Shalat bukan sekadar kewajiban lima waktu yang ditunaikan di masjid, melainkan juga menjadi fondasi dalam menjaga perilaku seorang Muslim sepanjang kehidupannya. Pesan inilah yang mengemuka dalam Kajian Ba’da Subuh, Ahad (11/10/2026) di Masjid Attaqwa Dupak Bangunsari, Surabaya, yang menghadirkan Ustad Muchamad Arifin, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Mengangkat tema yang sederhana tetapi sarat makna, kajian ini mengajak jamaah memahami kembali hakikat shalat sebagai ibadah yang seharusnya membentuk karakter, menenangkan hati, dan membimbing perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Penyampaian materi berlangsung menarik dengan dukungan multimedia. Melalui tayangan video di layar, jamaah diajak menyaksikan gambaran perilaku manusia dalam kehidupan di luar masjid. Pendekatan ini membuat kajian terasa lebih dekat dengan realitas sehari-hari sekaligus mengajak jamaah melakukan introspeksi terhadap perilaku diri sendiri.
Dalam penyampaiannya, Ustad Muchamad Arifin menekankan bahwa menjadi mushalli atau orang yang menegakkan shalat tidak cukup hanya ketika menjalankan shalat lima waktu. Nilai-nilai shalat harus tetap hidup dalam sikap dan tindakan, baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun ketika berinteraksi dengan masyarakat.
“Jangan sampai kita menjadi Muslim yang terlihat baik ketika berada di masjid, tetapi kehilangan nilai-nilai shalat ketika kembali menjalani kehidupan di luar masjid,” demikian pesan yang menjadi inti kajian tersebut.
Ia juga mengajak jamaah memahami bahwa shalat yang dilaksanakan dengan bacaan yang benar, gerakan yang baik, serta kekhusyukan dapat menjadi jalan untuk membangun ketenangan hati dan kesehatan jiwa. Tayangan multimedia yang menampilkan gerakan-gerakan shalat turut memperkaya pemahaman jamaah tentang dimensi spiritual dan gerak tubuh dalam ibadah tersebut.
Pesan ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Ankabut ayat 45, bahwa sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Artinya, keberhasilan shalat tidak hanya terlihat ketika seseorang berdiri, rukuk, dan sujud, tetapi juga tercermin dalam kemampuannya menjaga lisan, mengendalikan emosi, bersikap jujur, serta menjauhi perbuatan yang merugikan orang lain.
Melalui kajian ini, jamaah diajak menjadikan shalat sebagai pengingat sekaligus pengendali diri. Ketika panggilan shalat telah usai, semangat untuk berbuat baik seharusnya tidak ikut berhenti. Justru di tengah kehidupan sehari-hari, nilai-nilai shalat diuji melalui pilihan sikap dan perilaku.
Shalat yang baik bukan hanya menghadirkan kita di hadapan Allah lima kali sehari, tetapi juga menjaga agar perilaku kita tetap berada di jalan yang diridai-Nya sepanjang waktu. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments