Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Irwan, Sarjana Cumlaude UMPP yang Menjual Nasi Goreng Sejak SMP

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Irwan, Sarjana Cumlaude UMPP yang Menjual Nasi Goreng Sejak SMP
Irwan di sela acara Wisuda Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP). Foto: Mukhtarom

Pukul tiga dini hari, ketika sebagian orang masih terlelap, Irwan mungkin baru saja menutup lapak nasi gorengnya. Tubuhnya lelah. Matanya mengantuk. Tetapi beberapa jam kemudian, ia harus kembali ke kampus, duduk di ruang kuliah, menyimak dosen, dan mengerjakan tugas-tugas akademik.

Begitulah hari-hari Irwan, 22 tahun, pemuda asal Poncol, Kota Pekalongan. Malamnya mencari nafkah. Siangnya mengejar ilmu.

Pada Rabu, 14 Oktober 2026, kerja keras itu mengantarkannya ke sebuah pencapaian yang tidak semua orang bisa raih. Irwan resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan Jasmani dari Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) dengan predikat cumlaude.

Gelar itu bukan hadiah. Bukan pula hasil perjalanan yang mulus. Ada wajan, nasi, bumbu, dan asap dari lapak kecil di depan Rumah Sakit Siti Khadijah Kota Pekalongan yang menjadi bagian dari ceritanya.

Jauh sebelum mengenakan toga, Irwan sudah lebih dulu belajar tentang tanggung jawab. Pelajarannya bukan di ruang kelas, melainkan di tempat ia berjualan nasi goreng bersama ayahnya.

“Saya jualan nasi goreng sejak duduk di kelas dua SMP. Waktu itu saya berjualan karena kondisi orang tua dan ingin ikut membantu,” kata Irwan.

Usianya masih belasan tahun ketika tanggung jawab keluarga mulai mengetuk pintunya. Anak seusianya mungkin masih sibuk memikirkan permainan, pertemanan, atau kegiatan sekolah.

Irwan sudah memikirkan bagaimana membantu orang tua memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ayahnya menderita stroke selama sekitar delapan tahun.

Ketika kondisi sang ayah menurun, Irwan mengambil alih usaha nasi goreng yang sebelumnya mereka jalankan bersama.

Sejak itu, lapak nasi goreng bukan sekadar tempat mencari uang. Di sanalah ia belajar bertahan.

Wajan, Buku Kuliah, dan Waktu Tidur yang Tipis

Menjadi mahasiswa saja sudah membutuhkan tenaga, waktu, dan biaya. Irwan menjalani semuanya dengan satu pekerjaan tambahan yang tak mengenal jam kantor: berjualan nasi goreng sampai dini hari.

Pagi hingga sore, ia mengikuti perkuliahan. Setelah itu, ia bersiap membuka lapak selepas magrib. Dagangannya baru dibereskan sekitar pukul 02.00 atau 03.00.

Tidurnya rata-rata hanya empat jam sehari. Jika ada jeda di antara jadwal kuliah, waktu itu ia manfaatkan untuk beristirahat. Bukan nongkrong berlama-lama.

Bukan pula sekadar mengisi waktu luang. Tubuhnya membutuhkan jeda sebelum kembali menghadapi pekerjaan berikutnya. Tetapi berjualan nasi goreng bukan satu-satunya sumber penghasilannya.

Irwan juga bekerja sebagai pelatih renang di Kabupaten Batang. Selama dua hingga tiga tahun, ia melatih di sejumlah tempat, di antaranya kolam renang THR Kramat Batang dan kolam renang Dinas Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disparpora) Batang.

Pekerjaan itu menjadi penopang tambahan ketika penghasilan dari berjualan nasi goreng tidak menentu. Dua pekerjaan dijalani. Kuliah tetap diselesaikan. Irwan membiayai pendidikan regulernya dari hasil keringat sendiri.

Dia tidak mengandalkan beasiswa untuk menuntaskan pendidikan sarjananya. Uang hasil berjualan dan melatih renang harus dibagi untuk kebutuhan keluarga sekaligus biaya kuliah. Setiap rupiah punya tujuan. Setiap malam yang panjang punya alasan.

Pernah Ingin Berhenti, tetapi Memilih Bertahan

Ada masa ketika semangat saja tidak cukup untuk membuat seseorang terus melangkah.
Irwan merasakannya pada semester pertama. Biaya kuliah yang harus dibayarkan terasa berat. Ia sempat berpikir untuk menyerah.

“Awal-awal semester satu itu sempat mau menyerah karena UKT-nya cukup tinggi. Akhirnya saya mencicil dan tetap melanjutkan kuliah,” tuturnya.

Keputusan untuk bertahan itu mungkin terdengar biasa. Padahal, bagi seseorang yang harus mencari uang sendiri untuk membayar pendidikan, bertahan berarti bersedia menghadapi satu malam kerja lagi, satu jadwal kuliah lagi, dan satu tagihan lagi.

Dia  tidak punya kemewahan untuk hanya memikirkan kuliah. Ada keluarga yang harus dibantu. Ada kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi.

Ketika tiba masa penyusunan skripsi, persoalannya bertambah. Tugas akhir menuntut konsentrasi dan waktu, sementara lapak nasi goreng tidak bisa begitu saja ditinggalkan.

Pekerjaan sebagai pelatih renang juga tetap berjalan. Untuk menunjang pengerjaan skripsi, Irwan bahkan membeli laptop sendiri.

Di tengah keterbatasan itu, keluarganya tetap menjadi tempat bersandar. Orang tua dan saudara-saudaranya turut membantu ketika ia menghadapi kekurangan biaya atau kebutuhan selama kuliah.

Irwan, Sarjana Cumlaude UMPP yang Menjual Nasi Goreng Sejak SMP
Irwan bersama teman-temannya saat wisuda di UMPP. Foto: Mukhtarom

Perjuangan Irwan memang banyak bertumpu pada dirinya sendiri. Namun, ia tidak benar-benar berjalan sendirian.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Dukungan keluarga membuatnya punya alasan tambahan untuk bertahan. Ada harapan yang harus dijaga. Ada kepercayaan yang tidak ingin ia sia-siakan.

Akhirnya, kuliah yang sempat terasa nyaris mustahil itu selesai juga. Hanya dalam 3,5 tahun, Irwan menuntaskan pendidikan sarjananya dengan predikat cumlaude.

Dosen yang Mengetahui Perjuangannya

Di lingkungan kampus, Irwan tidak hanya dikenal sebagai mahasiswa yang harus bekerja untuk membiayai kuliah. Prestasi akademiknya juga tergolong baik.

Ketua Program Studi Pendidikan Jasmani UMPP, Riski Aditya, mengaku bangga atas pencapaian mahasiswanya itu.

Riski mengetahui Irwan berjualan nasi goreng pada malam hari setelah menyelesaikan aktivitas kuliah. Hasil penjualannya digunakan untuk membantu membayar biaya pendidikan sekaligus memenuhi kebutuhan hidup.

“Nilai-nilainya untuk Irwan ini cukup rajin dan nilai-nilainya cenderung bagus semuanya. Selain itu, dia memiliki kompetensi di bidang wasit renang,” ujar Riski saat ditemui pada momen wisuda UMPP, Rabu (14/10/2026).

Bagi Riski, menyelesaikan kuliah tepat waktu dengan predikat cumlaude saja sudah merupakan pencapaian yang patut diapresiasi. Apalagi, Irwan harus membagi waktu antara kuliah, berjualan, dan melatih renang.

“Saya sebagai kepala prodi, sebagai dosennya, sangat bangga dan memberikan apresiasi atas perjuangan mahasiswa-mahasiswa kami yang sangat luar biasa,” katanya.

Pihak kampus, menurut Riski, turut membantu Irwan menyelesaikan pendidikannya dengan baik. Dukungan itu menjadi bagian dari perjalanan akademiknya.

Namun, tidak ada dukungan yang bisa menggantikan seluruh tenaga yang ia keluarkan sendiri. Irwan tetap harus berdiri di depan lapak pada malam hari, mengatur waktu istirahat, dan datang ke kampus ketika pagi menjelang.

Di situlah pencapaiannya menemukan arti lebih dalam. Predikat cumlaude bukan hanya berbicara tentang nilai di transkrip. Di belakangnya, ada ketekunan yang terus diuji oleh keadaan.

Setelah Toga, Ada Cita-Cita yang Menunggu

Lulus kuliah bukan berarti perjuangan Irwan selesai. Justru ada pintu baru yang ingin ia buka.
Ia bercita-cita menjadi guru olahraga.

Keinginan itu bukan sesuatu yang sepenuhnya asing baginya. Irwan pernah bekerja sebagai guru olahraga di SDN Poncol 2. Pengalaman mengajar, pendidikan di UMPP, serta keterampilannya di bidang renang menjadi bekal untuk menekuni profesi tersebut.

Kini, dia memiliki gelar sarjana yang dapat menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh.
Kepada mahasiswa lain yang harus bekerja sambil kuliah, Irwan berpesan agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Dia tahu betul rasanya membagi tenaga untuk dua tanggung jawab sekaligus. Ia juga tahu ada masa ketika biaya kuliah terasa terlalu tinggi, waktu tidur terlalu pendek, dan tubuh terlalu lelah untuk memulai hari berikutnya. Namun, ia memilih melanjutkan.

Bagi Irwan, usaha dan doa harus berjalan beriringan. Kesulitan bukan alasan untuk berhenti memperjuangkan pendidikan.

Wisuda 14 Oktober itu pun bukan sekadar seremoni dengan toga dan ijazah. Ada perjalanan panjang yang ikut dibawanya pulang: tahun-tahun membantu ayah, malam-malam berjualan nasi goreng, pekerjaan melatih renang, dan kuliah yang hampir ia tinggalkan.

Barangkali, kelak orang akan mengenal Irwan sebagai seorang guru olahraga. Murid-muridnya mungkin akan memanggilnya Pak Guru, tanpa mengetahui berapa malam yang pernah dia habiskan di depan wajan, atau berapa jam tidurnya yang harus ia korbankan demi membayar uang kuliah.

Tetapi Irwan tahu dari mana semua itu bermula. Dari sebuah lapak nasi goreng. Dari keinginan membantu keluarga. Dari keputusan sederhana yang berkali-kali harus ia ambil: tetap bertahan meskipun keadaan tidak mudah.

Malam demi malam, ia mengaduk nasi di atas wajan. Siang demi siang, ia menyerap ilmu di ruang kuliah.

Kini, nasi goreng itu telah ikut mengantarkannya menjadi sarjana. Bukan karena wajan bisa menggantikan ruang kelas, melainkan karena dari wajan itulah Irwan menemukan jalan untuk terus belajar.

Dan ketika toga cumlaude itu akhirnya dikenakan, yang patut dirayakan bukan hanya gelar di belakang namanya.

Melainkan keberanian seorang anak muda untuk tidak membiarkan keadaan keluarganya menjadi alasan berhenti bermimpi. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 16/10/2026 14:49
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu