Iklan SDM 4 Mudipat 2026

Jangan Biarkan Sisa Umur Habis dalam Dosa

Iklan Smamda Sidoarjo 2026
Jangan Biarkan Sisa Umur Habis dalam Dosa
Ilustrasi: OpenAI
BANNER RSI AISYIYAH MALANG
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah

Pernahkah kita menghitung berapa banyak waktu yang telah berlalu tanpa meninggalkan jejak kebaikan?

Pagi berganti malam. Senin menjadi Minggu. Bulan berganti tahun. Usia terus bertambah, sementara kesempatan yang tersisa semakin berkurang. Ada hari-hari yang kita isi dengan amal saleh.

Namun, tidak sedikit pula yang berlalu begitu saja. Bahkan, sebagian waktu mungkin kita habiskan untuk sesuatu yang kelak justru kita sesali.

Ketika masih muda, kita merasa hidup akan berlangsung lama. Salat bisa ditunda. Tobat bisa menunggu. Kebaikan bisa dilakukan nanti, ketika pekerjaan sudah beres, urusan keluarga selesai, atau kehidupan terasa lebih lapang.

Namun, waktu tidak pernah menunggu kesiapan manusia.

Suatu hari, seseorang mungkin duduk sendirian di ruang tunggu rumah sakit. Di sampingnya, seorang pasien terbaring dengan tubuh yang semakin lemah. Percakapan yang terdengar bukan lagi tentang jabatan, kekayaan, atau rencana masa depan. Yang muncul justru pertanyaan-pertanyaan mendasar: Sudah berapa banyak kebaikan yang dilakukan? Sudah berapa banyak kesalahan yang diperbaiki? Jika waktu ternyata tidak panjang, bekal apa yang akan dibawa pulang?

Pada saat seperti itulah manusia sering menyadari sesuatu yang selama ini luput dari perhatian: kesempatan untuk memperbaiki diri adalah nikmat yang luar biasa.

Masa Lalu Bukan Akhir Segalanya

Syaikh Prof. Dr. Abdurrozzaq al-Badr hafizahullah menjelaskan tentang besarnya kesempatan untuk memperbaiki diri pada sisa umur yang masih dimiliki seseorang.

Beliau menerangkan bahwa apabila seseorang memperbaiki amalnya pada sisa umurnya, Allah dapat mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Sebaliknya, jika ia terus berbuat buruk dan menyia-nyiakan kesempatan, ia akan menghadapi perhitungan atas perbuatannya, baik yang telah lalu maupun yang dilakukan kemudian.

Penjelasan ini mengandung harapan sekaligus peringatan.

Harapan, karena pintu pertobatan tidak tertutup hanya lantaran seseorang memiliki masa lalu yang kelam. Peringatan, karena kesempatan yang masih terbuka tidak seharusnya digunakan untuk mengulangi kesalahan yang sama.

Bayangkan seseorang yang telah menghabiskan 60 tahun kehidupannya dalam kelalaian. Banyak kewajiban yang diabaikan. Banyak kesempatan berbuat baik yang dilewatkan.

Mungkin ada orang yang pernah disakiti, amanah yang diabaikan, atau waktu yang habis untuk mengejar sesuatu yang ternyata tidak mendekatkannya kepada Allah.

Lalu, pada usia senjanya, hatinya tersentuh. Ia menyadari kekeliruannya. Ia bertobat, kembali kepada Allah, memperbaiki ibadah, dan membulatkan tekad untuk istiqamah dalam ketaatan.

Ternyata, setelah itu ia hanya hidup beberapa hari.

Apakah beberapa hari tersebut tidak berarti apa-apa dibandingkan 60 tahun sebelumnya?

Justru di sinilah letak kebesaran rahmat Allah. Sisa umur yang singkat dapat menjadi titik balik kehidupan. Pertobatan yang sungguh-sungguh dapat membuka jalan ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu.

Bukan panjangnya waktu yang semata-mata menentukan nilai kehidupan, melainkan bagaimana seseorang mengisi waktu yang diberikan kepadanya dan bagaimana ia kembali kepada Tuhannya.

Tentu, harapan akan ampunan tidak boleh dijadikan alasan untuk meremehkan dosa. Pertobatan yang sungguh-sungguh menuntut penyesalan, berhenti dari kemaksiatan, dan tekad untuk tidak mengulanginya.

Jika kesalahan berkaitan dengan hak orang lain, seseorang juga perlu berusaha mengembalikan hak tersebut atau meminta maaf sesuai dengan keadaan.

Sebab, kembali kepada Allah bukan sekadar mengucapkan istigfar, melainkan juga mengubah arah kehidupan.

Jangan Menunda Kebaikan

Kita sering menyaksikan orang yang berubah setelah melewati peristiwa besar. Ada yang mulai rajin ke masjid setelah sakit. Ada yang lebih dekat dengan keluarga setelah kehilangan orang yang dicintai.

Ada pula yang mulai memperbaiki ibadah setelah menyaksikan kepergian sahabat seusianya.

Kehilangan membuat kita memahami arti kehadiran. Sakit mengajarkan nilai kesehatan. Sementara kematian mengingatkan bahwa kehidupan memiliki batas yang tidak pernah kita ketahui.

Iklan SMPM 5 Surabaya 2026

Namun, bukankah lebih baik jika kesadaran itu tumbuh sebelum semuanya terlambat?

Tidak perlu menunggu sakit untuk mulai menjaga salat. Tidak perlu menunggu kehilangan untuk meminta maaf. Tidak perlu menunggu usia senja untuk memperbanyak amal saleh.

Kebaikan dapat dimulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan kita.

Seseorang yang selama ini mudah marah dapat mulai belajar menahan lisannya. Orang yang terbiasa mengabaikan keluarga dapat meluangkan waktu untuk mendengarkan mereka.

Mereka yang pernah menyakiti orang lain dapat berusaha memperbaiki hubungan. Sementara mereka yang merasa jauh dari Allah dapat memulai kembali dengan menjaga salat dan memperbanyak istigfar.

Langkah-langkah itu mungkin terlihat kecil. Namun, perubahan besar sering bermula dari keputusan sederhana yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan terus dijaga.

Yang terpenting, jangan membiarkan penyesalan hanya menjadi perasaan yang datang sesaat. Jadikan penyesalan sebagai pintu untuk berubah.

Sebab, waktu yang telah berlalu tidak dapat dipanggil kembali. Kita tidak bisa mengulang kemarin untuk memperbaiki perkataan yang telanjur melukai atau mengganti kesempatan yang telah terlewat. Akan tetapi, kita masih dapat memperbaiki apa yang sedang kita jalani hari ini.

Selama Masih Ada Waktu

Ada orang yang merasa dosanya terlalu banyak untuk diampuni. Masa lalunya terlalu panjang untuk diperbaiki. Kesalahannya terlalu besar untuk ditebus dengan amal yang tersisa.

Perasaan semacam itu dapat membuat seseorang menyerah sebelum benar-benar kembali kepada Allah.

Padahal, keputusasaan bukanlah jalan keluar. Selama masih diberi kehidupan, seseorang masih memiliki kesempatan untuk bertobat, memperbaiki diri, dan melakukan kebaikan.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” (QS az-Zumar: 53).

Ayat ini bukan undangan untuk terus berbuat dosa. Sebaliknya, ayat ini adalah panggilan agar manusia tidak menyerah untuk kembali kepada Allah, betapa pun panjang jalan keliru yang pernah ditempuhnya.

Jangan sampai seseorang menghabiskan sisa umurnya untuk meratapi masa lalu, tetapi tidak melakukan apa-apa untuk memperbaiki masa depan. Penyesalan semestinya menggerakkan langkah, bukan melumpuhkannya.

Kita tidak tahu berapa lama lagi waktu yang tersisa. Mungkin masih puluhan tahun. Mungkin beberapa bulan. Bahkan, mungkin hanya beberapa hari.

Ketidakpastian itulah yang semestinya membuat kita lebih bersungguh-sungguh menjalani hari ini.

Jika kemarin kita lalai, hari ini kita bisa kembali taat. Jika kemarin kita menyakiti, hari ini kita bisa mulai memperbaiki. Jika kemarin kita jauh dari Allah, hari ini kita bisa mengambil langkah untuk mendekat kepada-Nya.

Jangan biarkan dosa masa lalu membuat kita kehilangan harapan. Namun, jangan pula membiarkan harapan akan ampunan membuat kita merasa aman untuk terus berbuat salah.

Sebab, umur bukan sekadar hitungan hari yang terus berkurang. Umur adalah kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah, dengan sesama manusia, dan dengan diri sendiri.

Pada akhirnya, kita tidak bisa mengubah berapa lama kita telah hidup. Kita juga tidak tahu berapa lama lagi akan diberi kesempatan.

Yang masih berada dalam jangkauan kita adalah keputusan untuk menggunakan waktu yang tersisa dengan lebih baik.

Masa lalu mungkin telah dipenuhi kesalahan. Namun, jangan biarkan sisa umur ikut dihabiskan dalam kelalaian.

Bisa jadi, hari ketika kita sungguh-sungguh kembali kepada Allah justru menjadi awal dari ampunan yang selama ini kita harapkan. (*)

Revisi Oleh:
  • Agus Wahyudi - 30/10/2026 03:30
SD Kreatif
Adv UMSURA

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu