonsolidasikan kader IMM dan IPM se-Jawa Timur.

Di tengah tantangan zaman, mulai dari pragmatisme generasi muda, derasnya arus digitalisasi, hingga krisis kepemimpinan moral organisasi dituntut untuk melahirkan kader militan yang tidak hanya piawai dalam berdiskusi dan berdebat, tetapi juga memiliki etos kerja tinggi, komitmen kuat, serta akhlak mulia.

Dalam pemaparannya, Cahyo Setiyo Budiono menegaskan bahwa militansi kader Muhammadiyah harus diwujudkan dalam tiga kompetensi utama:

  •  Kompetensi keorganisasian

Mampu mengelola potensi, memimpin dengan teladan, dan menata organisasi dengan disiplin.

SMPM 5 Pucang SBY

  • Kompetensi intelektual

Berpikir maju, inovatif, dan berdaya juang tinggi menghadapi tantangan zaman.

  • Kompetensi akhlak

Menjadi pribadi yang shiddiq, amanah, tabligh, dan fathonah dalam segala aspek kehidupan.

Acara berlangsung dinamis dengan penyampaian materi yang interaktif. Para peserta tidak hanya menjadi pendengar pasif, tetapi juga terlibat aktif dalam diskusi, menganalisis studi kasus nyata dalam manajemen organisasi, serta merefleksikan penerapan akhlak bermuhammadiyah di era modern.

“Jika kader hanya berjuang demi kepentingan sesaat, mereka akan mudah menyerah. Namun jika perjuangan dilandasi oleh makna ideologis yang kuat, maka militansi akan terjaga selamanya,” ujarnya.

Kesan Peserta

Sesi ini berlangsung hangat. Peserta terlihat antusias, mencatat, dan aktif berdiskusi. Banyak yang mengaku materi ini membuka cakrawala baru.

Salah satu peserta dari DPD IMM Surabaya, Nurul Hidayah menyampaikan kesannya.

“Saya belajar bahwa militansi bukan hanya soal keberanian, tetapi juga kesungguhan mengelola organisasi dengan rapi dan menjaga akhlak. Inilah yang membedakan kader Muhammadiyah dengan yang lain,” ungkapnya.

Darul Arqam ini telah menegaskan arah perkaderan IMM dan IPM Jawa Timur, yaitu melahirkan kader militan yang berakar pada manajemen organisasi yang kokoh serta berakhlak Muhammadiyah yang luhur.

Melalui materi yang disampaikan oleh Cahyo Setiyo, para kader tidak hanya dibekali dengan teori, tetapi juga diberikan inspirasi nyata untuk bergerak dan bertindak.

“Militansi dalam konteks ini bukan sekadar semangat emosional, melainkan wujud komitmen yang rasional, organisatoris, dan bermoral yang menyatu dalam kepribadian kader Muhammadiyah,” pungkasnya.

Sesi ini ditutup dengan seruan bersama penuh semangat:

“Kami, kader IMM dan IPM Jawa Timur, siap menjadi militan, berjuang dengan ilmu, manajemen, dan akhlak untuk Muhammadiyah dan Indonesia!.” (*)

 

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡